29 Januari 2018

Bangkok, Januari 2018

Prior alert: cerita ini akan panjang bermanfaat banget!

Akhirnya gw melancong ke luar negeri juga setelah kira-kira 7 tahun lamanya, terakhir itu ke Singapura, bisa diintip ceritanya di sini. Sayang, foto-foto karya gw yang spektakuler hilang semua dari halaman itu, akibat kesalahan teknis dari google images gw :((( 

21 Januari 2018 gw bertolak ke Negara Seribu Pagoda atau yang lebih dikenal dengan nama Thailand. Ibu kota nya adalah kota yang gw kunjungi selama 4 hari 3 malem (bentar bats) yaitu Thailand atau memiliki nama asli Krung Thep. Bangkok merupakan kota yang memiliki nama terpanjang di dunia yaitu Krungthepmahanakhon Amornrattanakosin Mahintharayutthaya Mahadilokphop Noppharat Ratchathaniburirom Udomratchaniwetmahasathan Amonphiman Awatansathit  kkathattiyawitsanukamprasit. (Gw yakin itu kata-kata panjang banget gak kalian baca, gpp asal jangan tulisan ini yang gak dibaca :)))

Bisa dibilang ini adalah solo trip pertama gw, berjalan-jalan sendirian di kota yang hurufnya tidak menggunakan huruf latin. Tetapi sebenarnya ini lebih tepat dibilang semi-solo, karena gw gak sendirian-sendirian banget, di sana ada yang nemenin gw bobo lhoooh, eaaa siapakah dia? :))) 
Tidak lain dan tidak bukan adalah kakak gw, gw bisa menumpang di hotel dia yang kebetulan juga akan dinas ke Bangkok. Lumayan pengiritan banget sis. Gw memang udah lama sih ingin ke Bangkok (kira-kira dari akhir tahun 2017 aja) sama sahabat gw, dan alhamdulillah dapat rezekinya sekarang, walaupun harus sendirian.

Pukul 05.00 gw dan kakak menembus kegelapan subuh menggunakan taxi ke Cengkareng, flight gw jam 07.05 menggunakan pesawat Air Asia dan kakak gw masih jam 09.00. Jadilah dia masih harus menunggu beberapa jam sampai waktunya di Terminal 3 Ultimate (iya beda kasta). Oh iya FYI mulai 22 Januari 2018 AA untuk penerbangan internasional sudah dari T3 Ultimate lhoh. Saat drop gw di Terminal 2 kakak gw memastikan kalau gw tau harus kemana, tau harus ke imigrasi dulu dll. Maklum ya saking udah lama gak international flight takut gw oon mendadak kali.

Setelah terbang di udara (ya kali terbang di laut) selama kurang lebih 3 jam, burung besi ini berhasil  mendaratkan diri dengan mulus (semulus pantat bayi yang ada bisulnya dikit) di Don Mueang Airport. Setelah melewati proses imigrasi yang berhasil dilalui dengan lumayan mengantri dan agak keder dikit nyari arrival card, lalu gw langsung membeli simcard lokal dari TrueMove seharga 199 THB dengan kuota 5.5 GB untuk 7 hari.




Gw dari awal memang sudah berencana untuk ke Chatuchak Weekend Market sambil menunggu kakak gw yang baru akan sampai hotel sekitar jam 14.30. Jadi gw bertanya ke ke mba-mba pulsa naik bus apa ke sana. Bus nya adalah A1, inget ya A1, jangan bus yang lain apalagi kalau kalian pulang menuju airport, kalau beda bus niscaya kalian akan diturunkan di pinggir jalan jauh dari bandara. Gw naik bus langsung dari Gate 1 atau 9 (kalau gak salah, pokoknya dari turun eskalator langsung aja belok kiri dan lurus aja lalu keluar di sebelah kanan) bus ber-AC dengan tarif 40 THB ini rutenya melalui tol, jadi kira-kira hanya 40 menit gw sudah turun di halte deket Chatuchak. Jeng jeng dan ternyata gw harus nyebrang melalui jembatan penyebrangan sambil menggeret-geret koper dan berjalan lagi sekitar 7 menit untuk sampai ke TKP.

Taman di dekat Chatuchak Weekend Market


Chatuchak ini memang pasar terbuka yang besar banget dan banyak sekali toko bertebaran di sepanjang jalan, gw sampai gak bisa mengelilingi semua areanya karena sudah lelah yang berkepanjangan dan laper baru diganjel pake mango sticky rice seharga 70 THB yang enak banget. Gw di sana cuma beli bedak tabur Ponds yang lagi hype banget di Jakarta. Dibeli dengan acara tawar menawar yang taunya harga tawarannya sama aja dengan di Big C Supermarket. Ada sedikit tips nih buat kalian, kalau mau beli bedak Ponds, aneka macam cemilan, Thai Tea serbuk dll mending langsung aja ke supermarket daripada di market-market gitu, karena harganya memang lebih murah di Big C, kalau di aneka market nya cukup beli buah tangan macam kaos, gantungan kunci, tempelan magnet dkk. Gw kena tipu harga beli Nestea di Pratunam Market yang lebih mahal 30 THB dibanding Big C. Sebetulnya setelah pulang dari Chatuchak gw agak nyesel karena gak sekalian beli oleh-oleh, karena belum mau pulang jadi kaya gak kepikiran untuk langsung beli. Apalagi Chatuchak ini bukanya hanya pada saat akhir pekan saja. Akhirnya gw beli oleh-oleh di Pratunam pas hari ketiga.



Setelah puas alias lelah melihat-lihat gw memutuskan untuk segera ke hotel dan berkat kecerdasan google maps gw berhasil sampai ke hotel, lalu disambut kaka gw di kamar dengan ucapan sawasdee-ka (baca: swadika *tampaknya) yang artinya Halo. Lalu dia mengendus-ngendus dan langsung komen sambil cekikikan kalau gw bau matahari. Haha meeen emang pas baru turun bus tuh gw langsung disambut dengan matahari yang panas banget, kaya 1/0.1 neraka tuh bocor. Gw langsung mandi dan kaka gw berangkat kerja di hari Minggu, lalu gw memutuskan untuk jalan-jalan di mall sekitar hotel.

Oh iya biar ada gambaran mengenai perjalanan gw nantinya, gw menginap di Holiday Inn Pathum Wan (setelah turun pangkat dari tetangganya si Intercontinental) review gw mengenai hotel ini enak bangeeeeeet, soalnya GRATIIIIS :p . Tampaknya lokasinya juga cukup strategis, dekat dengan pusat perbelanjaan dan stasiun BTS juga MRT. Di Bangkok ada 3 masam transportasi masal, selain yang sudah gw sebutkan tadi juga terdapat bus biasa yang pake kenek seperti di Jakarta, bedanya bus di sini berhenti hanya di tempat yang sudah ditentukan. Bedanya BTS dan MRT, kalau BTS menggunakan jalan layang dan MRT menggunakan jalan bawah tanah, gw gak sempet coba naik MRT.

Salah satu stasiun BTS/MRT


Pertama, gw ke mall di  seberang hotel yang namanya Amarin Plaza, liat-liat make up di drug store (tetep yaa) lalu ada telfon masuk dari surga yang intinya kakak gw mau traktir makan malam di Nara  (makanan  termewah gw selama di Bangkok haha) lalu gw jalan lagi ke mall sampingnya yang bernama Erawan dimana Nara berada (Amarin dan Erawan ini tampaknya saudara kembar yang tertukar). Setelah makan kita jalan-jalan ke mall lain di  sekitarnya. Berjalan kaki melalui jembatan stasiun BTS yang sangat menyenangkan, tersedia connecting bridge ke mall lainnya, dimulai dari Siam Paragon sampai ke Siam Discovery, kami juga menyinggahi Central World sambil window shopping. Kakak gw memberitahu kalau Madame Tussauds yang akan gw datangi besok ini ada di mall Siam Discovery, dikasih tau naik lift nya dan gimana-gimana nya. Tau aja gw emang bingung arah.


