28 Oktober 2016

Uber -Your Own Private Driver-

Ini adalah salah satu pengalaman terburuk gw bersama pengemudi Uber. Setau gw tagline mereka itu adalah "Your Own Private Driver" yang artinya kita membayar mereka sebagai supir pribadi yang akan kita gunakan selama beberapa jam ke depan. Uber tidak mau mengklaim dirinya sebagai taxi, armada-nya menggunakan mobil biasa,  plat hitam, ya seperti mobil pribadi saja. Jadi seharusnya kan hubungan antara penumpang dan pengemudi lebih personal, mereka juga biasanya sudah dilatih atau setidaknya diberikan arahan dengan baik sebelumnya, sikap mereka juga biasanya lebih ramah daripada supir taxi biasa dan juga lebih baik juga cara mengemudinya. Gw termasuk pengguna Uber yang cukup setia, sudah semenjak kisaran tahun 2013/2014, mungkin itu adalah saat-saat pertama kemunculan mereka.

Tentunya banyak pengalaman mulai dari yang menyenangkan, biasa saja sampai ke yang menyebalkan. Berbagai sifat dan watak dari pengemudi, dari yang bawel sampai pendiam, dari yang suka curhat sampai suka ngedumel, terkadang karena pembicaraan yang terlalu panjang gw suka gak paham mereka itu sudah tahu belum tujuan atau arah jalan gw mau kemana. 

Sekarang yang akan gw ceritakan adalah pengalaman yang paling menyebalkan bersama pengemudi Uber, bisa dibilang gw juga sangat kecewa, ternyata ada pengemudi yang sangat tidak profesional dan tidak punya sopan santun di Uber.

Malam itu gw memesan Uber dari bilangan Mall Kelapa Gading 3 sekitar pukul 22.00 dengan tujuan ke Ciputat. Beberapa kali memesan, ada pengemudi yang tidak bisa dihubungi sampai ada yang minta cancel setelah tahu tujuan lokasi gw yang cukup jauh. Malam itu gw memang menggunakan Uber Pool dan gw sangat bersyukur akan hal ini. Karena kalau tidak berapa biaya yang harus dikeluarkan malam itu untuk suatu rute perjalanan yang sungguh sangat tidak masuk akal.

Jadi sebut sajalah pengemudi gw malam itu dengan nama samaran Budi. Saat pertama kali menaiki mobil,  Budi cukup ramah dan agak sedikit bawel. Menanyakan gw baru pulang kerja atau pulang main, kok mainnya jauh banget dari rumah dll. Gw sih sudah biasa dengan pertanyaan-pertanyaan itu, karena rata-rata itu yang akan ditanyakan oleh pengemudi. Sebelum ngobrol basa-basi Budi sudah menanyakan dengan lantang bahwa apa benar tujuan saya ke Ciputat dan gw menanggapi dengan 'iya pak, keluar tol Pondok Indah ya, nanti pindah ke JORR Simatupang". Dari nada-nya membalas, gw menilai kalau dia sudah tahu jalan,  kalau memang  tidak tahu jalan seharusnya dia meminta bantuan navigasi dari penumpang sedari awal

Malam itu gw sudah agak mengantuk dan agak tidak fokus memerhatikan jalan. Hanya merem sebentar lalu saat membuka mata tiba-tiba ada di persimpangan jalan dengan plang hijau bertuliskan arah kanan ke Pondok Indah dan kiri ke Cawang. Sontak gw langsung melek karena pengemudi terus saja mengambil lajur kiri dan berkata sedikit kencang agar pengemudi segera mengambil lajur kanan. Menurut gw kalau pengemudi segera menurunkan laju kendaraannya, lajur kanan itu masih bisa diambil. Namun dia terus saja menyetir dengan kecepatan yang sama dan mengambil belokan ke kiri. Gw gak paham, kalau dia gak tau jalan dia seharusnya memerhatikan GPS atau rambu-rambu petunjuk arah atau bisa juga kan bertanya ke penumpang. Bukannya sok tahu seperti ini.

Sontak gw langsung kesal, tetapi masih bertahan dan hanya bisa diam. Gw orangnya bingung arah, gw gak tau jalan lain lewat mana, gw gak tau lebih bagus lewat Cawang, atau keluar di Semanggi atau bagaimana. Pengemudi ini juga sama sekali tidak membantu. Hari sudah malam, capek dan masih disuruh mikir jalan, kalau gw harus mikir jalan ngapain gw naik Uber. Akhirnya malam itu jadilah gw muter-muter mengambil rute yang sangat jauh. Dari Utara ke Barat lalu ke Selatan (bisa dilihat di foto maps di bawah), berasa bodoh banget malam itu. Juga ada perasaan was-was kalau pengemudi ada niat tidak baik. Pokoknya malam itu sudah kesal banget tapi gak bisa juga langsung ngomel gitu aja ke pengemudi, cuma bisa ditahan.





