8 Oktober 2013

Pasaraya: Sebuah Nama, Sebuah Cerita

Tulisan ini hanya bermaksud untuk sekedar berbagi cerita tanpa ada maksud menilai untuk menjatuhkan pihak manapun, serta hanya sebagai catatan kecil tentang sedikit perjalanan karir saya.

Enjoy!

Dimulai pada awal Tahun 2012, secara sembarangan saya melampirkan berkas-berkas CV dan Surat Lamaran di sebuah Bursa Kerja di kawasan Blok M. Salah satu tempat beruntung yang mendapatkan berkas tersebut adalah PT. Pasaraya Tosersajaya. Pada saat itu juga secara langsung disampaikan oleh mba-mba penjaga stand untuk langsung datang ke interview pada esok hari yang berlokasi di Pasaraya Grande Blok M. Dengan bodohnya sempat terbersit pikiran kalau Dept. Store tersebut masih ramai pengunjung.

Konon tempat ini pernah mengalami masa yang sangat jaya, yaitu sebelum meningginya tingkat persaingan dan perkembangan dari Dept. Store lain, mall-mall baru yang menggerogoti Jakarta dengan berbagai konsep yang fresh dan chick, juga jauh sebelum Yth. AL-Latief (owner & founder) mencoba mengembangkan sayapnya di dunia broadcasting. Mendirikian sebuah stasuin televisi bernama La-Tivi yang sekarang sudah menjadi TV One. Gosipnya bisnis TV ini yang menyerangnya balik perusahaannya di bidang retail.

Setahun pas saya menjadi buruh kasar di tempat ini. Melalui proses wawancara yang cukup cepat dan mudah menurut saya. Sangat disayangkan saya dapat penempatan yang jauh sekali yaitu di cabangnya Pasaraya Grande (Grade: A) yaitu Pasaraya Manggarai (Grade: B). Dengan alasan cabang membutuhkan tenaga kerja baru lebih banyak, akhirnya saya menerima tawaran mereka walaupun jelas sekali terliha t jarak akan menjadi kendala ke depannya.

Dengan penawaran gaji yang pas-pasan, saya mencoba untuk terjun ke dunia retail, dimana saya sama sekali buta akan dunia ini. Namun karena program yang saya ambil adalah Management Trainee (MT) yang seHARUSnya kita akan melalui proses training/pembelajaran selama kurang lebih setahun dan akan difokuskan serta dilatih untuk menjadi seorang manager. Memang dari awal proses wawancara sudah dijelaskan bahwa program MT di sini berbeda dengan di tempat lain, namun tidak dijelaskan secara spesifik dimana letak perbedaannya, kami hanya diberikan gambaran secara kasar.

Hari pertama bekerja saya bersama dua orang teman perempuan dan satu orang laki-laki asal Medan melakukan perkenalan diri dihadapan seluruh karyawan di Pasaraya Grande. Setelahnya kami memasuki sebuah ruangan meeting kecil, yang ternyata adalah dealing room untuk bagian HRD. Di tempat itu kami diberikan gambaran kasar mengenai sejarah dan proses berdirinya Dept. Store ini. Dimulai dari berusaha untuk berjaya, mengalami masa kejayaan sampai mengalami penurunan drastis dan terus berusaha merangkak bertahan hingga saat ini. Menghadapi derasnya arus persaingan ketat dari Retail lain, selusin mall baru yang tumbuh pesat di daerah ibu kota dengan konsepnya masing-masing.

Selanjutnya kami bertiga langsung berangkat menuju Manggarai menggunakan kendaraan umum, teman perempuan yang satu lagi beruntung mendapatkan penempatan di Grande. Pas sekali adzan dzuhur kami tiba di TKP, dan langsung menuju lantai tujuh, setelah sebelumnya sempat nyasar karena petunjuk lift yang tidak jelas, serta tidak menemukan bagian informasi karena kami memang masuk dari pintu samping.  Akhirnya berkat hasil bertanya dari seorang kasir di lantai 5 kami berhasil mencapai lt. 7, pada saat itu kebetulan kami juga tidak menemukan adanya sosok Security yang seharusnya berseliweran menjaga Mall.

