27 Agustus 2017

My Treatment History for Acne(s) and Sensitive Skin

Tenaang pemirsah,, blog ini belom berubah jadi beauty blog kok dan gw belom jadi beauty blogger karena kan ya gw gak beauty2 amat..hehe

Jadi cerita ini tentang kulit wajah gw dan dialami oleh hampir semua cewek yang memiliki tipe kulit sensitif, yaitu jerawat dan iritasi. Karena rata-rata jerawat berlokasi di wajah dan terlihat jelas oleh orang lain, terkadang menjadi problematika yang cukup pelik bagi sebagian orang. Baik memiliki pengalaman berjerawat atau break out saat remaja maupun dewasa, mampu melunturkan kepercayaan diri seseorang. Hal ini juga terjadi sama gw tetapi Alhamdulillah tidak membuat gw 100% minder, karena gw percaya bagaimanapun juga inner beauty itu tetap yang paling penting. Kecantikan diri dari dalam akan terpancar apabila kita mempunyai manner yang baik, isi otak yang tidak pas-pas an, supel ataupun mudah bergaul dan ramah terhadap orang lain. Eh tapi jangan salah gw bukan orang yang ramah, bisa dibilang gw super jutek. Tapi mungkin ini dulu ya karena potongan muka yang Alhamdulillah udah dari sananya begini dan sifat gw yang dulu agak pemalu serta pendiam jadi orang lain suka salah paham kalau gw ini jutek dan sombong. Pepatah tak kenal maka tak sayang itu benar adanya lhoh gaes *cieh pake gaes biar kekinian*. Kalau sekarang sih kayanya sifat gw banyakan  malu-maluinnya.

Kira-kira gw mulai berjerawat saat kuliah semester dua tahun 2007 tepatnya saat gw mulai aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) fotografi. Namanya juga kerjannya tiap hari praktek motret, jadi sudah pasti kita harus terjun ke lapangan. Nah di lapangan itu banyak banget kan yang namanya debu, polusi, bakteri, panas matahari dan hal-hal lain yang gak cocok buat kulit super sensitif macam gw. Beberapa bulan turun ke jalanan kulit gw langsung kusam dan berjerawat, gw menyadari sendiri hal ini setiap kali bercermin dan cuci muka, ditambah juga oleh komentar dari hampir semua temen kuliah, mereka pada bilang ' iiiiih Aida kok jadi jerawatan, males bersihin muka ya." Lalu juga ada yang komen "wahh ketauan banget nih anak UKM foto-nya, muka kurang tidur, kusam, depresi (lah)."

Kalau soal bersihin muka gw termasuk paling rajin, gak pernah kelewat sebelum tidur, mungkin pernah satu sampai dua kali kalau lagi capek banget aja, tetapi entah kenapa jerawat senang sekali nongkrong di sini. Kalo kata dokter memang jerawat gw ini karena faktor hormon yang tidak seimbang. Malahan saking rajinnya merawat, muka tetangga juga gw rawat eh maksudnya gw juga rajin merawat kulit bibir yaitu dengan selalu pakai lipgloss Petroleum Jelly Vaseline varian Cocoa Butter sebelum tidur dan scrub bibir sebulan sekali agar menjaga kelembaban bibir, karena termasuk tipe bibir yang kering dan mudah terkelupas juga.

Balik ke kulit muka, kulit muka gw ini termasuk yang super sensitif, pernah waktu itu coba facial wash keluaran brand Clean&Clear yang varian-nya gw lupa. Dalam hitungan detik selesai membilas wajah, kulit muka langsung terasa panas dan pas gw ngaca ternyata berwarna merah kaya udang rebus. Untung aja teman gw ada yang selalu sedia obat alergi, Alhamdulillah langsung hilang efeknya sehabis minum obat. Teman gw yang lain yang memakai produk ini sih baik-baik saja kulit wajahnya. Kata temen gw memang yg varian itu agak keras daripada varian lainnya, tapi kalau di muka teman-teman yang lain tidak ada masalah.

Cukup panjang memang drama peperangan yang gw laluin buat ngobatin jerawat yang gw gak yakin kalo sudah sembuh total sekarang ini. Sesuai dengan yang sudah gw ceritain di atas masalah jerawat ini juga sempet juga bikin gw gak pede buat ngobrol tatap muka dengan orang lain apalagi lawan jenis, seperti jerawat ini udah jadi masalah terbesar dari hidup gw saat itu. Kalau ngaca gw jadi suka ngobrol sama jerawat "kenapa sih lo doyan banget bersarang di muka gw, hush hush pergi." gw ngedumel. Nyokap gw pun pernah cerita, waktu muda dia jerawatan parah, malah pernah sampai pingsan waktu lagi mencetin jerawat sendiri di depan cermin. Haha untung gw gak pernah sampe pingsan yaa, lebih kuat menghadapi kenyataan tampaknya gw. Maap yaa maa bukan maksud ngetawain, tapi emang kocak ceritanya.

Pengobatan atau treatment pertama yang gw lakukan adalah berobat ke  Dr. Titi Moertolo (Doti) yang berlokasi di bendungan hilir. Awalnya berobat ke sini adalah anjuran dari kakak pertama gw, tapi gw ragu-ragu karena gak punya uang. haha. Karena kakak gw banyak duit ehh baik hati maksudnya dan karena faktor kasihan juga sih kayanya, dibawalah gw ke Doti dan semua biaya ditanggung doi pastinya. Dokter ini termasuk mahal banget sih kalau awal perawatan (kira-kira habis Rp 2.000.000an), karena masih kena biaya konsultasi dokter dan gak bisa milih-milih obat dan jenis perawatan. Otomatis kalau muka sudah lebih bersih, biaya yang dikeluarkan juga akan lebih sedikit. Banyak sekali pantangan makanan yang merujuk kepada golongan darah, yang sekarang gw gak yakin kalau sebenernya itu pengaruh banget. Pertama kali kita wajib konsul sama DoTi (dokternya galak) atau dokter lain yang tersedia. Walaupun galak tapi yang dia omongin benar dan obat-obat pemakaian luar juga minum-nya mujarab. Setelah konsul kita wajib facial yaitu mengeluarkan komedo dan isi jerawat dengan cara dipencet. Sumpah ini sakitnya minta ampun, sakit paaaaraaaaah. Air mata gw pasti ngalir, gak sampe teriak-teriak sih (masih tahu malu). Setelah facial baru deh ke tahap yang menenangkan seperti masker (ada banyak jenis masker), lalu ozone (muka dikompres pakai kapas yang super dingin) dan Beauty Light yaitu diberikan paparan sinar biru, kuning, merah yang masing-masing punya khasiat tersendiri. Setelah facial, kulit wajah gw pasti akan berwarna kemerahan untuk beberapa jam ke depan dan terasa agak perih (tergantung sensitivitas masing-masing kulit ya). Mungkin beberapa bulan setelah rutin pengobatan, muka gw kembali mulus, permukaannya tampak halus dan terasa lembab sekali kulitnya. Rutin itu adalah seminggu bisa dua kali facial untuk dua bulan pertama, rajin pakai obat, baik obat cream maupun obat minum. Bayangkan berapa puluh juta melayang buat muka ini. hikssssss (untung bukan duit gw). Setelah mulus dan tidak berjerawat gw paling  facial hanya satu bulan sekali atau dua bulan sekali.

Gw lupa berapa lama jangka waktu gw berobat ke Doti, on-off  sih waktunya karena banyak faktor, ada saatnya kakak gw gak ngasih sumbangan, ada juga karena lagi gak mau ngerasain sakit, cukup hati ini yang merasakan #eh. Kalau komedo di hidung mulai terlihat banyak dan terasa gatal baru lah gw ke Doti lagi.

Lama kelamaan pun terasa capek berobat ke Doti, karena gak tahan sama sakitnya sewaktu facial, gak rela ngeluarin uangnya, lokasi juga lumayan jauh dari rumah dan kurang suka sama efek beberapa hari setelah facial, mungkin karena kulit wajah yang super sensitif maka waktu yang diperlukan kulit untuk kembali ke warna normal lebih lama dibandingkan orang lain. Kira-kira sampai lulus kuliah gw hanya rutin memakai obat-obatnya dan tidak terlalu sering facial

Setelah lulus kuliah tahun 2010 gw berhenti ke dokter karena tidak mau disubsidi lagi sama kakak. Saat bekerja gw malah jadi tidak ada waktu buat ke dokter. Kira-kira dari 2010-2012 gw sama sekali gak ke Doti dan tidak pakai obat dokter sama sekali. Paling cuma pake acne gel yang dijual di supermarket. Gw pengen muka gw tidak bergantung sama obat dokter. Gw ngerasa jengah dengan obat dokter yg bikin manja ini, gw harus selalu rutin pakai, kalau gak pakai bisa langsung jerawatan, jadi gak permanent hasilnya kalau di gw. Belum lagi sama efek obat malam yang bikin kulit gw terkelupas dan berasa makin sensitif. Akhirnya saat itu gw memutuskan berhenti berobat ke dokter, niatnya ingin mengistirahatkan kulit dan dompet.

Sekitar awal tahun 2014, karena gw rasa sudah perlu untuk perawatan ke dokter lagi maka dicobalah rekomendasi dari teman untuk ke dokter lain, nama klinik nya DL Slim & Skin Centre. Ada cukup banyak cabangnya dan saat itu yang terdekat dari domisili gw adalah cabang Bintaro. Gw mau mencoba ke sini karena lebih murah dan juga ada info kalau kita bisa tidak langsung facial, boleh coba obat nya saja dulu. Pertama kali ke sana gw registrasi di kasir, lalu menunggu di panggil dokter di lantai atas. Sesampainya di ruang dokter, gw berkonsultasi dan menceritakan sejarah serta keluhan dari kulit muka gw. Lalu dokter menjelaskan sambil gw disuruh berbaring di kasur praktek, setelah pengecekan kondisi kulit menggunakan mata telanjang, muka gw difoto, lalu kembali konsultasi di meja dokter dan diberikan resep obat-obatnya. Setelah itu gw ke kasir untuk menebus obat dan membayar.

Setelah seminggu pengobatan dan dirasa cocok, gw akhirnya memutuskan untuk facial, Istilah ada harga ada kualitas itu benar, jujur saja untuk facial jauh lebih enak di Doti, fasilitas yang diberikan terasa berbeda, seperti peralatan yang digunakan dan variasi tindakan. Kalau di Doti, saat facial dimulai beuatician akan melihat wajah kita melalui kaca pembesar yang sekelilingnya menggunakan lampu. Di D&L tidak menggunakan peralatan seperti itu, hanya menggunakan mata telanjang beautician, jadi timbul efek tidak percaya "apakah ini benar sudah dikeluarkan semua komedonya", rasanya belum karena proses beautician untuk mengerjakan terasa cepat sekali sekitar 20 menit. Setelah penyiksaan alias dipencetin lalu wajah akan di masker. Di sini gw juga pernah mencoba chemical peeling, oia malah di sini wajib untuk tidakan chemical peeling dan juga ditawarkan untuk suntik agar jerawat cepat kempes. Awalnya gw ragu untuk chemical peeling karena dari judulnya aja, ini pasti bahannya sudah tidak alami dan takutnya tidak baik untuk kesehatan kulit jangka panjang. Tetapi beautician  dan dokter Spkk meyakinkan gw kalau ini aman dan tindakan peeling dilakukan langsung oleh sang dokter kulit.

Awalnya hasil perawatan di D&L terasa memuaskan, jerawat secara ajaib langsung hilang, namun ternyata lama kelamaan warna kulit antara muka, kelopak mata dan leher jadi belang banget. Kulit muka gw terlihat lebih putih dibandingkan kelopak mata. Gw kira awalnya mungkin ini hanya perasaan gw, namun ternyata kakak gw juga komen hal yang sama, fix lah gw yakin warna kulit gw memang belang dan obat di DL cukup keras. Mungkin karena gw pernah beberapa kali peeling dan penggunaan cream malam yang notabenenya untuk mencerahkan jadi menyebabkan warna kulit belang. Saat gw mengkonsultasikan hal ini ke dokter, gw malah disarankan untuk melakukan chemical peeling untuk kulit sekitar mata. Gw menolak karena terlalu banyak obat kimia dan warna putihnya akan terlihat tidak alami.

Mungkin gw hanya berobat selama 2-3 bulan di sana, memang sih jerawat gw cepat sekali sembuhnya, tapi kulit gw pun juga terasa kencang narik-narik gitu, jadi mungkin gak cocok obatnya di gw dan diputuskan untuk tidak melanjutkan perawatan di sana. Karena lama tidak datang gw di-sms melulu oleh D&L dengan berbagai promo, apalagi ternyata mereka menginfokan baru buka cabang yang dekeeeet banget rumah gw,  tetapi hati gw tidak bergeming.

Akhirnya kembali lagi deh gw ke Doti kira-kira pertengahan 2014, tetapi sekarang gw mencoba yang di cabang Kemang. Suasana di sini lebih homey, lebih dekat ke rumah, antrinya gak pakai lama (oiaa gw belum bilang ya kalau Doti Benhil itu ngantrinya suka parah apalagi kalau hari Sabtu, tapi ini dulu sih sekitar tahun 2007an, gak tau kalau sekarang)  dan dokternya juga lebih ramah. Cuma namanya di Kemang akses transportasi umum lebih sulit (waktu itu belum ada ojol alias ojek online). Di Kemang gw baru tau ada treatment yang namanya Bio-e dan ini ngaruh banget buat ngilangin bekas jerawat, kulit kemerahan dan menenangkan kulit, sekali treatment  Bio-e biayanya Rp.250.000. Jadi Bio-e itu perawatan dengan menggunakan cream bening dari lidah buaya, cream tersebut dioleskan ke kulit wajah kita, lalu dipijat menggunakan alat yang gw gak tahu namanya (mirip seperti alat barcode scanner di kasir). Rasanya dingin-dingin sejuk menenangkan gitu dan prosesnya kira-kira hanya menghabiskan waktu sekitar 30 menit. Jadi pas banget setelah penyiksaan dipencetin lalu kulit wajah ditenangkan menggunakan lidah buaya.

Selama berobat di Doti wajah gw udah lumayan bersih, tinggal bekas-bekas jerawat dan pori-pori yang agak besar. Lalu mungkin sekitar awal tahun 2015 gw udah mulai malas lagi ke Doti. Gak tau kenapa, capek aja rasanya perawatan ke dokter kulit.

Suatu hari gw lagi sekedar jalan-jalan di Metro Gandaria City dan disamperin oleh mba-mba Sales Assistant (SA) dari brand Murad produk Amerika. Sumpah SA-nya pintar banget jualan, pertama gw dikasi free treatment di counter, semacam membersihkan muka dengan rangkaian produk Murad aja sih. Pertama kali gw kemakan omongan si mba dan membeli sepaket trial-acne kit, yang terdiri dari clarifying cleanser, acne spot treatment, skin perfecting lotion, clarifying mask dan ditambah 1 botol besar toner. Dari awal treatment terasa kalau produk ini memang bagus dan termasuk cukup mahal, untuk paket trial yang kecil-kecil itu aja kalau tidak salah dihargain sebesar Rp 999.000. Pintarnya si SA kita dikasih free treatment di counter mall, yang dimana setiap kali kita datang untuk treatment pasti ditawarin aneka produk yang bikin gw pusing dan gampang tergiur untuk beli. Gw beli ini itu dan lama kelamaan tersadar tabungan gw di rekening kok "ilang".

Packagingnya sedikit beda dengan yang gw beli, tapi isinya sama. Gw pakai ini ditambah dengan 1 botol Toner.
source: https://i.pinimg.com/originals/eb/50/a1/eb50a1644d0c7c3b2bac6c7546296f71.jpg
Awalnya sih terasa manjur produk ini, muka gw mulus, iritasi dan kemerahan berkurang tetapi setelah beberapa bulan kulit gw seperti kebal sama obatnya. Akhirnya gw berhenti membeli produk Murad, walaupun si mba whatsapp gw terus-terusan dan gw tolak secara halus saja. Gw masih rutin pakai Murad sampai seluruh produk khusus acne yang gw beli habis dipakai. Tetapi di sela-sela waktu pemakaian tetap saja ada satu atau dua jerawat muncul, apalagi di saat menstruasi. Akhirnya sampai sekarang masih banyak tuh produk tersisa yang gak gw pakai.

Sisa produk Murad, ujung bawah kanan itu Black Head Remover, mutasi kemasan ke botol Mario Badescu,
karena baru aja pecah kemaren kemasan aslinya,

Gw pun mulai berpikir sebenarnya apa sih obatnya, kalau dari pola makan gw sudah menjaga banget dengan mengurangi gorengan dan perbanyak makan sayur. Obat apa sih yang cocok banget di kulit gw? Jerawat hormonal ini sebenarnya bisa disembuhin apa tidak? Gw pun juga mencoba masker wajah dengan bahan alami buatan sendiri, seperti putih telur, tomat, pisang+madu+oatmeal dan bengkoang yang dihaluskan. Sampai sekarang gw masih suka (walalupun tidak rutin) menggunakan masker berbahan alami. Karena alami gw rasa masker buatan sendiri itu banyak khasiatnya  dan tidak berbahaya untuk kulit wajah. Gw rajin googling 'masker alami untuk jerawat', ;masker alami untuk merncerahkan wajah', 'masker alami untuk bekas jerawat'.

Lalu setelah beberapa lama (kira-kira pertengahan 2016) karena gw anakanya super labil, gw ikut-ikutan produk anti acne rekomendasi kakak gw yang kedua yaitu dari Kiehl's,  harganya sedikiiiit lebih murah dari Murad, variannya juga banyak dan botolnya juga setipe dengan murad dikemas dalam ukuran besar. Enaknya kalau belanja di Kiehl's customer sering dikasih lumayan banyak free product yaa travel size pastinya. Produk ini sangat bagus, diproses dari bahan alami, tidak pernah terasa perih di kulit dan tidak pernah menyebabkan kulit gw terkelupas atau memerah. Karena botolnya besar bisa untuk sharing, gw jadi bisa beli patungan berdua sama kakak. Lama kelamaan gw pun menemukan online shop di instagram yang menjual produk ini dalam ukuran kecil. Sebenarnya sama aja sih harganya mahal juga, tetapi ya intinya bisa lebih sedikit mengeluarkan uang. Saat memakai produk ini biasanya hanya muncul jerawat saat menstruasi, kulit gw gak pernah terkelupas ataupun memerah. 

Beberapa produk Kiehls yang sempat dipakai, beberapa kemasannya sudah dibuang.
Bahkan sunblock (tengah atas) masih gw pakai sampai sekarang dan botolnya gw belah karena ogah rugi.

Di sela-sela aneka produk yang gw tulis di atas, gw pernah juga coba produk drying lotion-nya Mario Badescu, tapi tidak berefek apa-apa, pernah juga pakai toner SK-II tapi karena baunya aneh gw jadi malas pakai dan produk MLM Glucola beserta roll ajaibnya itu, tapi tidak ada perubahan yang signifikan (mungkin karena gw juga kurang sabar dan pegel yaaak nge-roll muka gitu) dan banyak produk lainyya yang tidak mungkin gw inget semua. Oia gw juga pernah pakai produk-produk dari Kangen Water, seperti beauty spray dan citric acid (ini bukan sih namanya). Tetapi mungkin karena gw yang cara pakainya salah atau memang tidak cocok, malah jadi tambah parah break out nya, semua jerawat pada muncul ke permukaan. Barulah saat itu gw insyaf dan balik lagi ke Doti.

Gw pengen banget bisa pakai produk-produk yang dijual di mini-market, super-market, hyper-market apalah pokoknya yang banyak di pasaran, yang gak mahal. Gw iri banget sama cewe-cewe yang memiliki kulit "badak", kulit yang kuat, gak manja, gak sensitif dan bisa pakai produk apa saja. Tetapi apa daya perlu usaha lebih bagi gw untuk memiliki kulit yang sehat nan "normal".

Mungkin gw pakai kiehl's ekitar satu tahun, jadi sebenarnya gak mahal banget juga sih karena kemasanya besar jadi a-kira kirbisa di pakai selama empat sampai dengan enam bulan. Lalu setelah produk-produk Kiehl's  mau habis, gw berpikir untuk menggunakan produk keluaran drugstore. Masa sih gak ada produk drugstore yang bagus dan cocok di kulit gw, serta ramah di kantong gw yang cuma karyawan biasa. Alhasil dapat rekomen lagi dari kakak gw,, duuuh kakak lagi yaa,, emang nih mereka banyak mempengaruhi hidup gw, kakak-kakak panutan ceritanya, haha. Kakak gw ini menyarankan produk bernama Illuminare yang di jual di Century. Produk ini berasal dari Jepang dan secara mengejutkan produk ini sangat cocok di kulit gw. Kulit gw gak pernah terkelupas senlama memakai produk ini dan acne spot gel-nya sangat ampuh untuk mengempeskan jerawat yang muncul/berjendol di permukaan kulit wajah. Tetapi kalau tipe break out nya hanya di dalam atau di bawah lapisan permukaan kulit agak susah diberantasnya.

Apa saja rangakaian produk illuminare yang gw pakai? Pertama gw memakai make up cleansing water untuk menghapus makeup. Menurut gw produk ini bagus, selama ini gw paling malas bersihin muka menggunakan produk seperti ini karena terasa berminyak dan perih. Namun dengan illuminare keluhan itu tidak gw rasakan. Lalu lanjut mencuci wajah dengan acne facial wash, cukup dibusakan di tangan lalu dipijat-pijat secara lembut dan cepat ke wajah dan bilas dengan air sisa rebusan indomie eh air bersih maksudnya. Setelah itu gw pakai toner, cukup dituangkan 2-3 tetes ke kapas dan dipijat-pijat lembut ke wajah. Kenapa menurut gw sangat penting memakai toner? karena anggap saja air yang kita pakai untuk membilas wajah itu tidak bersih 100%, jadi dengan toner dapat menyempurnakan kadar pH alami kulit wajah. Setelah itu gw memakai moisturizer dan dilanjut dengan acne spot gel di titik tertentu yang muncul jerawat. Nahhh itu aja cukup simple sih menurut gw, oia kalau malam gw suka diselingi dengan brigthening cream dan ditambahkan pemakaian eye cream pada pagi dan malam hari agar mengurangi mata panda.

Produk yang gw pakai saat ini, Illuminare.

Jadi illuminare ini ada 2 tipe, label biru untuk brightening atau mencerahkan dan label hijau untuk anti acne atau mencegah dan mengobati jerawat. Obati dulu jerawatnya baru pelan-pelan boleh beralih ke yang mencerahkan. Sesuai penjelasan apoteker, produk Illuminare ini terbuat dari bahan-bahan alami, sehingga bagus dan aman untuk kulit sensitif. Baru-baru ini gw mencoba compact powder Illuminare, awalnya gw gak mau karena sudah terbiasa menggunakan bedak tabur dan percaya kalau bedak padat tidak bagus untuk kulit sensitif. Tetapi sang sales meyakinkan kalau bedaknya pun juga sangat alami dan aman, walaupun pada tetapi memang dirancang untuk kulit berjerawat dan sensitif. Akhirnya gw pun percaya dan mencoba ternyata memang ringan bedaknya dan tidak menimbukan kesan seperti topeng layaknya menggunakan two-way cake compact powder. Kekurangan dari produk ini hanya dari kemasan yang hampir mirip bentuk botolnya, awalnya gw sempet ketuker-tuker pakainya, tetapi sekarang sudah fasih dong.

Yaaa begitulah, emang ribet sih jadi cewe, ada aja macem-macem perawatan. Harus banyak sabar dalam menghadapi kulit yang super sensitif macam ini. Karena seiring bertambahnya usia gw yakin deh hampir semu cewe akan semakin memerhatikan kesehatan dan kecantikan kulitnya. Jangan lupa selain menggunakan rangkaian produk perawatan, pengobatan dari dalam juga sangat penting. Seperti banyak makan-makanan yang berserat dan menghindari produk yang mengandung susu, kacang-kacangan dan berminyak. Sama banyak-banyak wudhu ya gaes. haha.

Gw perlihatkan beberapa metamorfosis muke gw ya, ini yang gw perlihatkan pas lagi jerawat parah aja (foto dari 2007an gak ketemu) Di masa transisi pengobatan adakalanya wajah gw berhasil menunjukan hasil pengobatan di dokter dan dari beberapa produk. Ehh tapi gw liatin juga deh pas lagi mulus biar gak enek-enek amat yang liat. hehe.

2009, mulus hasil berobat di Doti Benhil, asli tanpa edit belum ada beauty cam.
Dipotret pake SLR terbukti jernih sampai ke pixel terkecil.

Akhir 2012, jerawat kecil/batu di area jidat gw yang lebar


2014, saat terparah, berobat kedua kali di Doti Kemang.


Masker Hijau paling enak dan paling cepat untuk mengeringkan jerawat di Doti.


Akhir 2014, hasil berobat di Doti Kemang

2017. HAHA!
Share:

26 Agustus 2017