22 Januari 2018, kakak gw udh dijemput kerja dari jam 7.15 dan gw baru mau mandi lalu sarapan di hotel dan jalan ke Siam Discovery sekitar jam 09.00. Pukul 09.45 gw sudah tiba di depan Siam Paragon dan pastinya si mall belum buka dan manusia sudah berjubel di depannya nunggu mall buka. Perasaan di Jakarta nunggu mall buka gak gini-gini banget deh. Lalu bener aja dong, di dalam mall  gw pake nyasar mencari jalur sambung ke Siam Discovery, haha cuma muter-muter di mall aja nyasar. 


Sampai lah dengan tubuh yang utuh di depan Museum Lilin tersebut dan langsung saja mengantri (sebenarnya gak ada antrian sih karena baru banget buka, masih sepi) dan menunjukan pre-booked tiket gw yang gw pesan  melalui Traveloka, dimana harganya jauuuuh lebih murah dibanding kita beli secara on the spot, waktu itu gw beli dengan harga IDR 293.889. Lalu gw datangi mba penjaga dan menunjukkan tiket dari smart phone gw dan diminta untuk menunjukan paspor, yang memang tidak mungkin gw bawa-bawa, tetapi gw sudah menyiapkan fotonya. Itu saja sudah cukup. Foto semua dokumen-dokumen kalian ya. Jangan dibawa-bawa yang asli, tinggal aja di brankas hotel, kalau sampai ilang pas lagi jalan-jalan kan berabe genks.


Entrance gw lalui dengan mulus dan langsung diminta untuk foto-foto di samping patung apa gw gak inget, yang ada di otak gw cuma "ini pasti di exit gate diliatin foto-fotonya dan ditawarin untuk beli, yang dimana gak akan gw beli." Kekhawatiran gw cuma satu sebelum masuk museum ini, gw belum beli tongsis, alhasil jadinya foto muka gw semua yang kesimpen di memori telepon genggam. Menarik isi museum ini buat gw yang memang belum pernah ke Madame Tussauds sebelumnya (Aida (15) pertama kali ke Madame Tussauds *catet*). Begitu Masuk gw disambut dengan patung mantan Presiden Indonesia, Soekarno. Bangga juga liatnya, gw elus-elus tuh pipinya, rambutnya (maklum udah lama gak ngelus-ngelus, kucing pun tidak mau gw elus #sad). Anyway, gw gak tau sih sebeneranya patung lilin ini boleh dipegang apa gak, tapi kayanya gak ada larangannya.


Kurang lebih dua jam gw menghabiskan waktu yang sangat amat berharga di museum itu, di dalam gw sempat main puzzle, tendangan bola penalti dan memasukkan bola ke ring basket, sambil foto-foto muke sama patung pastinya. Di dalam museum gw bertemu keluarga dari Indonesia, seorang Ibu dan dua anaknya  yang semuanya mengenakan kerudung. Pas gw cerita hal ini ke kakak gw, komen dia adalah "lah bapak nya kemana?" engggggg "lah mana gw tau, kepikiran juga kagak, masa iya gw sekepo itu aiiiish." Sama si ibunya sih gw senyum-senyum aja gak sempet ngobrol soalnya si ibunya lagi sibuk difotoin bareng Lady Diana oleh anaknya. Kalau nggak mah udah gw pepet terus, nanyain punya anak cowo yang masih available gak, wkwk. Perjalanan di museum ini diakhiri dengan menonton pertunjukan Ice Age 4D selama 5 menit.

My date on my day (mulai halu)

Gw keluar dari Siam Discovery, celingukan bingung dan karena cuaca juga lagi panas banget, gw memutuskan untuk duduk di bangku-bangku yang tersedia di depan mall sambil makan pisang yang gw embat dari hotel.

Kata kakak gw yang lainnya, memang lebih susah cari makan di Bangkok daripada misalnya dibandingkan dengan London. Kalau di London, Muslim Resto bertebaran dimana-mana, di food court mall Bangkok masakan Babi bertebaran dimana-mana, hiks gw lagi anaknya susah makan tapi emesh alias berisi alias gemuk. Ahh susah banget tinggal bilang gemuk aja *hikshiks*.


