21 Oktober 2011

Marketing Oooh Marketing

Hari-hari ku biasanya berjalan dengan adem ayem, tetapi Kamis (20/10) keluargaku dihebohkan oleh tagihan kartu kredit yang tidak pernah di apply dan tagihan internet yang seharusnya sudah diputus.
Untung tagihan kartu kreditnya bukan tagihan yang macam-macam, tatapi hanya tiga macam. Tagihan telepon rumah serta TV kabel dan internet.
Pasalanya selama dua bulan ini mama-ku kepedean bahwa tagihan teleponnya sudah dibayarkan oleh saudaranya,, ehh di balik usut punya si usut ternyata telah dibayarkan oleh si kartu kredit yang tidak memiliki hubungan darah.
Baik sekali ya kartu kredit ini.

Mama ga inget kapan apply untuk auto debit kartu kredit ini, dia hanya ingin meneruskan kepemilikan kartu kreditnya, tetapi tidak minta untuk auto debit seluruh tagihan bulanannya.
Entahlah ini strategi tim marketing atau apa, yang biasanya para IRT menjadi korban empuk mereka.
Tanpa konfirmasi mereka langsung saja melacak dari transaksi pembayaran mama-ku via ATM, berani sekali mereka, apalagi ke dua tagihan yang akan di debet itu bukan atas nama mama-ku tetapi papa-ku. Tidak pakai ba-bi-bu mereka langsung main hajar tanpa melakukan konfirmasi lagi sesudahnya.


Anehnya hal ini bertepatan dengan kejadian tidak masuk akal dari langganan internet di rumahku. Jelas-jelas pada bulan Agustus kami sudah menelepon pihak terkait untuk memutuskan layanan itu. Tidak disangka-disangka pada bulan September ada yang menelepon mengaku sebagai papa-ku, meminta disambungkan kembali lagi layanan tersebut dengan paket yang mahal pula.
Papa ga mungkin nelfon ke sana, apalagi minta paket yang mahal. Katanya mereka akan memberikan bukti track record pembicaraan itu, teteapi sampai sekarang hanya janji yang kami terima.

Kebetulan tampaknya petugas itu salah ketik  nama account langganan kami, dan pada saat saya berbicara dengan call centre, dia mengatakan kalau yang menelepon itu namanya sesuai dengan yang di account.
Kena deh, kalo papa nelepon ga mungkin dia bilang namanya aneh begitu, apa jangan-jangan semua pegawai internet itu pada tuli? :))
Apalagi nomor yang menelepon untuk re-apply itu tidak kami kenal.

Sampai sekarang kedua pihak terkait itu masih melakukan investigasi, saya paham sekali situasi seperti ini biasanya lama prosesnya, kecuali kalo kita sudah hard complaint baru deh diurusin.

Selama satu bulan internet kami tersambung tetapi tidak ada yang menggunakan sama sekali.
Akal-akalan siapa ini? apakah ini akal bulus mereka untuk mendapatkan lebih banyak klien?

Saya jadi ingat sewaktu bekerja dulu banyak sekali korban-korban dari tim marketing yang datang. Ada yang hard complaint karena merasa ditipu, sampai yang mengiba-iba karena tidak sanggup membayar tagihan yang dia pakai.
Rata-rata para korban tidak mengerti penjelasan dari tim marketing saat itu, hanya dengan satu kata GRATIS mereka langsung saja percaya.
Memang tidak semua tim marketing seperti ini, saya yakin ada diantara mereka yang jujur dan tidak akan menggunakan cara-cara licik. Mungkin karena sistem pekerjaan mereka yang dikejar target menjadi pemicu hal seperti ini..

Satu saran dari saya yang sangatlah mudah: WASPADALAH! WASPADALAH!
Share:

2 komentar :

  1. Wah serem juga ya strategi marketing Kartu Kredit. Jd harus makin hati-hati nih.

    BalasHapus
  2. Firman: thanks for visit :) iya hati² tuh biasanya mereka menjelaskan pake bahasa eksplisit :))

    BalasHapus