Yang paling menyebalkan pengemudi ini tidak punya sopan santun sama sekali. Tidak ada kata-kata MAAF terlontar dari mulutnya setelah salah jalan. Oh iya, buat gw MAAF dan Terima kasih itu sangat penting.  Mendadak dia bisu dan tuli juga mungkin, yang tadinya bawel nanya ini itu langsung diam dan tidak merespon sama sekali setiap gw bertanya. Bikin tambah kesal aja.

Akhirnya setelah perjalanan yang panjang dan melelahkan sampai-lah gw di dekat rumah, gw gak berani turun di depan rumah persis, agak sedikit menjauh, hanya untuk jaga-jaga saja. Namun, pengalaman buruk ini belum berakhir, untuk pertama kalinya gw ketinggalan barang di mobil Uber. Biasanya gw selalu double check jika akan turun Uber dan pengemudi yang baik biasanya juga mengingatkan penumpang agar mengecek barang-barangnya lagi. Tetapi malam itu yang ada di pikiran gw cuma segera cepat-cepat turun dari mobil. Hasilnya, 1 botol parfum yang baru dibeli malam itu sukses tertinggal di mobil dan gw baru ingat setelah 30 menit sampai di rumah. Langsung gw hubungi si pengemudi dan mendapatkan respon. Pertama diputuskan untuk diantarkan esok harinya menggunakan gojek, namun ternyata tidak bisa karena jarak yang terlalu jauh. Akhirnya gw minta diantar saja oleh si pengemudi jika sudah ada waktu, tentunya akan gw berikan tips atas pertolongannya walaupun rada tidak ikhlas karena sudah kesal sama pengemudi.

Esok harinya, saat janjian awalnya berjalan baik namun lama kelamaan pengemudi ini mulai menyebalkan dan tidak sopan. Juga tidak ada rasa bersalah sama sekali, karena kondisi gw ini kan, selain karena kelalaian gw sendiri, juga sedikit banyak akibat dia yang tidak profesional menyetir. Bikin pusing, jadi gak fokus *nyari kambing hitam*. Padahal masih anak muda, tapi segitunya banget gak tahu jalan dan tidak bisa berkomunikasi dengan baik. Akhirnya karena capek sudah menghabiskan waktu seharian untuk janjian dengan pengemudi ini, gw ikhlaskan saja untuk dia parfumnya, kali aja parfum itu bisa membuat hatinya menjadi lebih wangi. Gw sudah gak tahan untuk berurusan sama pengemudi yang gak punya sopan santun ini dan tidak ada rasa ingin membantu sesama sama sekali. 

Gw berharap Uber bisa lebih selektif dalam mempekerjakan mitra pengemudi dan memberikan pelatihan yang layak. Karena selama ini gw gak terlalu banyak pengalaman aneh dengan Uber, walalupun terkadang ada saja pengemudi yang menyebalkan tetapi semuanya masih bisa diatasi. Biasanya gw rajin memberikan feedback ke Uber saat akhir perjalanan, baik karena alasan puas maupun tidak. Di kasus ini sudah jelas gw memberikan feedback tidak puas dengan kronologi yang detail tetapi setelah beberapa hari kemudian gw mendapatkan tanggapan dari Uber dan tidak puas dengan hasilnya. 

Sekarang tanggapan dari Uber seperti terlihat sekedarnya saja, dulu pernah saat di Bandung gw mendapatkan pengemudi yang tidak sopan (nada mengancam, suara keras), ingin memainkan argo dengan berbagai macam alasan, tetapi karena gw orangnya gak takutan sama manusia model begini ya gw tanggapin aja omongan dia dan nanyain alasannya, setelah itu gw iya-iyain aja. Intinya, dia minta tips yang besar, ya gw kasih aja apa yang dia mau daripada debat lama-lama sama orang gak penting, lalu kasih feedback dan akhirnya Uber bertanggungjawab dengan memberikan deposit untuk perjalanan berikutnya.  Pernah juga mendapatkan pengemudi yang juga salah mengambil jalan di tol lalu mobilnya mogok di pintu tol, akhirnya terpaksa gw jalan kaki keluar tol. Lalu, gw memberikan feedback dan dikasih free trip untuk perjalanan itu. Intinya bukan gw ngarep dikasih gratisan lagi (dikit sih) tetapi jadi terlihat image Uber yang dulu lebih baik dari sekarang dalam merespon keluhan pelanggannya.




Share:

2 komentar :