27 Januari 2017

Ujung Kulon

Di Ujung Kulon, Banten terdapat banyak pulau yang cantik dan juga pulau lainnya yang lokasinya agak tersembunyi serta memerlukan perjuangan ekstra untuk mengunjunginya. Jarak tempuh yang cukup jauh dan terpencil itulah yang mungkin masih menjadi faktor penjaga keindahan alami pantai tersebut.

Pada tanggal 23-25 Desember 2016 gw bersama kakak dan teman-teman mengikuti open trip dari travel yang tidak gw rekomendasikan ngetripmulu.com, nanti akan diceritakan alasannya. Kami berencana untuk snorkeling di Pulau Peucang dan Badul, lalu ke Padang Rumput Cidaon dan ke Pulau Handeleum untuk bersampan di Sungai Cigenter.

Travel yang kami gunakan saat itu memang tidak cukup memuaskan, karena dari awal perjalanan saja mereka sudah mengecewakan. Pertama, saat kumpul di meeting point Plaza Semanggi waktu keberangkatan sudah sangat terlambat. Direncanakan berangkat pukul 21.00 tetapi mundur sampai pukul 24.00 dikarenakan bus pariwisata kondisinya tidak prima, seharusnya kan sudah dicek jauh dari sebelum waktu keberangkatan. Akhirnya kami terlunta-lunta di pelataran Plaza Semanggi, sampai akhirnya diminta  dengan baik oleh security untuk menunggu di tempat lain karena hari sudah malam sekali. Selama perjalanan menuju desa Sumur gw habiskan dengan tidur dan yang gw sesalkan adalah kenapa tidak kepikiran untuk membeli obat anti mabok sebelumnya. akhirnya kami tiba sekitar pukul 07.00 di Desa Sumur.

Setelah mendaratkan kaki di rumah Captain Komodo, kapten kapal kami yang membuat perjalanan jadi menyenangkan, kami disuguhkan sarapan nasi uduk dan segera setelah selesai sarapan kami berjalan kaki ke pantai untuk menyeberang naik kapal ke Pulau Peucang. Ternyata waktu tempuhnya lama sekali sekitar 3-3.5 jam dan saat itu cuaca sedang tidak bersahabat dan ombak cukup tinggi, alhasil gw sukses jackpot dua kali. Di saat inilah gw sangat merindukan antimo dan mengutuk kebodohan gw karena gak kepikiran sama sekali untuk membelinya. Sepanjang perjalanan di kapal gw pusing parah dan bener-bener gak bisa menemukan posisi yang nyaman. Untung kantong plastik selalu tersedia.

Tepian pantai di Desa Sumur

Tempat menyeberang kapal di Desa Sumur


Akhirnya sekitar pukul 11.00 kami tiba di Peucang dan juga masih disambut dengan hujan deras, kami berlari menuju penginapan yang sangat jauh dari kata layak. Hal kedua yang membuat kami kecewa dengan travel ini. Kami heran kenapa diberikan fasilitas penginapan seperti ini, apakah memang biaya kami untuk paket yang sangat tidak layak ini. Setelah beberes dan beristirahat kami kembali menuju kapal, dan oleh Omen travel guide dari ngetripmulu.com kami diberikan pilihan untuk trekking di sekitar Honje atau langsung snorkeling, kami memilih pilihan yang kedua, entah karena memang kami pemalas semua untuk jalan kaki atau oh mungkin karena hujan, takut jalanan licin dan jadi berbahaya. Hal ketiga yang membuat kami paling kecewa dengan travel ini adalah tidak adanya inisiatif dari guide untuk membuat trip ini menjadi lebih menyenangkan dan nyaman.



Panorama Pulau Peucang


Tiba di snorkeling spot, kami langsung nyebur setelah diberikan beberapa pengarahan. Mungkin karena faktor cuaca yang tidak mendukung, pemandangan alam bawah laut tidak terlalu terlihat keindahannya dan sayang sekali banyak batu karang yang mati, mungkin sebagian besar juga karena snorkel amatir seperti kami yang tanpa sadar suka menginjaknya. Saat itu hujan masih turun dan kami terus snorkeling berharap akan menemukan ikan-ikan cantik dan coral reef yang menggoda mata. Tapi usaha kami tidak terlalu sukses, jadi setelah beberapa jam kami kembali ke kapal karena hari juga sudah mulai sore. 




