31 Mei 2018

Pesona Ka'bah di Tanah Haram

Alhamdulillah di tahun 2018 ini gw berkesempatan untuk dipanggil ke rumah Allah SWT, Masjidili Haram untuk menjalankan ibadah Umrah selama sembilan hari. Memang ini bukanlah kali pertama gw menginjakan kaki di Tanah Suci, kebetulan gw brojol di Jeddah dan jadilah bebas bisa kapan aja ke Medinah ataupun Mekkah. Tapi ternyata yang gw rasakan saat pertama kali melihat Ka'bah itu berbeda banget dengan waktu kecil. Hmm ya iya lah waktu kecil gw kan gak paham apa-apa, gak punya dosa, saat ibadah pun masih digendong-gendong Papa. Kalau sekarang dosa nya udah banyak kali yaa (pasti sih bukan kali lagi :p ) jadi langsung bergetar hati saat melihat Ka'bah, air mata pun tidak bisa ditahan untuk tidak mengalir.

Bukan bermaksud berlebihan tetapi gw sendiri juga gak nyangka bakal ngerasain itu semua. Sebenarnya agak sulit untuk menceritakan tentang perjalanan ini, karena sifat nya lebih personal ataupun habluminallah. Jadi gw nanti akan lebih banyak share hasil jepretan ala kadarnya.

Suasanya ramainya Ka'bah saat dikelilingi oleh manusia dari berbagai penjuru bumi. Semua hanya karena mengharapkan ridha Allah SWT, memohon ampun, memanjatkan doa dan beribadah.

Ngomong-ngomong tentang hasil jepretan ataupun dokumentasi, ternyata sekarang udah bebas banget ya menggunakan handphone di Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi. Berbeda banget dengan sekitar tahun 1990-an, gadget kamera saku saat itu bener- bener dilarang, kalau kita ngeluarin handphone di Masjid bisa dimarahin abis-abisan sama Askar (penjaga masjid). Tapi karena sekarang memang sudah digital era dan penggunaan gadget pun sudah tidak bisa dibendung lagi, maka menurut gw yang terpenting adalah pengendalian diri dari jamaah dan ingat dengan tujuan utama datang ke sana untuk apa lagi kalau bukan untuk ibadah dengan khusyuk. 

Ada sedikit cerita, saat dini hari waktu pertama kali melakukan ibadah Umrah, tepatnya saat Thawaf (mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh kali) ada bapak-bapak paruh baya yang nekat memvideokan ibadahnya itu. Gw ngeliatnya sih percaya gak percaya, kok bisa-bisanya ada orang yang berbuat seperti itu, gimana caranya bisa ngobrol sama Allah SWT kalo dia sendiri masih sibuk mikirin dunianya. Nah itulah, mungkin saat itu si bapak belum sadar untuk membedakan urusan di dunia dan di akhirat. Mungkin si bapak masih ingin eksis di sosmed ataupun sekedar memperlihatkan ke saudara-saudara dan kawan-kawan di tanah air nanti. Namun akhirnya setelah besoknya ditegur baik-baik oleh Ustad saat kajian barulah si bapak mengerti, yang penting pada akhirnya bisa berubah kan. Manusia memang lucu.

Sebetulnya pada awalnya gw gak terlalu niat untuk berangkat Umrah, dengan alasan belum merasa "terpanggil" dan gak rela uang tabungan terkuras. Tetapi setelah gw pikir-pikir ini kan untuk ibadah dan rezeki sudah diatur oleh Allah SWT, jadi hayuk sajalah. Mungkin memang ini sudah saatnya gw kembali menginjakkan kaki di Tanah Haram. Mendekati hari H gw pun juga semakin bersemangat  untuk Umrah bersama Maghfirah Travel dan merasa tidak sabar untuk bisa secara langsung melihat Ka'bah lagi.




Overall, biro perjalanan ini cukup memuaskan karena para ustadz yang disediakan oleh mereka dapat dinilai sangat bagus. Dilihat dari materi kajian yang mereka sajikan, doa-doa yang mereka bantu lafalkan, semuanya sangat menyentuh hati dan para ustadz ini sangat sabar menghadapi jamaah yang jumlahnya sangat banyak.

Tetapi karena program yang gw gunakan judulnya adalah Budget Umrah jadi jangan ngarep dapat hotel bagus dan makanan enak, semua serba ala kadarnya. Jadilah selama di Mekkah untuk makan gw selalu jajan setiap hari, karena didukung oleh faktor kangen berat sama masakan-masakan Arab.

Renovasi terus berlangsung sepanjang tahun di Masjidil Haram


Makkah Royal Clock Tower, a Fairmont Hotel. Hanya berjarak 50meter dari masjid dan merupakan salah satu bangunan tertinggi di dunia dengan 76 lantai dan di atas menara terdapat jam terbesar di dunia.



Oh ya, di kota Mekkah ini gw juga kagum dengan banyaknya burung yang berterbangan dan mencari makanan di sekitar Masjidil Haram. Sejauh penglihatan gw tidak ada satupun burung yang berterbangan di atas Masjid, menarik bukan? Burung-burung tersebut seolah ingin menghindari tempat suci tersebut karena takut tidak sengaja membuang kotorannya. Burung-burung ini suka terbang ke arah manusia yang hilir mudik, tetapi tidak ada yang nabrak ataupun membuang kotoran secara tidak sengaja di atas kepala jamaah.




Share: