15 Juli 2017

I Will Never Let it Go

Kindness.
It is what we need to be a happiest person in this planet and insyaAllah in the afterlife as well. 

I am tryin, tryin really really hard to be a better human and muslimah. 

It is not that easy to wear this hijab, if you wear a hijab, everyone thinks you must be a good muslimah. But it is not as simple as that. We are just a human being, who have many sins, did many mistakes accidentally or intentionally.

If we did things wrongly is just because of ourself, it is not because of our religion. I wears hijab but it does not make me a perfect muslimah in an instance.  If I did a mistakes then don't blame my religon, don't point your finger to my religion. It is all because of me, a human being.

I always heard "seriously?? she wear a hijab but she did those sins? What kind of bi*ch". You know what? It is so mean to said and so cruel to heard. So don't blame my hijab nor my religion, just blame me.

As a person I have choosen many wrongs way, indeed. But I tried and I am still trying to be a better person and muslimah. Experiences make us wiser, mistakes make us learn and time will make a peace by itself. 

Have a peace with ourself is really a hardest thing to do. Accept what we are, accept yourself as you are.

Nowadays we see many signs of the end of the world or armageddon. We live on the edges. So what are we waiting for people? We live in this temporary dunya only for once, I always believe there are no such thing like a reincarnation. We live forever in jannah or in hell. 

Anyway, I don't really understand if hell is temporary or not, if I'm not wrong, in my religion I understand that sinners will burn or get punishment  in hell untill our sins is clear and then we can go to the heaven or jannah, but we don't know how much times we will spend in the hell. 

Back to topic, it would be better if we live together in harmonius sorroundings, lean on each others. Difference should makes us more bonded. Unity in diversity, appreciate the difference and others opinion. Don't just consume it rarely but proceed it first. 

Don't let ourself to be provocated by a bullshit(s). Just ignore mean words and spread the nice words, good gestures and spread the love!

I am still tryin to do all those things. It is so hard. But I am tryin for the sake of our live, our planet and our kindness. A human being. 

Happiness, kindness, helping, available ears to hear others opinions and hands to help.. 

I will always try to be a kinder and a happier person and trying really hard to have a peace with me. I will never let a pure kindness away from me, won't let it go even in the darkest place ever. Kindness will makes us happier and it is a good way to start and continue a live!





*saat insomnia menyerang saat itu juga ide berebutan ingin diketik*
Share:

15 Juni 2017

Jakarta Chaos -Part 2-

Tulisan ini adalah sambungan dari cerita sebelumnya, refresh dulu yuk click me!


Seketika Ia terjerembab ke depan dan kepalanya membentur sesuatu yang keras. Tangannya meraba-raba dalam kegelapan mencari pegangan untuk berdiri. Di pelipis kirinya Ia merasakan cairan hangat mengalir perlahan sampai ke pipinya. Ia hanya berusaha untuk segera berdiri karena panik dengan apa yang baru terjadi. Ia masih belum tau benar apa sebenarnya yang sedang terjadi, tidak lama kemudian lampu darurat dalam bus menyala.

Penumpang lain yang terjatuh-pun banyak yang sudah bisa berdiri lagi. Keadaan panik mulai terjadi di dalam bus Trans, lalu Alinka mencoba membantu si bapak teman seperjalanannya untuk berdiri. Tak lama kemudian tercium bau asap dari bagian belakang Trans, penumpang pun semakin panik. Mereka takut mesin bus Trans terbakar, akhirnya para penumpang mulai berteriak. Mereka meminta pintu segera dibuka agar bisa keluar dari dalam Trans. Kondektur mencoba menenangkan penumpang yang panik dan lampu dalam bus kembali menyala normal, diiringi dengan suara mesin bus yang menyala kembali. 

Ternyata ledakan yang terdengar adalah suara dari ban Trans yang bocor dan sang supir tidak bisa mengendalikan bus karena kaget sehingga Ia menabrak pembatas jalan. Dan bau asap yang menyerupai bau karet terbakar adalah hasil dari letusan ban yang bocor. Kondektur pun memberitahu kepada penumpang bahwa mereka akan dipindahkan ke bus yang ada di belakang karena bus yang mereka tumpangi sudah jelas tidak bisa melanjutkan perjalanan. 

Alinka lalu berpikir “wah kalau dipindahkan pasti bakal lama karena Trans belakang pasti penuh jg.” Ia pun berpikir untuk turun saja dari bus dan naik kendaraan lain, karena dia sudah cukup lelah dan kepalanya sedikit pusing setelah membentur sesuatu tadi. Banyak penumpang lain minta diturunkan saja walau sebenarnya tidak diperbolehkan dengan peraturan TransJakarta tetapi karena keadaan sedang darurat akhirnya kondektur dan supir membolehkan penumpang untuk turun dari bus.

Saat sedang berpikir akan bagaimana cara agar Ia bisa segera pulang, ada seseorang menepuk pundak Alinka. “Mba, maaf itu kepalanya berdarah. Ini coba pakai ini, bersih kok.” Seorang pemuda sembari menyerahkan handuk kecil seukuran sapu tangan. “Hah? Masa?” tanya Alinka, lalu Ia meraba pelipis yang ditunjuk pemuda itu. Benar saja ada cairan merah di jari-jarinya yang meraba-raba pelipisnya. Ia sedikit panik. “Tapi kayanya sudah berhenti pendarahannya, tapi ambil aja ini mba buat bersihkan sementara.” Kata si pemuda sambil memberikan handuk kecil tersebut. Alinka masih bingung, Ia baru merasakan rasa sakit di luka tersebut serta denyutan keras di kepalanya karena sakit tersebut. Ia pun menerima pemberian pemuda tersebut lalu segera membersihkan noda darah di mukanya. “Mending kamu turun aja terus obatin lukanya ya.” Si bapak memberikan saran. Si pemuda pun mengiyakan saran si bapak.

Tanpa pikir panjang Alinka pun turun dari bus mengikuti penumpang lainnya setelah berterima kasih ke si bapak dan si pemuda. Ia turun melalui pintu depan lalu segera menyebrang ke trotoar. Jalanan saat itu sudah sangat macet parah sehingga dengan mudah Ia melangkah dari jalur TransJ ke trotoar. Hujan masih setia menemani malam yang melelahkan ini. Lalu kembali ada yang menepuk pundak Alinka lagi, ternyata pemuda yang tadi. “Mbak, saya punya plester luka nih kalau mau buat sementara, mau gak?” ujarnya. Alinka mengangguk saja lalu si pemuda merogoh tas ranselnya mencari plester luka. Lalu Ia memberikan kepada Alinka, dan ia bertanya “mau saya yang pasangin gak mba? Kan kalau pasang sendiri gak tahu letak lukanya dimana?” Alinka pun kembali hanya mengangguk saja. Dia hanya pasrah diberi bantuan oleh orang asing. Selesai memakaikan plester ke Alinka pemuda itu bertanya lagi “rumahnya dimana mbak?” “Di Ciputat, mas dimana?” Alinka balik bertanya sekedar basa basi. “wah searah dong, saya di Lebak Bulus mbak.” jawab pemuda itu cepat.”Terus sekarang pulangnya mau gimana mbak? Kata teman-teman saya macet dimana-mana soalnya ada pohon tumbang di banyak tempat terus ada yang kebanjiran juga.” lanjut si pemuda tsb. “Waduh, yang bener mas? Yah gimana dong? Mas sendiri pulangnya gimana?” tanya balik Alinka. “Nah saya juga msh bingung, ini lagi nunggu jawaban teman saya yang naik kereta, semoga aja kereta lancar ya. Kalau naik kereta saya niat turun di stasiun Pondok Ranji terus nginep di rumah kakak Saya dekat situ.” jawab si pemuda.

“Ooh naik kereta ya, boleh jg sih tapi saya ga ngerti naik kereta mas.” balas Alinka. “Kalau mau bareng saya aja mba, nanti dari Statsiun Pdk Ranji naik ojek aja ya, nih teman saya sudah balas katanya kereta aman. Nah sekarang Saya mau ke Stasiun T. Abang, tapi dari sini ke stasiunnya saya bingung naik apa?” si pemuda berkata. “Kalau naik ojek berapa lama mas?”tanya Alinka. “hhhmm sekitar 20 menitan mba kalau ga macet.” Sahut si pemuda. “Tuh ada minimarket mbak, mending bersihin lukanya dulu sembari mikir pulangnya gimana” lanjut si pemuda. Alinka hanya mengangguk saja, dia sedang bingung dan tidak bisa berpikir karena rasa sakit dan lelahnya. Alinka disuruh duduk di salah satu meja di luar minimarket sedangkan si pemuda masuk ke dalam minimarket tsb. 

Setelah beberapa menit si pemuda membawakan sebuah plastik berisi plester dan obat luka beserta dua cup minuman hangat yang berisikan hot chocolate. “nih mbak diminum dulu biar tenang sedikit.” Kata si pemuda. Lalu dia membuka kemasan obat luka dan menawarkan untuk membantu membersihkan luka Alinka, namun ia menolaknya tapi akhirnya mau karena merasa kesulitan mengobati luka sendiri tanpa menggunakan cermin. “Mas, makasih banyak lhoh, Saya sampai lupa bilang, sudah bantu saya dari pas di Trans sampai sekarang. Maaf ngerepotin banget, oya nama mas siapa ya?” tukas Alinka tiba-tiba. “iya gak apa-apa mbak, saya ikhlas kok, apalagi ceweknya cantik kaya mba, nama saya Sakhi mba, boleh tau nama mba?” balas Sakhi sembari tertawa pelan balas “oooh nama saya Alinka mas.” Jawab Alinka lugas.

Mereka mengobrol sembari mencari solusi agar bisa pulang ke rumah masing-masing. Mereka pun memutuskan pulang menggunakan taksi bersama, karena jika m
enggunakan kereta pasti padat penumpang jam segini. Mereka pun segera mencari taksi dan langsung dapat. Di perjalanan mereka saling berbicara mengenai kegiatan sehari-hari, Alinka tidak merasa canggung lagi karena dia percaya Sakhi pemuda yang baik. Di perjalanan Alinka beberapa kali tertidur karena kelelahan, Sakhi juga sebetulnya mengantuk tapi dia tetap terjaga agar supir taksinya tidak salah arah. Alinka sempat memberitahu dimana rumahnya lalu Sakhi memutuskan mengantarnya terlebih dahulu walau rumahnya lebih dekat dibanding Alinka. Dia merasa Alinka sudah tidak ada tenaga buat menunjukkan arah jalan rumahnya. 

Ketika sampai di jalan rumah Alinka, Sakhi membangukan Alinka untuk menunjukkan dimana lokasi persis rumahnya. Akhirnya Alinka sampai di depan rumah itu, ia berkali-kali mengucapkan terima kasih ke Sakhi. Membuat pemuda itu jadi tidak enak hati takut niat baiknya disangka memanfaatkan keadaan. “lain kali boleh ya saya mampir ke sini mba? Celetuk Sakhi. Alinka hanya tersenyum tipis dan melambaikan tangannya serta berjalan menuju ke rumahnya tanpa pernah menoleh ke belakang. Sakhi pun merasa ini terkahir kalinya ia melihat rumah tersebut atau gadis itu. Padahal Ia berharap bisa ke rumah itu lagi suatu saat untuk menemui Alinka.

Perjalan malam ini menghabiskan waktu hampir tiga jam untuk tiba di rumah Alinka, sebuah perjalanan waktu yang luar biasa pada malam itu, Jakarta benar-benar chaos sekali. Alinka pun langsung tertidur lelap, berharap besok pagi Jakarta lebih bersahabat.

P








S:Penulis:
.:RR:.


Share:

Cerita Pembuatan e-KTP yang Hilang

Tanggal 01 Juni 2017 untuk pertama kalinya dalam hidup gw kehilangan sebuah benda, benda itu adalah benda berharga yang berisikan kartu-kartu penting, dompet! Alhamdulillah gw seumur-umur belum pernah kecopetan, dijambret, kehilangan handphone dsb. Tetapi di awal bulan Ramadhan gw harus ikhlas dapat cobaan seperti ini. Gak perlu gw ceritain kronologis kehilangan dompet nya ya, karena yang menjadi sorotan gw di sini adalah tentang e-KTP atau Kartu Tanda Penduduk-elektronik.


Setelah membuat Surat Keterangan Kehilangan di Polres Kelapa Gading, esoknya gw mulai berurusan dengan bank-bank terlebih dahulu untuk membuat kartu debit. Lalu minggu depannya baru berencana mengurus e-KTP. Gw agak malas urus e-KTP karena kelurahannya jauh, rumah gw di Tangsel tapi e-KTP gw terdaftar sebagai warga Jakpus, kebetulan di sana ada rumah almh. nenek. Akhirnya diputuskan Senin pagi sehabis sahur gw mau langsung jalan ke Bendungan Hilir. Lucky me! papa mau nganterin karena sekalian beliau mau check-up di RSAL Mintohardjo.

Pertama gw ke rumah ketua RT yang posisinya dekat banget dengan rumah nenek, dimana rumah nenek gw itu hanya bisa gw pandangi dari jauh. Ketemu lah dengan pak RT yang sebelumnya sudah gw hubungi untuk membuat janji dan maksud kedatangan. Pak RT nya ramah dan cukup membantu, Sebelumnya ada percakapan gw dengan papa mengenai memberikan tips sebagai rasa terima kasih ke pak RT. Gw sih tadinya gak mau karena gw pikir itu bagian dari pekerjannya, tetapi kata Papa, pak RT itu gak digaji. Hoo oke lah gw kasih kalau begitu, lagian juga gak seberapa. Beda kasusnya saat mengurus SKK di polres, gw udh mengingatkan temen gw untuk jangan memberikan uang tips sama sekali, karena itu adalah bagian dari pekerjaannya. Tetapi tetep lah temen gw memberikan tips, mana gede banget, gw jadi emosi seketika, secara itu ga etis buat gw pribadi. Tau sendiri kan kalo ngurus SKK polisi tuh suka lama (pengalaman gw-gatau kalau polisi lain) lama ngetiknya, nanya-nanya nya (oke lah kalau nanya-nanya lama gpp) tapi kan mereka suka banget salah-salah ketik gitu, Udah memberikan tips gede tapi cuma dikasih 1 SKK berlegalisir dan tampaknya gw harus balik lagi ke sana untuk meminta SKK legalisir guna keperluan mengurus kartu lain  yang hilang.


Setelah dari pak RT gw langsung ke Kelurahan, karena memang diinfokan tidak perlu tandatangan ketua RW lagi. Pak RT menginfokan kelurahan buka jam 08.00 tetapi ternyata dari jam 07.30 sudah buka dan sudah ada petugas yang bekerja, juga ada pasukan orange yang sedang apel pagi. Gw ditemui oleh seorang petugas pria dan langsung menanyakan kok gak ditandatangani ketua RW, gw jawab karena instruksi dari pak RT adalah langsung saja ke kelurahan. Lalu beliau membalas dengan 'lhoooh kok pak RT gak tau kalo harus ke RW dulu, nanti saya tegur deh". Gw timpali dengan "ya mungkin pak RW nya masih ngantuk pak abis sahur belum tidur. hehe" Jadilah bapak itu melihat Kartu Keluarga gw dan mulai deh nanya-nanya gak penting, seperti "lhoooh udh lulus kuliah saya pikir masih anak kuliahan" "lhoooh kok belum kawin, cakep2 gini, udah umurnya tuh" "hooo lahirnya jauh yaaa" zz gw tanggepin dengan cengar cengir kuda aja. Intinya si bapak itu menjelaskan gw harus ke rumah ketua RW dulu dan gw gatau rumahnya dimana, namun berkat kehebatan kang Uber Motor sampai lah gw di rumah RW.






Sampai di sana rumahnya sepi, ada nenek dengan rambut beruban keluar dan gak tau dimana pak RW, entah lagi tidur atau sedang keluar katanya. Kata nenek itu dititipin aja dokumen yang mau ditandatangan, gw menolak, yang ada dokumen gw bisa ilang nanti, gw tanya aja memangnya tidak bisa diwakilkan oleh yang lain. Beliau menyarankan kalau gw sebaiknya ke rumah sekretarisnya saja di gang sebelah, saat itu gw lagi puasa, udah lemes bgt sih sebenernya, tetapi untung cuaca tidak terlalu panas. Gw jalan ke rumah sekretaris dan langsung ketemu beliau dan kami kembali lagi ke rumah pak RW dan langsung dieksekusi surat gw. Dalem hati gw mendesah emang gak bisa ditelfon aja apa biar gw gak mondar mandir. Lelah bang lelah, ngurus ginian sendiri baru pertama kali, biasanya diurusin, seketika gw jadi merasa lebih dewasa bisa ngurus perintilan begini, secara bisa ditemenin mama kalo begini. haha. Bapak sekretaris itu cukup baik untuk mengingatkan gw agar mengcopy dulu semua berkas.





Kembali lagi gw ke kantor kelurahan, ketemu bapak yang tadi dan berkas gw diambil. Berkas-berkas itu terdiri dari:

1. SKK asli dari polres/polsek

2. Fotocopy Kartu Keluarga

3. Surat pengantar RT dan jangan lupa wajib ditandatangani RW
4. Fotocopy e-KTP lama

KTP lama gw sudah yang elektronik tetapi masih ada tulisan masa berlaku, walaupun secara sistem sudah tercatat dengan berlaku seumur hidup, jadi memang baiknya sekalian diganti kata petugas. Tetapi permasalahannya seperti yang sudah kita ketahui, ada kasus korupsi pada penyediaan blanko e-KTP yang sekarang tersangkanya masih dalam masa persidangan. Jadi akan memakan waktu untuk proses nya, untuk sementara akan dibuatkan resi e-KTP. Gw bertanya kapan jadinya e-KTP, apakah akhir tahun ini? kata petugas diusahakan bulan Agustus karena blanko nya sedang proses cetak. Heran masih aja ya ada koruptor udah tahun 2017, masih aja mau makan yang bukan hak-nya, akhirnya kepentingan bersama jadi terganggu. Dan KTP gw sekarang dari HVS -____-

Setelah berkas gw di bawa ke dalam, lalu menunggu beberapa saat dan gw dipanggil untuk tanda tangan, tidak perlu foto lagi, padahal gw ngarepnya bisa foto supaya update aja gitu. Ternyata yang mengecewakan resi nya itu tidak bisa langsung diambil, harus diambil besok jam 07.00. Gw udah khusus cuti kerja hari ini buat mengurus e-KTP, ya kali besok gw harus ke sini lagi buat ambil resi doang. Gw gak ngerti apa susahnya itu resi langsung dicetak. Gw putuskan untuk diwakili kakak gw aja mengenai pengambilan resi, karena kebetulan kantor kakak dekat daerah benhil.

Begitulah proses pembuatan e-KTP sudah tidak terlalu ribet seperti dulu, tapi apa gunanya elektronik-nya ya? elektronik itu bukannya untuk mempermudah warga dengan sistem data online dsb. Di sini kita masih harus mondar mandi menghadapi birokrasi.


INDONESIA AYO MAJU!!



Share:

27 Januari 2017

Ujung Kulon

Di Ujung Kulon, Banten terdapat banyak pulau yang cantik dan juga pulau lainnya yang lokasinya agak tersembunyi serta memerlukan perjuangan ekstra untuk mengunjunginya. Jarak tempuh yang cukup jauh dan terpencil itulah yang mungkin masih menjadi faktor penjaga keindahan alami pantai tersebut.

Pada tanggal 23-25 Desember 2016 gw bersama kakak dan teman-teman mengikuti open trip dari travel yang tidak gw rekomendasikan ngetripmulu.com, nanti akan diceritakan alasannya. Kami berencana untuk snorkeling di Pulau Peucang dan Badul, lalu ke Padang Rumput Cidaon dan ke Pulau Handeleum untuk bersampan di Sungai Cigenter.

Travel yang kami gunakan saat itu memang tidak cukup memuaskan, karena dari awal perjalanan saja mereka sudah mengecewakan. Pertama, saat kumpul di meeting point Plaza Semanggi waktu keberangkatan sudah sangat terlambat. Direncanakan berangkat pukul 21.00 tetapi mundur sampai pukul 24.00 dikarenakan bus pariwisata kondisinya tidak prima, seharusnya kan sudah dicek jauh dari sebelum waktu keberangkatan. Akhirnya kami terlunta-lunta di pelataran Plaza Semanggi, sampai akhirnya diminta  dengan baik oleh security untuk menunggu di tempat lain karena hari sudah malam sekali. Selama perjalanan menuju desa Sumur gw habiskan dengan tidur dan yang gw sesalkan adalah kenapa tidak kepikiran untuk membeli obat anti mabok sebelumnya. akhirnya kami tiba sekitar pukul 07.00 di Desa Sumur.

Setelah mendaratkan kaki di rumah Captain Komodo, kapten kapal kami yang membuat perjalanan jadi menyenangkan, kami disuguhkan sarapan nasi uduk dan segera setelah selesai sarapan kami berjalan kaki ke pantai untuk menyeberang naik kapal ke Pulau Peucang. Ternyata waktu tempuhnya lama sekali sekitar 3-3.5 jam dan saat itu cuaca sedang tidak bersahabat dan ombak cukup tinggi, alhasil gw sukses jackpot dua kali. Di saat inilah gw sangat merindukan antimo dan mengutuk kebodohan gw karena gak kepikiran sama sekali untuk membelinya. Sepanjang perjalanan di kapal gw pusing parah dan bener-bener gak bisa menemukan posisi yang nyaman. Untung kantong plastik selalu tersedia.

Tepian pantai di Desa Sumur

Tempat menyeberang kapal di Desa Sumur


Akhirnya sekitar pukul 11.00 kami tiba di Peucang dan juga masih disambut dengan hujan deras, kami berlari menuju penginapan yang sangat jauh dari kata layak. Hal kedua yang membuat kami kecewa dengan travel ini. Kami heran kenapa diberikan fasilitas penginapan seperti ini, apakah memang biaya kami untuk paket yang sangat tidak layak ini. Setelah beberes dan beristirahat kami kembali menuju kapal, dan oleh Omen travel guide dari ngetripmulu.com kami diberikan pilihan untuk trekking di sekitar Honje atau langsung snorkeling, kami memilih pilihan yang kedua, entah karena memang kami pemalas semua untuk jalan kaki atau oh mungkin karena hujan, takut jalanan licin dan jadi berbahaya. Hal ketiga yang membuat kami paling kecewa dengan travel ini adalah tidak adanya inisiatif dari guide untuk membuat trip ini menjadi lebih menyenangkan dan nyaman.



Panorama Pulau Peucang


Tiba di snorkeling spot, kami langsung nyebur setelah diberikan beberapa pengarahan. Mungkin karena faktor cuaca yang tidak mendukung, pemandangan alam bawah laut tidak terlalu terlihat keindahannya dan sayang sekali banyak batu karang yang mati, mungkin sebagian besar juga karena snorkel amatir seperti kami yang tanpa sadar suka menginjaknya. Saat itu hujan masih turun dan kami terus snorkeling berharap akan menemukan ikan-ikan cantik dan coral reef yang menggoda mata. Tapi usaha kami tidak terlalu sukses, jadi setelah beberapa jam kami kembali ke kapal karena hari juga sudah mulai sore. 




Setelah bebersih di penginapan gw dan teman-teman kembali ke kapal, karena memang suasananya lebih nyaman di kapal daripada di penginapan dan kapten kapal juga cukup baik. Sesudah melahap bersih satu mie instan, ngobrol-ngobrol dan mendengarkan lagu gw pun langsung terlelap di kapal, emang dasar pelor. Ternyata yang lain pun juga ikut tertidur dan bangun-bangun gw kaget karena banyak kecoa kecil berkeliaran di badan kapal di atas kepala gw, dan  tas gw yang ternyata terbuka resletingnya dimasuki oleh kecoa-kecoa kecil. Panik dan langsung kabur dari kapal. Dari awal tidur ternyata gw sudah diketawain oleh mereka katanya bisa aja gw tidur banyak kecoa begitu, lah mana gw tau kalau ternyata kecoa aja mau deket-deket sm gw.

Makan malam pun siap dihidangkan, kami santap dengan sukarela dan hati yang berbahagia. Masakan karya captain  yang juga bisa beralih profesi menjadi chef ini cukup enak, namanya lelaki yang biasa hidup di atas kapal jadi ya harus terbiasa untuk bisa masak. Dua sampai tiga jam waktu sudah berlalu di kapal, lalu kami kembali ke penginapan dan gw sudah berencana untuk langsung tidur. Ternyata ada ajakan bermain kartu di penginapan dekat situ, gw iya-iyain aja tanpa ada niatan untuk benar-benar datang. 


Esok hari, pagi-pagi kami sudah beres packing dan menaikkan barang-barang ke kapal. Sambil sarapan di kapal, kami berangkat ke Cidaon untuk berkeliling di padang rumput yang konon katanya kami bisa melihat hewan-hewan liar secara dekat, seperti sapi, banteng, kerbau, bahkan terkadang ada badak bercula satu. Namun yang kami lihat hanya kotoran-kotoran hewan tersebut,, yaa mungkin sapi. Ternyata sudah lama kata penduduk sekitar hewan tersebut tidak terlihat, sangat susah ditemui saat ini. Akhirnya kami bermain-main dan berfoto-foto saja di Cidaon. 




Dilanjutkan dengan perjalanan ke Handeleum untuk bersampan di Sungai Ciganter. Sejujurnya bersampannya biasa-biasa saja, tidak ada pemandangan yang terlalu menarik, ya mungkin keindahan sudah tidak seperti dulu, seperti keindahan yang dulu pernaha ada.




Lanjut kami mampir di pulau Badul untuk snorkeling, tadinya gw dan teman-teman udah malas untuk basah-basahan lagi. Tetapi saat melihat birunya laut dan cuaca yang cerah gw langsung mengurungkan niat gw. Ternyata di Badul baru saja dilakukan coral reef recovery, jadi batu karang tersebut baru ditanam kembali untuk terus menjaga dan mengembangkan keindahan biota di bawah laut. Ikan-ikan di pulau tersebut juga lebih banyak dan lebih cantik. Di dekat Badul, ada pulau kecil yang gw kira bisa dicapai dengan berenang, ternyata belum ada separuh perjalanan gw udah ngos-ngsoan dan langsung balik kanan siap grak. Setelah puas, kami kembali naik ke kapal dan segera melanjutkan perjalanan pulau ke Desa Sumur. Di perjalanan pulang ini gw sukses nggak jackpot, mungkin karena banyak singgah di beberapa tempat, sehingga perjalanan jadi terasa lebih menyenangkan.




Perjalanan menuju Jakarta menggunakan bus pariwisata yang sama saat kami berangkat, lalu kami makan malam di restoran lokal pinggir jalan dan sudah tidak termasuk biaya dari travel ini. Sekitar pukul 24.00 kami tiba di Plaza Semanggi dan langsung kembali ke rumah masing-masing.




Share:

18 November 2016

Pulau Harapan

25 Maret 2016 terjadilah piknik lainnya ke pulau seribu bersama sahabat gw dan teman-teman kantornya. Ya gw sih seperti biasa nebeng rombongan piknik orang lain dan diasikin aja. Seperti biasa kalau piknik ke Pulau seribu paling hanya memakan 2 hari 1 malam dan pilihan kali ini jatuh ke Pulau Harapan, dengan alasan karena peserta piknik rata-rata para jomblos yang tidak pernah putus harapan. haha

Malam sebelumnya tanggal 24 Maret,  gw memang sudah berencana setelah pulang dari kantor untuk menginap di kos Putri, agar perjalanan pagi hari ke Pelabuhan Muara Angke bisa dilakukan bersama-sama. Setelah shalat Subuh hari itu, tanpa mandi untuk efisiensi air dan waktu (alias malas) karena malamnya sebelum tidur sudah mandi, kami janjian dengan salah satu teman kantornya Putri di 711 daerah Benhil. Mereka saling memanggil nama de,ngan sebutan "Jon" yang samapai sekarang gw mash gak paham artinya apa. Lalu dengan menggunakan Uber kami menjemput teman lainnya di daerah Sarinah. Nah temannya yang satu lagi ini namanya Erick, seorang cowok ganteng yang merupakan teman dekatnya Putri, tetapi sayang kalau lagi makan bikin ilfeel karena gak bisa mingkem. Erick ini punya nama asli kalau gak salah Furqon, gw juga gak paham darimana panggilan Erick ini bisa muncul. Sejauh yang gw kenal dia sangat care dengan Putri (otomatis jadi care sama gw juga) baik dan bisa diandalkan untuk melindungi kita wanita-wanita yang rapuh (hatinya) hehe.

Kira-kira sekitar pukul 08.00 WIB kami sudah sampai di Angke dan menunggu rombongan lainnya serta kejelasan bisa naik kapal jam berapa. Kalau tidak salah saat itu kami totalnya lebih dari sepuluh orang  yang terdiri dari teman-teman kantornya Putri dan temannya itu membawa teman lagi. Karena anggota kita banyak jadi seingat gw jumlah biaya piknik ini tidak terlalu mahal dan relatif lebih murah. Kurang tahu saat itu kami menggunakan jasa trip darimana dan juga gw gak perlu mikirin karena gw hanya anggota piknik yang tinggal terima jadi.

Kebetulan gw baru pertama kali ke Pulau Seribu menggunakan Kapal Kelotok macam ini. Ternyata seru juga, terlalu seru malah. Untuk sampai ke kapal tujuan, kami harus menyeberang di antara kapal-kapal. Lompatan dari penyeberangan yang dilakukan juga cukup jauh, hal ini cukup sulit buat orang yang careless dan clumsy macam gw, apalagi gw sedikit takut dengan ketinggian. Jadilah si Eric yang rajin menolong kita, lebih banyak menolong Putri sebenarnya, karena walaupun begini-begini juga kan gw ingin terlihat strong.

Setelah sampai di kapal tujuan kami langsung mencari best spot untuk ngampar, karena kapal ini tidak menyediakan tempat duduk, kami semua lesehan di dalam kapal. Kapal ini dua tingkat, saat itu kami menempati deck yang atas.

Jadi Sarden Kaleng

TKI Siap Dikirim

Kami hanya tidur-tiduran, mendengarkan musik atau mengobrol dengan teman-teman selama perjalanan. Kurang lebih untuk sampai ke Pulau Harapan menggunakan kapal kelotok membutuhkan waktu sekitar 3-3.5 jam. Setibanya di Pulau kami langsung bahagia karena mendapatkan Vitamin Sea dan disuguhkan pemandangan yang memanjakan mata.

Disambut oleh Luasnya Laut



Selama di sana kami menginap di rumah penduduk yang dimana SIM card gw dari provider Halo tidak bisa mendapatkan signal 2G, 3G dan 4G sama sekali (masalah penting abad ini), harus ke pinggir laut atau saat snorkeling baru kami mendapatkan signal. Rumahnya cukup nyaman, terdiri dari dua kamar ber-AC, dua toilet dan satu ruang tamu serta ruang TV/ruang makan. Sesampainya di rumah penduduk (tentu saja pemilik rumah aslinya ngungsi dulu) kami langsung disajikan makanan yang sangat enak menurut gw. Ikan besar-besar yang dibumbu kuning, ikannya masih segar banget, lalu ada sayur-sayuran dan buah-buahan. Kami di sana juga tidak perlu repot mencuci piring, kalau sudah selesai cukup diletakkan di teras rumah dan akan diambil oleh yang bertugas. 

Setelah berisitirahat sejenak lalu mengatur pembagian kamar dan merapihkan barang-barang, kami langsung menuju laut untuk snorkeling di beberapa pulau. Walaupun ini pengalaman snorkeling pertama gw tidak merasa takut karena gw juga memang cinta pantai, laut dan air daripada harus ke pegunungan yang berada di dataran tinggi dan dingin. Gw punya satu tips jitu, kalau lagi snorkeling jauhilah tipe teman yang gampang panik di dalam air, kalau dekat-dekat niscaya snorkeling kita akan jauh dari kata damai. Gw gak paham apa yang harus dipanikin, karena kan kita sudah tahu kalau mau snorkeling dan itu pilihan kita sendiri bukan paksaan dari orang lain, jadi kita seharusnya sudah mempersiapkan mental dan tidak usah panik, juga tidak usah takut tenggelam karena menggunakan pelampung dan tabung oksigen, InsyaAllah semua aman kalau sebelumnya kita sudah berdoa dan mengecek keamanan peralatan. 

Begitu perahu berlayar, semilir angin yang menerpa muka terasa sejuk sekali, walaupun matahari sangat menyengat, tetapi gw sangat menikmati perjalanan di perahu saat itu. Lalu kami sampai di pulau pertama (yang gw lupa namanya) lalu kami langsung memakai peralatan snorkeling dan nyebuuuuur. Melihat pemandangan bawah laut, ikan-ikan yang cantik, terumbu karang yang indah serta mencicipi asinnya air laut. Wajar aja kakak ke-2 gw sangat kecanduan snorkeling. ternyata rasanya emang bikin candu. Laut itu candu. Gw langsung berenang agak menjauhi kawan-kawan lain agar bisa menikmati momen itu sebaik-baiknya. Sampai diteriakin anak ilang sama yang lain karena sendirian saja. Tetapi kalau ada momen foto-foto langsung join gak mau ketinggalan dong.





Setelah puas main di Pulau pertama kami menaiki perahu lagi dan melanjutkan perjalanan ke pulau berikutnya. Agenda di pulau ke-2 tidak berbeda jauh dengan di pulau pertama. Lalu di pulau ketiga, yang kalau tidak salah namanya Pulau Gosong, di sana kami boleh melepaskan pelampung karena lautnya cukup dangkal dan didasari oleh pasir putih yang halus. Cantik sekali.




Sangat disayangkan karena sampai saat ini gw belum menerima hasil dari foto-foto underwater. Maklum aja Putri sibuk banget sampai-sampai gak sempet cuma buat copy file foto dari teman-temanya. Seharusnya di sini bisa menampilkan hasil foto-foto dari terumbu karang dan gaya-gaya norak gw dari dalam air. hehe.

Setelah puas ber-snorkeling-ria kami melakukan pemberhentian di sebuah Pulau peristirahatan yang sudah ramai oleh wisatawan lainnya. Di Pulau tersebut kami disuguhkan aneka makanan yang bisa dibeli, seperti jagung bakar, aneka pop mie dan aneka gorengan yang mungkin karena kami capek dan lapar jadi semua rasanya enak di lidah. 

Landscape di Pulau Peristirahatan

Sekitar 1-1.5 jam di Pulau tersebut, yang sebagian besar waktunya kami habiskan untuk berfoto dan bermain ayunan, akhirnya kami kembali lagi ke perahu untuk segera pulang ke rumah penduduk. Malam itu ada agenda kami adalah makan malam fresh seafood di tepi pantai. Sesampainya di rumah kami langsung mandi secara bergiliran, karena kalau mandinya ramai-ramai niscaya tidak akan selesai-selesai mandinya. Lalu kami beristirahat di kamar dan menunggu hingga waktu makan malam tiba. Karena gw pelor parah waktu beristirahat di kamar itu gw jadikan waktu tidur juga, lalu gw dibangunin putri dan entah kenapa gw bangun dengan kaget dan akhirnya ditertawai hampir semua orang di rumah. Setelah menikmati makan malam gw dan Putri ingin kembali duluan ke rumah, tetapi di perjalanan pulang kami nyasar, mana cuma berdua dan suasana cukup gelap. Cukup lama kita mutar-mutar di pemukiman mencari jalan pulang, kembali lagi ke jalan awal, lalu masih saja nyasar, akhirnya setelah beberapa saat kami bertemu anggota piknik yang lain, jadilah kami selamat serta damai sentosa sampai rumah dalam keadaan utuh.

Esok paginya, 26 Maret, agenda kami setelah sarapan adalah ke penangkaran penyu di Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu. Cukup berjalan kaki selama 20 menit dari rumah dan sampai lah kami di sana.




Saat melihat penyu-penyu yang lucu ini tentu saja gw menjadi gemas dan ingin menggendong. Tetapi gw baru tahu setelahnya dari artikel di internet bahwa sebaiknya Penyu itu tidak tersentuh panas tangan dari manusia. Jadi maafin ya Penyu yang udh gw gendong jika merasa tidak nyaman.

Selesai bermain dan berfoto di Penangkaran Penyu kami kembali ke rumah penduduk dan segera mengambil barang-barang yang sudah dirapihkan sebelumnya lalu mengantri untuk menaiki kapal, dan pulang ke habitat masing-masing.

Saat itu gw sudah tidak sabar untuk segera pulang, karena malam harinya akan bertemu dengan orang yang selama itu sudah sangat ingin gw temui. 


Adios!









Share:

2 November 2016

Rafting Seru

Daripada melakukan kegiatan olahraga yang harus melayang-layang di udara seperti flying fox, paralayang, bungee jumping,  gw lebih memilih olahraga di air seperti rafting, snorkeling, kano dan renang. Gw memilih aman karena gw gak bisa terbang, tapi bisa berenang, yah walaupun cuma gaya katak sih. Untuk kedua kalinya gw melakukan rafting, kali ini bersama teman-teman kampus. Setelah rafting yang pertama, perasaan gw memang masih nagih  pengen lagi, mungkin karena belum jatuh ke jeram jadi belum berasa.

Lokasinya masih sama di sungai sekitaran kota Sukabumi, Sungai Citatih namanya. Direncanakan dalam waktu yang cukup lama, karena cukup sulit untuk ngumpulin masa nya. Seperti biasa selalu gw yang aktif untuk mengajak anak-anak di grup Whatsapp. Akhirnya hanya terkumpul sekitar 11 orang dan itu juga sudah ditambah oleh saudaranya teman-teman. Memang makin ke sini makin susah kumpul kalau ada kegiatan.

Kami berangkat dari Sabtu malam hari, kumpul jam 21.00 di daerah sekitar Ciputat, berangkat jam 23.30 (iya kelamaan ngaretnya kalau janjian) lalu menuju Sukabumi via Parung, yang pada saat itu bukan main macetnya dan sekitar jam 04.00 subuh kami baru tiba di lokasi. Rencana awal kami akan check-in di sebuah hotel daerah sana sampai jam 08.00. Tetapi karena lama waktu untuk  menempati hotel hanya akan sebentar jadilah kami tidur-tiduran di mushalla dan mobil saja.

Saat itu kami menggunakan provider rafting dari Niagara yang merupakan rekomendasi dari teman. Secara keseluruhan provider ini memuaskan, kami juga mendapatkan harga spesial dan saat pelunasan pembayaran di tempat, kami mendapatkan potongan harga lagi. Setelah sarapan di meeting point (juga setelah melalui beberapa drama pagi hari, sampai ada teman yang meneteskan air mata, maklum mulut kami silet semua. hehe), kami berangkat menggunakan angkutan kecil ke lokasi rafting. Seperti biasa perjalanannya pasti melalui jalan kecil dan sangat bergelombang alias masih bebatuan.

Sesampainya di sana kami memilih pelampung, helm dan dayung lalu kami berkumpul dan mendengarkan dengan seksama petunjuk keamanan dari provider. Lalu turun ke sungai melalui tangga yang cukup curam, seperti biasa ya karena gw takut kalau liat pemandangan dari atas jadilah gw turung tangga pelan-pelan dan membuat antrian yang cukup panjang ke belakang. Karena grup kami yang bermain rafting hanya 10 orang, jadilah kami dibagi dua boat. Gw lupa siapa nama ranger kami, gw sih manggilnya bang ganteng, ya biar asik aja.

Rafting yang kami pilih waktu itu yang sejauh 25km ditempuh selama kurang lebih 2.5 jam dan sudah ternasuk waktu istirahat di sungai. Awal rafting dimulai semua terasa baik-baik saja dan menyenangkan, bahkan kami diperbolehkan berenang di Sungai. Karena baru pertama berenang di Sungai jadi rasanya enak banget, seperti kembali menjadi anak kecil dan airnya juga terasa dingin dan menyegarkan, tetapi ada satu teman di boat gw yang gak mau ikutan berenang.

Jeram demi jeram kami lalui dengan baik. Satu perkataan ranger yang gw gak lupa "kelompok ini kalau setiap masuk jeram selalu diam ya gak ada yang teriak." Sontak gw langsung spontan ketawa karena memang sepanjang perjalanan kami lebih banyak mengobrol a.k.a curhat dan diam ketakutan saat memasuki Jeram. Jadilah sejak mendengar kalimat itu kami langsung teriak-teriak secara berlebihan. Ya biar abang hepi aja.

Setelah beberapa jeram, gw lupa lagi itu jeram ke berapa dan namanya apa, kami kompak satu boat jatuh ke dalam jeram, hanya dua orang yang bisa bertahan di boat, yaitu ranger dan teman yang paling berisik teriaknya. Saat jatuh ke dalam Jeram, yang gw rasakan itu boat nya terbalik, tetapi kenyataannya tidak. Otomatis gw dan teman-teman lainnya langsung tertarik arus jeram ke dasar sungai dan sukses manghasilkan kaki beserta punggung terantuk-antuk batu. Paling gw takuti saat terbawa arus itu kalau di belakang kami ada batu besar, gak kebayang gimana rasanya kalau nabrak batu besar banget. Saat itu gw sih gak sampe meminum air sungai, berusaha mingkem aja, tetapi air banyak masuk melalui hidung. Perasaan gw waktu terbawa arus dan tenggelam itu sedikit panik tetapi tetap berusaha tenang karena yakin kalau pakai pelampung pasti akan terbawa ke permukaan. Cuma susah saja mempertahankan posisi yang benar jika tenggelam seperti itu, posisi aman supaya kaki dan dengkul tidak terantuk batu di dasar Sungai.

Gw melihat teman-teman terbawa arus ke arah berbeda, gw berusaha naik ke permukaan dan berharap terbawa arus ke aliran sungai yang tenang. Akhirnya gw berhasil memijakkan kaki di atas batu yang terletak di tengah Sungai, di titik itu aliran masih cukup deras dan gw berharap agar segera di selamatkan rescue team atau boat manapun yang lewat. Saat kami jatuh ranger juga cukup panik karena harus segera memutuskan mau menolong yang mana, maka dia menolong yang terbawa arus paling dekat dan terlihat akan memasuki jeram berikutnya. Mungkin kaya gini kali ya sedikit banyak rasanya kalau kita body rafting.

Saat jatuh yang bikin gw panik cuma satu, kacamata gw lepas dr tempatnya, yaitu diantara hidung gw yang besar dan bulat tetapi mancung kalo dari samping. Salah gw sih karena gak pake karet pengaman untuk kacamata. Gw panik karena gak akan bisa melihat dengan jelas dan masih sayang banget sama kacamata ini, jadi gak mau kehilangan gitu rasanya. Akhirnya setelah terombang ambing jeram gw berhasil ketemu lagi sama si kacamata (mungkin seperti ini yang namanya jodoh, sejauh apapun pergi pasti akan tetap bertemu kembali) tetapi ternyata lensa dan frame sudah pada lecet. Hati gw hancur melihatnya.

Kami semua sukses diselamatkan dan kembali ke boat masing-masing. Lalu dengan annoying dan sok manja gw ngebacot ke si abang ranger kenapa kami semua sampai bisa jatuh di Jeram. Ternyata menurut penjelasan ranger saat kita harus dayung maju, kita semua pada diam gak ada yang mendayung. Mungkin kita kena jampi-jampi dari Setan Budeg sampai gak dengar perintah si abang.

Tidak terasa, perjalanan rafting kami memasuki garis finish. Kalau gw ngerasanya belum puas, masih terlalu sebentar dan tidak berasa (kurang berasa apalagi kan sudah nyemplung). Tetapi ada satu teman yang sudah kapok gak mau rafting lagi. hehe kasian trauma karena jatuh sepertinya. Oya, ada juga satu kejadian lucu dari boat sebelah, saat menjalari Sungai kami melihat semacam ritual yang dilakukan kakek-kakek, yaitu dimandikan di Sungai oleh teman-temannya dalam keadaan tanpa busana apapun. Teman gw melihat kejadian itu sampai melongo dan terjatuh dari boat, padahal temen gw itu cowok. Lucunya dia hanya sendiri jatuh dari boat karena terpana oleh pemandangan di tepi sungai dan saat aliran sungai sedang tenang.

Ya beginilah sedikit cerita dari rafting bersama teman-teman kuliah, yang ceritanya mungkin masih berantakan dan lompat-lompat alurnya. Jadi, kapan kita main-main lagi, berikutnya menarik nih ikutan one day trip dari Shine Projects :)









Share:

28 Oktober 2016

Uber -Your Own Private Driver-

Ini adalah salah satu pengalaman terburuk gw bersama pengemudi Uber. Setau gw tagline mereka itu adalah "Your Own Private Driver" yang artinya kita membayar mereka sebagai supir pribadi yang akan kita gunakan selama beberapa jam ke depan. Uber tidak mau mengklaim dirinya sebagai taxi, armada-nya menggunakan mobil biasa,  plat hitam, ya seperti mobil pribadi saja. Jadi seharusnya kan hubungan antara penumpang dan pengemudi lebih personal, mereka juga biasanya sudah dilatih atau setidaknya diberikan arahan dengan baik sebelumnya, sikap mereka juga biasanya lebih ramah daripada supir taxi biasa dan juga lebih baik juga cara mengemudinya. Gw termasuk pengguna Uber yang cukup setia, sudah semenjak kisaran tahun 2013/2014, mungkin itu adalah saat-saat pertama kemunculan mereka.

Tentunya banyak pengalaman mulai dari yang menyenangkan, biasa saja sampai ke yang menyebalkan. Berbagai sifat dan watak dari pengemudi, dari yang bawel sampai pendiam, dari yang suka curhat sampai suka ngedumel, terkadang karena pembicaraan yang terlalu panjang gw suka gak paham mereka itu sudah tahu belum tujuan atau arah jalan gw mau kemana. 

Sekarang yang akan gw ceritakan adalah pengalaman yang paling menyebalkan bersama pengemudi Uber, bisa dibilang gw juga sangat kecewa, ternyata ada pengemudi yang sangat tidak profesional dan tidak punya sopan santun di Uber.

Malam itu gw memesan Uber dari bilangan Mall Kelapa Gading 3 sekitar pukul 22.00 dengan tujuan ke Ciputat. Beberapa kali memesan, ada pengemudi yang tidak bisa dihubungi sampai ada yang minta cancel setelah tahu tujuan lokasi gw yang cukup jauh. Malam itu gw memang menggunakan Uber Pool dan gw sangat bersyukur akan hal ini. Karena kalau tidak berapa biaya yang harus dikeluarkan malam itu untuk suatu rute perjalanan yang sungguh sangat tidak masuk akal.

Jadi sebut sajalah pengemudi gw malam itu dengan nama samaran Budi. Saat pertama kali menaiki mobil,  Budi cukup ramah dan agak sedikit bawel. Menanyakan gw baru pulang kerja atau pulang main, kok mainnya jauh banget dari rumah dll. Gw sih sudah biasa dengan pertanyaan-pertanyaan itu, karena rata-rata itu yang akan ditanyakan oleh pengemudi. Sebelum ngobrol basa-basi Budi sudah menanyakan dengan lantang bahwa apa benar tujuan saya ke Ciputat dan gw menanggapi dengan 'iya pak, keluar tol Pondok Indah ya, nanti pindah ke JORR Simatupang". Dari nada-nya membalas, gw menilai kalau dia sudah tahu jalan,  kalau memang  tidak tahu jalan seharusnya dia meminta bantuan navigasi dari penumpang sedari awal

Malam itu gw sudah agak mengantuk dan agak tidak fokus memerhatikan jalan. Hanya merem sebentar lalu saat membuka mata tiba-tiba ada di persimpangan jalan dengan plang hijau bertuliskan arah kanan ke Pondok Indah dan kiri ke Cawang. Sontak gw langsung melek karena pengemudi terus saja mengambil lajur kiri dan berkata sedikit kencang agar pengemudi segera mengambil lajur kanan. Menurut gw kalau pengemudi segera menurunkan laju kendaraannya, lajur kanan itu masih bisa diambil. Namun dia terus saja menyetir dengan kecepatan yang sama dan mengambil belokan ke kiri. Gw gak paham, kalau dia gak tau jalan dia seharusnya memerhatikan GPS atau rambu-rambu petunjuk arah atau bisa juga kan bertanya ke penumpang. Bukannya sok tahu seperti ini.

Sontak gw langsung kesal, tetapi masih bertahan dan hanya bisa diam. Gw orangnya bingung arah, gw gak tau jalan lain lewat mana, gw gak tau lebih bagus lewat Cawang, atau keluar di Semanggi atau bagaimana. Pengemudi ini juga sama sekali tidak membantu. Hari sudah malam, capek dan masih disuruh mikir jalan, kalau gw harus mikir jalan ngapain gw naik Uber. Akhirnya malam itu jadilah gw muter-muter mengambil rute yang sangat jauh. Dari Utara ke Barat lalu ke Selatan (bisa dilihat di foto maps di bawah), berasa bodoh banget malam itu. Juga ada perasaan was-was kalau pengemudi ada niat tidak baik. Pokoknya malam itu sudah kesal banget tapi gak bisa juga langsung ngomel gitu aja ke pengemudi, cuma bisa ditahan.





Yang paling menyebalkan pengemudi ini tidak punya sopan santun sama sekali. Tidak ada kata-kata MAAF terlontar dari mulutnya setelah salah jalan. Oh iya, buat gw MAAF dan Terima kasih itu sangat penting.  Mendadak dia bisu dan tuli juga mungkin, yang tadinya bawel nanya ini itu langsung diam dan tidak merespon sama sekali setiap gw bertanya. Bikin tambah kesal aja.

Akhirnya setelah perjalanan yang panjang dan melelahkan sampai-lah gw di dekat rumah, gw gak berani turun di depan rumah persis, agak sedikit menjauh, hanya untuk jaga-jaga saja. Namun, pengalaman buruk ini belum berakhir, untuk pertama kalinya gw ketinggalan barang di mobil Uber. Biasanya gw selalu double check jika akan turun Uber dan pengemudi yang baik biasanya juga mengingatkan penumpang agar mengecek barang-barangnya lagi. Tetapi malam itu yang ada di pikiran gw cuma segera cepat-cepat turun dari mobil. Hasilnya, 1 botol parfum yang baru dibeli malam itu sukses tertinggal di mobil dan gw baru ingat setelah 30 menit sampai di rumah. Langsung gw hubungi si pengemudi dan mendapatkan respon. Pertama diputuskan untuk diantarkan esok harinya menggunakan gojek, namun ternyata tidak bisa karena jarak yang terlalu jauh. Akhirnya gw minta diantar saja oleh si pengemudi jika sudah ada waktu, tentunya akan gw berikan tips atas pertolongannya walaupun rada tidak ikhlas karena sudah kesal sama pengemudi.

Esok harinya, saat janjian awalnya berjalan baik namun lama kelamaan pengemudi ini mulai menyebalkan dan tidak sopan. Juga tidak ada rasa bersalah sama sekali, karena kondisi gw ini kan, selain karena kelalaian gw sendiri, juga sedikit banyak akibat dia yang tidak profesional menyetir. Bikin pusing, jadi gak fokus *nyari kambing hitam*. Padahal masih anak muda, tapi segitunya banget gak tahu jalan dan tidak bisa berkomunikasi dengan baik. Akhirnya karena capek sudah menghabiskan waktu seharian untuk janjian dengan pengemudi ini, gw ikhlaskan saja untuk dia parfumnya, kali aja parfum itu bisa membuat hatinya menjadi lebih wangi. Gw sudah gak tahan untuk berurusan sama pengemudi yang gak punya sopan santun ini dan tidak ada rasa ingin membantu sesama sama sekali. 

Gw berharap Uber bisa lebih selektif dalam mempekerjakan mitra pengemudi dan memberikan pelatihan yang layak. Karena selama ini gw gak terlalu banyak pengalaman aneh dengan Uber, walalupun terkadang ada saja pengemudi yang menyebalkan tetapi semuanya masih bisa diatasi. Biasanya gw rajin memberikan feedback ke Uber saat akhir perjalanan, baik karena alasan puas maupun tidak. Di kasus ini sudah jelas gw memberikan feedback tidak puas dengan kronologi yang detail tetapi setelah beberapa hari kemudian gw mendapatkan tanggapan dari Uber dan tidak puas dengan hasilnya. 

Sekarang tanggapan dari Uber seperti terlihat sekedarnya saja, dulu pernah saat di Bandung gw mendapatkan pengemudi yang tidak sopan (nada mengancam, suara keras), ingin memainkan argo dengan berbagai macam alasan, tetapi karena gw orangnya gak takutan sama manusia model begini ya gw tanggapin aja omongan dia dan nanyain alasannya, setelah itu gw iya-iyain aja. Intinya, dia minta tips yang besar, ya gw kasih aja apa yang dia mau daripada debat lama-lama sama orang gak penting, lalu kasih feedback dan akhirnya Uber bertanggungjawab dengan memberikan deposit untuk perjalanan berikutnya.  Pernah juga mendapatkan pengemudi yang juga salah mengambil jalan di tol lalu mobilnya mogok di pintu tol, akhirnya terpaksa gw jalan kaki keluar tol. Lalu, gw memberikan feedback dan dikasih free trip untuk perjalanan itu. Intinya bukan gw ngarep dikasih gratisan lagi (dikit sih) tetapi jadi terlihat image Uber yang dulu lebih baik dari sekarang dalam merespon keluhan pelanggannya.




Share:

20 Oktober 2016

Jakarta Asoy

Hi!

Gw mau cerita tentang pengalaman yang agak gak penting (lah emang ada yg penting di blog ini ya?) yaitu sedikit cerita mengenai perjuangan yang tidak seberapa menggunakan TransJakarta, disini akan gw singkat menjadi TJ. Tapi seperti biasa ada pembukaan tidak penting dulu yuk... :) 

---

Selain karyawan kantoran, profesi gw yang lain adalah kondektur bus AKAP, tapi bedanya gw ga pernah mintain uang malah ngasih uang (kenek yg aneh) hehe. Sebenarnya gw aja yang berasa kaya kondektur bus AKAP karena rute gw tiap Senin-Jumat yang memang Antar Kota Antar Provinsi. Rumah gw di bilangan TangSel dan kantor di ujung utara-nya Jakarta. Sudah hampir 4 tahun gw terbiasa seperti ini. Sejujurnya gw sendiri takjub kalau ternyata gw bisa 'maksain' diri kaya begini.

Kalau tersiksa kenapa gw ga ngekos aja deket kantor? Jawabannya adalah udah pernah!
Tapi, selama periode kurang lebih 6 bulan ngekos gw udah pindah kosan sampe 5x (kalau gak salah inget ya, biasa kalau cerita kan suka dilebih-lebihkan) Haha. Gak ada yang beres tempat tinggal deket kantor gw. Gw gak betah dan juga mungkin karena gw terlalu cinta sama Ciputat. Gak bisa kalau ga sekali saja menghirup udara di sana.

Gw berani pulang pergi gitu juga karena hal ini didukung oleh tidak lain dan tidak bukan bus MayasariBakti 135 rute langsung ciputat-priok. Bus nya enak, AC dingin banget, sudah dijamin pasti duduk, penumpang dari Ciputat karyawan kantoran semua jadi insyaAllah aman. Gw juga cinta banget karena rute nya lewat tol. Cuma ongkosnya aja yang mahal 15.000. Berasa banget semingu 5x naik itu ditambah masih harus menaiki ojek dari rumah ke bus dan dari turun bus ke kantor. Untung sekarang banyak ojek online yang lebih murah dari ojek pangkalan.

Masalahnya sekarang (kurang lebih satu bulan) adalah bus itu sudah dihapus!! iya dihapus, gak tau kemana, ilang, raib gitu aja. Gw mikirin penumpang yang lain pada naik apa ya sekarang. 

Begitulah info yang diterima dari seorang ibu cantik yang biasa jadi teman bareng melintas dari selatan ke Utara setelah gw cuti kerja karena harus ke PadangKaget bukan main, rasanya shock banget bus kesayangan gw itu akhirnya habis juga masa bakti-nya. Mana belum sempat farewell sama pak supir dan mas/mba kondektur nya yang ramah-ramah. Hiks banget lah pokoknya.

Namun ternyata tidak berselang lama pemerintah sudah menyediakan alternatif lain yaitu bus feeder TransJakarta dari Ciputat-Kp.Rambutan. Cuma sudah pasti kan rutenya gak sama, TIDAK LEWAT TOL. Perjalanan menggunakan TJ ke kantor bisa saya tempuh dengan beberapa kali transit dengan waktu tempuh 2x lipat serta capek 10x lipat. Badan kaya digebukin warga sekampung akhir-akhir ini. Gak usah diceritain lah ya transitnya kaya apa dan berapa kali, mendingan tanya aja sama petugas TJ rute Ciputat-Tj.Priok tuh kaya gimana menyenangkannya. 