Lalu kami menemui HRD Staff, berkenalan-bersalaman, diberikan kupon makan dan kami langsung menuju kantin karyawan. Jam Satu kami kembali ke HRD dan diajak jalan-jalan ke setiap lantai Pasaraya Manggarai, berkenalan dengan seluruh Operasional Staff. Saya ditempati di Lantai Satu, bagian Ladies Fashion & Apparel. Sahabat satunya ditempatkan di Lantai Dasar memegang bagian Ladies Bag & Apparel dan yang laki-laki satunya ditempatkan di lantai 3 bagian Man Fashion.

Di ruangan kerja saya melihat ada satu wanita cantik dengan kisaran umur 26-28 tahun yang ternyata adalah Supervisor (SPV) saya. Lantai 1 itu kebetulan tidak memiliki manager, hanya ada Assistant Floor Manager (AFM) yang dari raut wajahnya saya menilai bahwa dia lebih tegas dibandingkan SPV yang tadi. Walaupun si AFM baru menjabat selama tiga bulan dan si SPV sudah lebih lama bekerja di tempat itu sekitar 2-3 tahun. Ternyata tidak hanya di lantai 1, tetapi lantai lainnya juga banyak posisi yang masih kosong.

Beda dengan dua teman yang lainnya, pada hari pertama saya sudah langsung sibuk, kebanjiran stock barang yang baru datang dari China dan Bangkok. Tanpa sebelumnya saya mendapatkan penjelasan yang detail, saya hanya diperintah untuk mendisplay barang tersebut bersama Sales Assistant (SA). Dengan pengetahuan seadanya saya mendisplay barang tersebut serta menetukan layout nya sendiri. Saya bertanya-tanya memangnya tidak ada bagian layout design-kah di sini? Menyerahkan sepenuhnya kepada karyawan baru yang masih sangat hijau untuk mengatur?? Mungkin segitu hebatkah Saya diberikan kepercayaan sebesar ini? Hanya Tuhan dan pimpinan cabang ini yang tahu jawabannya.

Ya itulah kesan di hari pertama bekerja yang tidak akan pernah saya mau melupakan. Keesokannya kami mendapatkan sedikit pelatihan tentang sejarah Pasaraya (lagi) dan sedikit ilmu leadership. Kami sebagai MT di bertanggung jawab untuk memimpin dari SA Own Merchandise Division (OMD). OMD adalah barang-barang yang sudah menjadi hak milik Pasaraya, yang akan di branding dengan brand lokal Pasaraya. SA OMD ini rata-rata adalah remaja yang baru lulus SMA yang sedang sangat labil dan rata-rata mereka adalah fresh graduate. Jadi mungkin bisa sedikit dibayangkan sulitnya mengatur anak-anak ini.

Mungkin konsepnya sedikit mirip dengan Matahari dept. store menggunakan brand lokal yang saat ini sudah sangat terkenal seperti Nevada. Perbedaannya adalah jika Matahari menggunakan tenant-tenant lokal, pasaraya menggunakan produk import dari Negara-negara tetangga. Sangat berbanding terbalik dengan tagline Pasaraya Grande: “The Pride of Indonesia”. Memang sih yang masih menjadi andalannya adalah produk asli Indonesia seperti berbagai macam kerajinan batik dan traditional furniture Indonesia  untuk pajangan rumah dari berbagai macam provinsi di Indonesia yang harganya dijual berjuta-juta rupiah.

Seiring berjalannya waktu Saya mulai memahami konsep retail ala Pasaraya. Saya tidak mendapatkan banyak pelatihan dan langsung On Job Training (OJT), mengeluarkan segala kreativitas dan kemampuan yang ada. Selama di sana saya lebih banyak menghadiri meeting daripada training. Membosankan sekali meeting yang memakan waktu berjam-jam, membicarakan konsep-konsep, evaluasi omzet, income dan stock barang di setiap divisi. Pesertanya mulai dari Floor Manager (FM) sampai MT wajib mengahdiri meeting rutin tersebut, dipimpin oleh Kepala Cabang dan terkadang digantikan oleh Deputy.

Banyak kisah yang tidak mungkin saya ceritakan secara detail di sini dan itu juga merupakan rahasia perusahaan, sebagai karyawan teladan saya tidak akan membeberkannya *angelsmile*. Yang membuat betah adalah suasana kekeluargaan yang tidak saya dapatkan di tempat lain, bisa dibilang itu adalah zona nyaman saya selama bekerja. Saya mengabdi, bekerja keras walaupun upahnya sangat minim, namun tetap saya bertahan karena saya percaya ini adalah ilmu dan akan bermanfaat nantinya bagi saya pribadi.

Sedikit gambaran tentang jam kerja di sini, terbagai dalam dua shift. Shift I jam 8.30 s.d 16.30 WIB dan shift II pukul 14.00-22.00 WIB. Saya selalu terlambat jika kebagian Shift I, padahal sudah berangkat dari jam 06.00 menggunakan Kopaja P-20 (saat itu belum tersedia yang AC via jalur Transj). Sedih sekali selalu telat setiap hari, kecuali jiga lagi kebagian Shift I pada saat akhir pekan, karena seperti yang kita ketahui kondisi jalanan akan menjadi sangat lengang, sangat berbeda pada hari biasa.

Saya menyebut jalan yang biasa saya lalui yaitu sepanjang Wr. Buncit hingga mampang menorobos kuningan sebagai “Jalur Setan”, macet total dan bermeter-meter macetnya, entah kenapa setiap pagi harus seperti itu. Ditambah berdiri berdesakan dalam bus kota, sampai kantor tepar. Jika masuk shift II kendalanya adalah di jam pulang, karena sudah malam dan ibu kota menjadi lebih rawan, terutama Mama saya yang khawatir maksimal. Saya pribadi tidak masalah karena saya termasuk kategori cewe maco, hehe, gak takut sama orang tetapi sama Setan. Haha.

Begitulah sedikit kondisi saya selama setahun kemarin, perjuangan yang tidak seberapa dan memang dianggap tidak seberapa oleh perusahaan, dan hal itu dibuktikan di awal tahun 2013. Sebelumnya memang sudah banyak terdengar issue mengenai pengurangan karyawan, dan ternyata saya adalah salah satunya. Kontrak satu tahun sudah hampir habis, beberapa teman saya banyak yang diputus sepihak begitu saja, beberapa juga ada yang lebih memlih resign. Mereka lebih memilih untuk memberdayakan fresh graduate yang bisa dibayar lebih murah daripada memanfaatkan dan mengembangkan tenaga yang sudah ada yang akan meminta kenaikan gaji jika ada perpanjangan kontrak.

Kasarnya dan sangat disayangkan perusahaan ini memakai tingkat kedisiplinan dan abesensi karyawan sebagai alasan. Karyawan yang sering terlambat walau hanya beberapa menit saja akan menjadi masalah besar, namun bila kami bekerja ekstra atau Over Time (OT) tidak ada yang namanya upah lembur atau menjadi pertimbangan dalam hal absensi dan kedisiplanan karyawan. Hanya ucapan “terimakasih” dari mesin absen yang kami dapatkan. Kinerja kerja karyawan selama setahun hanya ditentukan dari “JEMPOL” saja.
Hal ini tidak hanya berlaku bagi karyawan kontrak, tetapi juga berlaku bagi mereka yang telah mengabdi selama bertahun-tahun dengan status karyawan tetap. Perusahaan seperti mencari-cari alasan untuk menyingkirkan mereka dan menggunakan system pembayaran pesangon yang kurang transparan. Sungguh menyedihkan kami dibuang seperti sampah, khususnya saya diberikan informasi ini secara langsung dan resmi hanya dua minggu sebelum masa kontrak berakhir. Terus terang saya cukup kaget apalagi cara deputy itu menyampaikan hal ini sangatlah tidak professional dan setelahnya memberikan harapan-harapan kosong yang sangat tidak saya butuhkan.

Saya berpikir bagaimana sebuah perusahaan yang dipimpin dan dimiliki oleh mantan Menteri Tenaga Kerja pada Era Orde Baru bisa memperlakukan karyawannya seperti ini? Bahkan SPV saya pernah dirumahkan terlebih dahulu saat masa kontrak dua tahunnya habis dan sebulan kemudian dikontrak lagi. Perusahaan tidak bisa mengangkat karyawan tetap.  Menyedihkan sekali kondisi dari perusahaan yang pernah mengalami masa yang sangat jaya.

Tragedi ini tidak berakhir begitu saja, setelah diperlakukan dengan sangat tidak hormat saya masih harus menyelesaikan tanggung jawab untuk mengganti merchandise-merchandise yang hilang, entah karena dicuri atau terselip di gudang. Kemungkinan dicuri memang benar adanya, karena mall ini tidak memiliki CCTV, jumlah SA yang sangat minim-tidak sebanding dengan besarnya area penjualan, kondisi mall yang sepi pengunjung, security yang suka menghilang dari pos penjagaan, serta banyaknya “anak singkong” dan “sindikat pencurian” berkeliaran. Saya akhirnya dibebankan untuk mengganti barang hilang dengan nominal yang cukup banyak dan memeberatkan untuk saya yang akan menjadi seorang jobless. Namun perusahaan tidak mau tahu dan tidak memberikan keringanan bahkan rasa iba sama sekali. Dan saya juga terlalu angkuh untuk meminta keringanan dari pemimpin diktator seperti mereka.

Bila saya mencari-cari alibi, bisa saja saya menyalahkan kondisi di gudang yang sangat minim perlengkapannya untuk menyimpan running stock secara layak. Sehingga banyak barang yang tidak terdeteksi saat melakukan Stock Opname. Sudah sering sekali pada saat meeting saya mengajukan untuk disediakan peralatan-peralatan pendukung di gudang, agar merchandise tersimpan dengan baik dan tidak merusak kualitasnya. Tetapi pada akhirnya saya juga yang harus menanggung tanggung jawab paling besar.
Sampai saat ini kabar yang saya dengar adalah pengurangan karyawan terus terjadi, dalam setahun mereka bisa memberhentikan lebih dari 10 karyawan. Sungguh GILA! Mau segiat apapun kita bekerja itu tidak akan pernah dinilai oleh perusahaan, hanya JEMPOL yang berbicara di sini. Begitulah sistem manajemen perusahaan yang ada saat ini pada era yang sudah maju.

Kita lihat saja nanti bagaimana nasib Dept. Store ini ke depannya, apakah bisa merebut kembali masa jayanya di antara persaingan dunia retail yang tumbuh secara kompetitif? Tampaknya tidak jika pola manajemen perusahaan tidak berubah serta perlakuan tidak hormat kepada karyawannya terutama bagi mereka yang sudah sangat loyal tetap terjadi di kemudian hari. Namun sebagai mantan karyawan yang telah mendapatkan banyak ilmu di tepat itu, saya mendoakan yang terbaik atas kejayaan Pasaraya.

Jadi, Salah satu segi positif yang bisa diambil adalah jika tidak diperlakukan seperti ini mungkin selamanya saya tidak akan pernah berani meninggalkan zona nyaman saya dan tidak akan pernah berhasil menemukan zona nyaman lainnya, seperti saat ini.
Share:

11 komentar :

  1. Outsourching.. Yaya semacam itu. Putus kontrak lanjut lagi. Begitulah fenomena yang terjadi. Aku baca kilat yang di atas, Aida ditempatkannya di mana?

    BalasHapus
  2. Baru liat gw komennya haha
    Di operasional

    BalasHapus
  3. apakah aida islamie msh bekerja dipasaraya manggarai jakarta? ataukah sudah pindah kerja/ malah skrg thn 2015 pengangguran????

    BalasHapus
  4. apakah aida islamie msh bekerja dipasaraya manggarai jakarta? ataukah sudah pindah kerja/ malah skrg thn 2015 pengangguran????

    BalasHapus
  5. Wah saya baru diinterview. Terimakasih. Bisa dijadikan bahan pertimbangan nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah mampir ke sini Lifa. Tetapi tulisan ini sudah dari 2013, jadi tidak tahu ya sekarang mungkin sudah berbeda sistemnya :)

      Hapus
  6. Selamat pagi/siang/sore/malam,
    sangat menarik ini.. bolehkah saya minta kontak aida?saya tertarik untuk bertanya beberapa hal. terimakasih yah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. boleh,, silahkan tinggalkan email nya di sini ya. Terima kasih.

      Hapus