Selanjutnya, sudah ada di wishlist gw kalau next visit adalah ke Bangkok Art Culture and Centre (BACC) dan/atau Jim Thompson House (JTH). Karena ternyata BACC tutup setiap hari Senin, jadi gw langsung meluncur ke JTH dengan berjalan kaki. Pokonya selama melancong thanks a lot to google maps deh yang sangat membantu perjalanan gw, tapi ada sih satu hari gw dibikin muter-muter nyasar sama dia. Berjalan kaki kurang lebih 20 menit dan sampai lah gw di JTH, lalu tiket seharga 150 THB gw beli dan gw  diminta untuk menunggu guide, dimana kami sudah dibagi per grup. Gw doang yang single eh sendirian maksudnya di grup itu, isi grup nya campur-campur mulai dari  Asia sampai ke bule pale entah dari negara mana.




Aneka macam bahan asal untuk dijadikan kain sutra
 Menarik isi rumahnya, kami peserta tour dijelaskan secara detil mengenai koleksi-koleksi antiknya oleh mba pemandu dan kami juga sudah diperingatkan untuk tidak mengambil foto ataupun video saat tur berlangsung. Jadi singkatnya Jim Thompson ini adalah warga negara Amerika yang jatuh cinta dengan Thailand yang akhirnya menetap dan membangun rumah di sana. Pada 26 Maret 1967, Jim (udah akrab ceritanya) menghilang di Malaysia dan tidak pernah terdengar lagi kabarnya. Setelah dilakukan pencarian selama bertahun-tahun akhirnya kerabat dari Jim memberikan rumah ini kepada sebuah lembaga untuk dirawat dan dijadikan museum untuk dikunjungi pelancong, agar semua karya Jim masih bisa kita nikmati dan sebagai bentuk apresiasi pemerintah Thailand terhadap Jim Thompson. Cerita lengkap tentang Jim (yang gak akan gw translasi) bisa ditemukan di bawah ini.
Perjalanan gw di Tanah Merdeka ini secara keseluruhan sangat menyenangkan, apalagi di hari kedua gw di kota ini, perjalanan terasa sangat lancar dan tidak ada masalah yang berat (selain cari makan). Tapi jangan tanya di hari ketiga (eh emang bakal gw ceritain kan :p) wishlist gw berjalan dengan sedikit amburadul seperti muke gw.




Next destination adalah Asiatique Riverfront, awalnya otak gw yang rada-rada ini mengira tempat ini seperti pertunjukan air mancur/laser warna warni menari yang ada di Singapura. Ternyata maksudnya tempat ini adalah pusat perbelanjaan lainnya di tepian sungai Chao Praya. Lagi-lagi otak gw yang udah lupa sama pelajaran Geografi dibikin mikir saat di atas pesawat, gw melihat ke bawah ada sungai sangat panjang mengelilingi Negeri Gajah Putih dan dilalui oleh kapal-kapal. Gw mikir itu sungai apa ya, kok bisa dikelilingi naik kapal, gw mau coba ah! itu doang yang ada di otak gw.

Saat gw masih di dalam BTS, gw baru sadar kalau gw harus menyambung bus biasa untuk sampai ke tujuan. Gw awalnya belum tau kalau bisa juga naik boat/kapal ke Asiatique, memang tarif nya lebih mahal daripada bus ompreng biasa. Akhirnya setelah browsing gw malah menemukan bahwa ada masjid di tempat gw turun BTS di stasiun Saphan Taksin, cukup berjalan kaki beberapa menit. Karena gw belum shalat Dzuhur dan Ashar gw memutuskan mampir ke sana dan saat liat google maps gw curiga sih kalau rute jalan kaki nya dibikin muter-muter, tetapi tetap gw ikutin karena takutnya kalau gw sotoy taunya jalannya malah buntu atau malah dibatasi oleh kali dan gw gak bisa nyebrang. Siapa sangka di masjid itu gw ketemu malaikat penolong yang mencerahkan hari gw, akan diceritakan nanti secara khusus.


Sekitar 20 menit gw sudah sampai di sebrang Asiatique dan ternyata di depan tempat gw turun bus ada Muslim Food Court dan ada masjid di sampingnya. "Tau gitu gw bisa shalat sekalian di sini aja, tapi jangan deh nanti gak bisa ketemu anak baik tadi, tuh semuanya memang sudah suratan takdir kan" kata-kata merepet dalam otak gw.

Akhirnya gw memutuskan untuk makan nasi goreng udang yang enak banget (efek laper) seharga 60 THB dan minum mango smoothie 30 THB. Sangat bersahabat kan harganya. Setelah isi bensin gw langsung nyebrang ke Asiatique dan berjalan-jalan sambil melihat-lihat mechandise, di sini gw cuma belanja di miniso dan beli 1pc bedak ponds yang harganya dimahalin 5 THB. Sebelum berbelanja gw langsung jalan menuju ferriswheel yang sangat besar bernama Mekhong. Gak gw naikin soalnya emang mekhong alias mehong bin mahal, kalau tidak salah 500 THB. Pengen juga melihat Bangkok dari ketinggian, tetapi kan gw agak takut ketinggian terus gw juga sendiri, takutnya kan jadi baper liat pemandangan indah nan romantis #eaaa. Ada juga pertunjukan Cabaret alias Lady Boy tetapi cukup mahal juga sekitar 900 THB, akhirnya gw urung menontonnya, gw lebih memilih untuk menikmati alam alias ngirit.


Gw berjalan ke tepian sungai sambil mengagumi luasnya Chao Praya, berfoto-foto sampai puas. Banyak juga pemuda pemudi yang pakai toga wisuda mengambil foto di sana. Ada beberapa ketemu warga Indonesia, yang cowonya lagi usaha banget foto-fotoin cewenya supaya gak keliatan tembem. Puas menikmati pemandangan di sana dan hari juga sudah cukup malam gw memutuskan untuk mengakhiri perjalanan hari ini dan kembali ke hotel. Eh pas banget kakak gw watsapp dan ingin menyusul ke sini "tinggal satu email bisa meluncur ke sana" dia berkata. Akhirnya gw memutuskan untuk menunggu di masjid sebrang saja sekalian shalat Maghrib dan Isya. Selesai shalat gw jajan semacam martabak pisang, karena si abang menegur gw dengan ucapan Assalamualaikum, gw jadi memutuskan untuk membeli dagangan si abang berjenggot putih panjang tersebut.

.
Tidak lama kemudian kakak gw datang, dia sampai menggunakan grab car karena takut gw kelamaan nunggu. Lalu gw menemani dia makan malam semacam Pad Thai udang (lupa harganya euy) dengan udang yang besar kepalanya aja (bukan karena sombong) tapi badannya kecil. Selesai makan kami teruskan dengan perjalanan ke tepian sungai dan akhirnya kami memutuskan untuk mencoba ke Saphan Taksin menggunakan boat, kalau tidak salah biayanya 20/40 THB (kalau dibayarin gw otomatis jadi gak inget harga). Memang jauh lebih mahal dibanding naik bus yang hanya 9 THB, tetapi jauh lebih cepat sampai ke BTS.

Esoknya, 23 Januari 2018, gw memutuskan ke Wat-watan alias ke berbagai temple. Gabungan pengalaman gw yang terlalu cerdas sampai mendekati dodol ini akan gw ceritakan di lain tulisan.


Setelah puas mengunjungi berbagai Temple, perjalanan dilanjutkan ke BACC, masih ingin menuruti rasa penasaran diri ini dan ingin melihat seni seperti apa yang ditampilkan di Galeri tersebut. Tempatnya juga di dalam ruangan dan nyaman ber-AC, jadi sekalian gw bisa beristirahat. Tampaknya karya seni yang dipamerkan adalah hasil kreativitas dari anak-anak sekolah, cukup menarik.