Setelah bebersih di penginapan gw dan teman-teman kembali ke kapal, karena memang suasananya lebih nyaman di kapal daripada di penginapan dan kapten kapal juga cukup baik. Sesudah melahap bersih satu mie instan, ngobrol-ngobrol dan mendengarkan lagu gw pun langsung terlelap di kapal, emang dasar pelor. Ternyata yang lain pun juga ikut tertidur dan bangun-bangun gw kaget karena banyak kecoa kecil berkeliaran di badan kapal di atas kepala gw, dan  tas gw yang ternyata terbuka resletingnya dimasuki oleh kecoa-kecoa kecil. Panik dan langsung kabur dari kapal. Dari awal tidur ternyata gw sudah diketawain oleh mereka katanya bisa aja gw tidur banyak kecoa begitu, lah mana gw tau kalau ternyata kecoa aja mau deket-deket sm gw.

Makan malam pun siap dihidangkan, kami santap dengan sukarela dan hati yang berbahagia. Masakan karya captain  yang juga bisa beralih profesi menjadi chef ini cukup enak, namanya lelaki yang biasa hidup di atas kapal jadi ya harus terbiasa untuk bisa masak. Dua sampai tiga jam waktu sudah berlalu di kapal, lalu kami kembali ke penginapan dan gw sudah berencana untuk langsung tidur. Ternyata ada ajakan bermain kartu di penginapan dekat situ, gw iya-iyain aja tanpa ada niatan untuk benar-benar datang. 


Esok hari, pagi-pagi kami sudah beres packing dan menaikkan barang-barang ke kapal. Sambil sarapan di kapal, kami berangkat ke Cidaon untuk berkeliling di padang rumput yang konon katanya kami bisa melihat hewan-hewan liar secara dekat, seperti sapi, banteng, kerbau, bahkan terkadang ada badak bercula satu. Namun yang kami lihat hanya kotoran-kotoran hewan tersebut,, yaa mungkin sapi. Ternyata sudah lama kata penduduk sekitar hewan tersebut tidak terlihat, sangat susah ditemui saat ini. Akhirnya kami bermain-main dan berfoto-foto saja di Cidaon. 




Dilanjutkan dengan perjalanan ke Handeleum untuk bersampan di Sungai Ciganter. Sejujurnya bersampannya biasa-biasa saja, tidak ada pemandangan yang terlalu menarik, ya mungkin keindahan sudah tidak seperti dulu, seperti keindahan yang dulu pernaha ada.




Lanjut kami mampir di pulau Badul untuk snorkeling, tadinya gw dan teman-teman udah malas untuk basah-basahan lagi. Tetapi saat melihat birunya laut dan cuaca yang cerah gw langsung mengurungkan niat gw. Ternyata di Badul baru saja dilakukan coral reef recovery, jadi batu karang tersebut baru ditanam kembali untuk terus menjaga dan mengembangkan keindahan biota di bawah laut. Ikan-ikan di pulau tersebut juga lebih banyak dan lebih cantik. Di dekat Badul, ada pulau kecil yang gw kira bisa dicapai dengan berenang, ternyata belum ada separuh perjalanan gw udah ngos-ngsoan dan langsung balik kanan siap grak. Setelah puas, kami kembali naik ke kapal dan segera melanjutkan perjalanan pulau ke Desa Sumur. Di perjalanan pulang ini gw sukses nggak jackpot, mungkin karena banyak singgah di beberapa tempat, sehingga perjalanan jadi terasa lebih menyenangkan.




Perjalanan menuju Jakarta menggunakan bus pariwisata yang sama saat kami berangkat, lalu kami makan malam di restoran lokal pinggir jalan dan sudah tidak termasuk biaya dari travel ini. Sekitar pukul 24.00 kami tiba di Plaza Semanggi dan langsung kembali ke rumah masing-masing.




Share: