28 Agustus 2011

Damn! I Love Jakarta*


Jakarta kota kita tercinta! (katanya).
Masihkah kita bangga dengan Jakarta? Banggakah kita dengan kotanya yang semrawut? Yang terkenal sebagai raja macet dan segalanya yang berbau tidak sedap.
Tentu saja kita harus tetap bangga!

Kita tidak bisa mencintai sesuatu hal hanya karena kebaikannya saja, tetapi harus mencintai dari keburukannya juga, karena banyak pekajaran yang bias kita ambil dari situ.
Jangan kalau sudah ada yang buruk-buruk langsung ditinggalkan, seperti fenomena artis dan penggemarnya.
Jadi pemikiran tidak penting dan membuang-buang waktu itu berasal dari sini.
Alkisah pada suatu sore yang asri dan macet saya sedang menaiki bus bernomor dada 79 –Blok M-Lb. Bulus via Terogong.
Terogong yang terletak di wilayah Selatan Jakarta biasanya dihuni oleh para ekspatriat. Tiba-tiba saja pada sore yang asri dan macet itu naiklah seorang bule Amerika dan seorang Thailand. Saya tahu karena saya menguping pembicaraan mereka.

Aneh, mereka tampak girang sekali menaiki bus rombeng itu, pasti tidak ada bus seperti ini di negaranya, kataku dalam hati sok tahu. Mereka ngobrol ngalor ngidul menggunakan bahasa Inggris yang masih mudah saya pahami, mereka tidak segan-segan untuk menanyakan rute bus tersebut kepada penumpang di sebelahnya.

Padahal saat itu wajah penumpang lainnya asem bukan main, penyebabnya  kmacetan yang sangat panjang dari bilangan Blok M hingga lebak bulus, udara yang penuh polusi, serta mungkin saja karena faktor puasa.
Untiung saja saat itu kondisi bus tidak terlalu ramai sehingga tidak ada penumpang yang perlu berdiri. Di saat macet seperti itu sang supir ditingalkan oleh si kenek, sehingga pada saat macet sang supir tidak segan-segan untuk berhenti menyetir dan berjalan ke belakang untuk menagih ongkos penumpang.
Saya yang saat itu sudah cukup kesal dengan kemacetan ditambah habis bertengkar kecil dengan kekasih, akhirnya bisa tertawa meliha tingkah mereka minta dipotret di dalam bus umum.
Hayoo ngaku semua pasti sukanya foto di mobil pribadi atau tempat-tempat yang lagi hip.
Saat itu saya pura-pura saja main handphone agar punya alasan untuk bermain.

Mereka heboh sekali dengan kameranya dan terus saja mengobrol dengan suara yang cukup keras. Sehingga saya yakin ada beberapa penumpang yang sedikit terganggu tetapi tidak berusaha menegurnya.
Kawan, orang luar aja ga malu dengan kondisi Jakara, baik dari segi fasilitas umum dan tata ruang kota. Lalu apa yang bisa dijadikan alasan kenapa kita harus malu? Cintai Jakarta anak muda!.
Rawatlah baik-baik semua fasilitas umum, karena ini akan menguntungkan kita juga.

Dan setelah dipikir-pikir kenapa mereka mau foto dalam bus umum? Tentu saja ini karena posisi mereka sebagai turis, yang ingin foto dimanapun. Sama seperti saya yang senang sekali berfoto dalam kendaraan umum sewaktu berlibur di negeri tetangga,

*mengutip tagline brand clothing Daniel Mananta yang diselingkuhkan sedikit.
Share:

0 comments :

Posting Komentar