 


Hari sudah sangat sore saat gw tiba di Pratunam dan kaki gw udah berkonde banget rasanya. Pasar ini memang beroperasional 24 jam tetapi yang masih buka hanya di bagian luar saja. Alhamdulillah ketemu titipan emak gw, oleh-oleh buat orang kantor, ponakan, kakak, titipan teman (udah kaya buka jastip ya gw). Harus bisa tawar menawar sih di sini dan rata-rata penjualnya baik kok, atau karena gw manis kali ya jadi mereka baik. haha. 

Sampai saat ini gw belum makan siang, baru makan dua buah pisang yang gw embat lagi dari hotel (kemajuan ngembatnya bisa lebih banyak). Gak ada yang bikin gw tertarik makanannya dan banyak masakan babi bertebaran juga soalnya, ada lagi yang jualan martabak pisang, tapi gw udah lelah banget mau langsung ke hotel aja naik ojek. Ojek di sana pada pake seragam rompi oren dan sudah ada tarif yang tidak bisa ditawar. Naik ojek pangkalan di sana ga pernah dikasih helm, tarif dari pratunam ke hotel waktu itu 50 THB. Ada juga Grab dan Uber yang lebih murah tapi udah males ribet.  Akhirnya gw sampai hotel dan langsung rebus Indomie Goreng.



Hari terkahir, 24 Januari 2018, sebenarnya gw belum mau meninggalakan Bangkok secepat ini, tapi apa daya tiket pesawat sudah dipesan dan jatah cuti juga udah minus. Si kakak sejak hari pertama ingin mengajak onsen-an alias berendam air panas (pakai banget) di Yunomori Onsen & spa dan dilanjut dengan Thai Massage. Gw yang tidak menyukai massage ternyata malah ketagihan dan nanti  akan gw ceritain gimana enaknya onsen dan massage di negara lumbung padi Asia ini. 



Setelah selesai Onsen gw langsung ke Big C di dekat Yunomori untuk membeli aneka camilan macam Tae Ko Noi, Dozo, Thai Tea, Dried Mango dll. Emang dasar gw cewe tulen kan tetep aja mampir ke bagian make-up dan memborong lagi BB Ponds untuk oleh-oleh. Murah meriah tapi banyak yang suka, maklum selain kualitas yang bagus dari bedak tabur ini, harganya akan menjadi cukup mahal kalau udah masuk di online shop Indonesia.

Selesai belanja gw mencari makan siang, saat itu cuaca hujan gerimis, akhirnya gw memutuskan makan Takoyaki di food court, tampaknya satu-satunya food stall yang piggy free. Gak nyesel makan Takoyaki ini karena enak banget dan murah banget kalo dibandingin di JKT. Mau bungkus bawa pulang tapi biasanya kan nggak enak kalau sudah dingin.

Gw naik ojek dari depan Big C ke Hotel untuk mengambil titipan koper karena tadi pagi gw sudah check out. Di hotel gw merapikan isi koper lagi dan memutuskan untuk memberikan Indomie yang tidak termakan ke pegawai Hotel. Koper gw sudah gak muat!

Ditawarin naik taxi sama pegawai hotel, tapi lumayan mahal juga sekitar 500 THB incl Tol. Gw pun memutuskan sesuai rencana awal saja, naik BTS dulu dan di sambung dengan bus A1. Setelah turun dari BTS dan saat sedang menyebrang, gw melihat dari atas bus A1 sudah lewat. Kalau gw sabar menunggu seharusnya tidak lama lagi bus nya akan datang. Tetapi gw dengan cerdasnya memutuskan naik bus lain yang juga lewat Don Mueang. Tarifnya murah cuma 9 THB dan perasaan gw jadi gak enak, bener aja bus ini tidak melalui Tol dan ternyata gw tidak turun pas di dalam bandara. Tetapi jauh di luar bandara dan gw harus menyebrang melalui jembatan dengan menggerek koper, menggendong ransel dan tas selempang.

Begitulah petualangan singkat dengan cerita yang tidak singkat di Bangkok, semoga bisa ke sini lagi dan tahun ini banyak melancong, supaya punya bahan tulisan.

Di setiap sudut jalan/mall/kantor selalu ada tempat berdoa seperti ini.



Share:

0 comments :

Posting Komentar