Enak sih memang bus masih tergolong baru dan masih terawat, AC masih dingin dan murah, cuma 3.500 aja sudah bisa kemana-mana. Kalo gw pribadi menilai Jakarta berkembang cukup pesat saat dikepalai oleh Ahok. 
Terutama dari segi transportasi, TJ sendiri sudah banyak sekali penambahan koridor baru, jumlah armada bus yang terus bertambah secara signifikan dan yang paling penting pelayanan oleh para petugas TJ yang semakin meningkat. Gw salut sama mereka yang mau dibayar untuk kerja berdiri selama berjam-jam. Mengatur manusia-manusia dewasa yang sudah pada gede tapi ada aja kelakuan masih kaya bocah. 

Nah ada lagi yang jadi terbosan dari TJ, mungkin ini cuma ada di Indonesia, yaitu pemisahan bagian untuk wanita dan area umum (pria dan wanita). Akibat banyak kasus pelecehan yang sudah terjadi jadi dibuatlah peraturan keren ini, cocok dengan kebiasaan dan budaya kita. Untuk area wanita dari bagian depan dekat supir sampai ke bagian tengah dan area umum dari tengah ke belakang, ini untuk ukuran bus besar yang gandeng ya. Namun miris juga mendengarnya karena ini berarti moral sebagian warga kita yang masih bobrok, masa segitunya banget tidak  bisa sopan ke wanita. Malah yang sering disalahkan adalah pihak wanita yang memakai pakaian yang terlalu terbuka, ketat atau pun sexy. Memang benar adanya menurut gw masih banyak sebagian dari orang-orang kita suka kurang kontrol mengenai etika, sopan santun, bersikap ramah dan penghargaan terhadap orang lain.

Bagusnya karena gw menggunakan TJ di jam kerja jadi penumpang lainnya juga rata-rata karyawan. Yang seharusnya lebih "cerdas", wangi (kalau masih pagi) dan mempunyai etika. Tapi ada aja sih kejadian-kejadian bikin ngakak kalau pagi-pagi melihat tingkah laku penumpang. karena ternyata banyak sekali  lhoh masyarakat Jakarta yang tidak punya empati dan "menutup mata". Semua orang memang pasti punya masalah tapi masa iya harus dilampiaskan ke orang asing. Karena kalau gw perhatikan rata-rata mereka jadi sensi, senewen, sewot, gak mau ngalah, gak bisa antri, dorong-dorongan karena kurang piknik. Jadi dilampiaskan aja kekesalannya kepada orang asing dan di tempat umum atau ya mungkin cuma dia yang mengalami hari terburuk sedunia saat itu. Kalau ada yang berantem fisik seru juga kayanya sekali-kali karena seringnya berantem mulut aja sih. Kalo lo kesel ya diam, gak suka ya diam, gak semuanya perlu diomongin ke orang lain (ngomong sama kaca Ai). Atau kaya gw untuk meluapkan sesuatu bisa nulis di blog pribadi, toh tidak merugikan siapa-siapa, kalo ada yang gak suka ya gak usah di baca, as simple as that. Juga blog ini bisa dianggap sebagai pensieve-nya Dumbledore di film Harry Potter. hehe.

Selain senyam-senyum cengengesan, ini juga salah satu hobi gw: meratiin tingkah laku manusia.
Manusia itu kan unik, gak ada yang sama. Jadi seru aja gitu.

Kembali ke topik, salah satu kendala yang menurut gw masih perlu diperhatikan adalah mengenai kapasitas tempat duduk yang tidak sebanding dengan jumlah penumpang dan waktu tempuh perjalanan. Gw sendiri merasa butuh untuk tidak duduk saat menaiki TJ. Tapi dengan catatan waktu tempuh yang gw lalui adalah  2-3 jam dan setiap hari (5 hari sih, biar lebay aja), hayo siapa yang sanggup? Eh, apa gw doang yang kaya gini ya. Siapa suruh mau kerja di pinggir laut tapi rumah deket gunung. Hiks.

Oleh karena itu gw lebih milih duduk di tangga-tangga dekat pak Supir daripada duduk di kursi penumpang. Selain karena bisa melihat pemandangan JKT yg super asik dari kaca depan, juga karena ada aja rasa enggan, biarlah orang lain yang lebih bisa menikmati kenyamanan sementara itu. Lebih nyaman duduk di tangga daripada gw kualat sama orang tua, penumpang membawa anak kecil, orang dengan kebutuhan khusus atau ibu hamil karena gak mau kasih tempat duduk. Hehe. 

Gw bisa duduk di tangga juga karena rata-rata halte transit yang digunakan adalah halte pertama (bus masih kosong). Jadi langsung aja cus ke samping pak Supir walaupun kursi penumpang masih pada kosong. Bukan gw doang kok perempuan yang kaya gini, makanya jadi sedih deh kalau tempat istimewa itu sudah ada yg isi.

Sedikit berbicara tentang pengalaman menggunakan transportasi umum di negara lain, misalnya saja di negara tetangga Singapura. Istilahnya kalau di negara ini mau cuuuus kemana aja cepat banget sampai-nya, jadi gak capek banget kalau memang harus menempuh perjalan dengan berdiri. Memang sih tidak adil kalau dibanding dengan negara yang bersimbol Singa ini, karena kan di sana tata kota nya sudah bagus, masyarakat nya disiplin, peraturan dibuat untuk ditaati, dan akhirnya kebiasaan baik ini menyebabkan transportasi dan lalu lintas yang bagus dan juga lingkungan yang bersih. (Nah, gw juga ingin bahas tentang kebersihan di negara ini dan kebiasaan sebagian orang kita yang masih suka buang sampah sembarangan. Paling benci kalau ada manusia yang suka buang sampah di jalanan. Tetapi mungkin di artikel yang lainnya ya).  Lucunya masyarakat Indonesia kalau ke Singapura atau negara lain yang super bersih dan teratur, semuanya ikutan jadi disiplin dan kalau kembali ke negara asalnya balik lagi ke kebiasaan lama. Untuk masyarakat asing juga sama jika sudah bermukim di Jakarta (khususnya) akan mengikuti "kebrutalan" masyarakat kita juga.

Pokoknya bagaimanapun tingkat semrawut di kota ini, tetap kok gw paling cinta sama Jakarta! Gw berharap semoga kota ini bisa makin terus berkembang, pola pikir masyarakat juga bisa semakin maju, lebih disiplin dan penuh toleransi.

Always prioritize others, but don't hurt your soul either baby!

Ayo sebagai masyarakat kita selalu dukung program pemerintah yang positif dan masuk akal.
Jangan hanya bisa "nyinyir" tanpa memberikan solusi. 
Perubahan yang baik dimulai dari individu masing-masing.

*Gw bermimipi kalau nanti penduduk Jakarta semakin membludak, bikin aja peratutan untuk mereka yang melakukan urbanisasi harus pakai Visa. Haha ngaco aja. Supaya tidak banyak yang migrasi ke sini tanpa tujuan yang tidak jelas, jadi pakai visa aja sekalian biar jelas apa tujuannya ke Jakarta dan menjadi lebih ketat. Jangan bisanya cuma bikin kota dengan Monas sebagai simbolnya ini semakin sempit, masih saja berpikiran Jakarta kota yang tepat untuk mengadu nasib tanpa persiapan yang matang. Ditambah juga ada baiknya apabilayang berumah tangga juga jangan punya anak banyak-banyak, ikuti program KB pemerintah sebisa mungkin. Semua demi populasi di kota kita sendiri kan? Semua orang juga sadar kan kalau Jakarta sudah padat luar biasa. Jangan sampai Jakarta lumpuh*.

Anyway, mungkin gak ya kalau pemerintahan dan pusat bisnis benar-benar dibedakan kotanya? Seperti yang pernah menjadi isu di beberapa tahun silam...

Nah... lumayan kan dari perjalanan hari ini sudah bisa produktif bikin satu tulisan, cuma 3.5 jam aja kok perjalanan hari ini. 


#beraniberubah
#jakartalebihbaik
Share: