14 Desember 2011

Cerita Di Balik Situ Gintung

Banyak kabar menyeruak bahwa kawasan Situ Gintung banyak dijadikan ajang kontak jodoh oleh sebagian pengunjung, seperti pelajar sekolah, mahasiswa maupun pekerja. Kabar ini tidak asal-asalan dan juga tidak dari narasumber yang sembarangan. Bukti-bukti pun juga telah banyak ditemukan. Menyedihkan! Situ yang indah dijadikan tempat untuk hal yang bersifat dosa besar. Saya sendiri memang belum pernah melihat dengan mata sendiri, sulit untuk memercayainya kalu belum melihatnya sendiri.

Matahari nama samarannya, iya adalah salah seorang sukarelawan penjaga Danau Gintung. Ia memang banyak bercerita, terlalu banyak bercerita hal yang tidak indah. Dikatakan setiap malam minggu kawasan ini akan ramai sekali oleh pemuda-pemudi, dari sore hari, hingga Sang Surya tenggelam dan menampakkan dirinya kembali. Sayangnya bukan beramai-ramai mengerjakan hal positif, tetapi kebalikannya 360 derajat. Tidak berani Saya mengungkapkannya secara vulgar apalagi belum ada bukti atau fakta yang kuat.

Apakah kalian ingat bahwa dulu pernah digosipkan tanggul ini muntah karena banyak dipakai sebagai lokasi bermesraan. Diumpamakan tanggul ini marah dan ingin memberi pelajaran. Tetapi bukankah hal ini terlalu mengada-ada? Matahari menyatakan kalau hal itu adalah benar, karena keesokan paginya iya suka menemukan sampah-sampah berupa alat kontrasepsi bekas pakai. Bayangkan saja apa yang pengurus itu rasakan melihat hal ini, seperti dilemparkan kotoran ke mukanya.

Saya sendiri memang belum berani memastikan kebeneran ceritanya. Karena kebenaran itu menyakitkan bukan?

Menurut beberapa sumber hal itu kerap sekali terjadi setiap hari dan puncaknya pada malam minggu. Mereka datang dari berbagai kawasan, seperti Ciputat, Ciledug, bahkan sampai Bekasi. Biasanya sore hari mereka berkenalan dan janjian untuk bertemu malamnya lalu tidak tahu bagaimana kelanjutannya sesudah Si Pencerah bersembunyi. Tutup mata sajalah. Sebenarnya tempat itu sudah diberikan penerangan semaksimal mungkin, tetapi ada saja tangan nakal yang memotong aliran listriknya atau mencuri lampunya.

Kenapa tempat yang harusnya indah ini dijadikan sebagai lokasi pelepas hawa nafsu?
Hei ini Indonesia bung! Kalian pikir sedang berada di mana? Las Vegas?
Perih Saya mendengar ceritanya. Tampaknya tidak hanya sekedar bermesraan yang dilakukan mereka tetapi lebih. Pengurus ini pernah memergoki hal itu, bahkan diceritakan sekarang ini tidak perlu dipergoki lagi tetapi mereka melakukannya di tempat terbuka secara massal!

Ironis sekali, memang tidak ada ya tempat yang lebih cocok selain di tempat umum? dan kenapa rata-rata mereka yang masih usia pelajar menjadi tokoh utamanya? Apa mereka kurang edukasi tentang hal ini? Tidak belajar agama di sekolah? Kurang pehatian keluarga? Atau kurang sadar diri?
Mereka juga biasa mabuk-mabukkan dulu sebelumnya di sana. Mungkin ini pemicunya karena otak mereka yang sudah kusut.
Mereka melakukan hal ini tidak hanya di sekitar danau tetapi sampai ke hutan pohon pisang dekat sana. Matahari pernah memergoki hal ini, dan mereka tidak merasa bersalah atau apa malah merasa terganggu.

Matahari juga bercerita bahwa para petugas berwenang seperti Satpol-PP maupun polisi daerah sudah angkat tangan dan tidak mau tahu. Bukankah ini juga tanggung jawab para petugas? Mereka kan harusnya jadi penerus bangsa. Kalau dari dini mereka sudah mengorupsikan diri mereka sendiri, bagaimana dewasanya?
Benahilah diri kalian masing-masing lalu orang lain, berpikirlah panjang sebelum melakukan sesuatu, karena waktu tidak bisa diulang dan hanya akan ada buah sesal dari perbuatan kalian sekarang. Percayalah kawan. Jangan bertindak mengikuti hawa nafsu, gunakanlah pikiran yang jernih dan jauh melihat ke massa depan. Perjalanan kalian masih panjang.
Share:

0 comments :

Posting Komentar