18 November 2016

Pulau Harapan

26 Maret 2016 terjadilah piknik lainnya ke pulau seribu bersama sahabat gw dan teman-teman kantornya. Ya gw sih seperti biasa nebeng rombongan piknik orang lain dan diasikin aja. Seperti biasa kalau piknik ke Pulau seribu paling hanya memakan 2 hari 1 malam dan pilihan kali ini jatuh ke Pulau Harapan, dengan alasan karena peserta piknik rata-rata para jomblos yang tidak pernah putus harapan. haha

Tanggal 25 Maret,  gw memang sudah berencana setelah pulang dari kantor untuk menginap di kos Putri, agar perjalanan pagi hari ke Pelabuhan Muara Angke bisa dilakukan bersama-sama. Setelah shalat Subuh hari itu, tanpa mandi untuk efisiensi air dan waktu (alias malas) karena malamnya sebelum tidur sudah mandi, kami janjian dengan salah satu teman kantornya Putri di 711 daerah Benhil. Mereka saling memanggil nama de,ngan sebutan "Jon" yang samapai sekarang gw mash gak paham artinya apa. Lalu dengan menggunakan Uber kami menjemput teman lainnya di daerah Sarinah. Nah temannya yang satu lagi ini namanya Erick, seorang cowok ganteng yang merupakan teman dekatnya Putri, tetapi sayang kalau lagi makan bikin ilfeel karena gak bisa mingkem. Erick ini punya nama asli kalau gak salah Furqon, gw juga gak paham darimana panggilan Erick ini bisa muncul. Sejauh yang gw kenal dia sangat care dengan Putri (otomatis jadi care sama gw juga) baik dan bisa diandalkan untuk melindungi kita wanita-wanita yang rapuh (hatinya) hehe.

Kira-kira sekitar pukul 08.00 WIB kami sudah sampai di Angke dan menunggu rombongan lainnya serta kejelasan bisa naik kapal jam berapa. Kalau tidak salah saat itu kami totalnya lebih dari sepuluh orang  yang terdiri dari teman-teman kantornya Putri dan temannya itu membawa teman lagi. Karena anggota kita banyak jadi seingat gw jumlah biaya piknik ini tidak terlalu mahal dan relatif lebih murah. Kurang tahu saat itu kami menggunakan jasa trip darimana dan juga gw gak perlu mikirin karena gw hanya anggota piknik yang tinggal terima jadi.

Kebetulan gw baru pertama kali ke Pulau Seribu menggunakan Kapal Kelotok macam ini. Ternyata seru juga, terlalu seru malah. Untuk sampai ke kapal tujuan, kami harus menyeberang di antara kapal-kapal. Lompatan dari penyeberangan yang dilakukan juga cukup jauh, hal ini cukup sulit buat orang yang careless dan clumsy macam gw, apalagi gw sedikit takut dengan ketinggian. Jadilah si Eric yang rajin menolong kita, lebih banyak menolong Putri sebenarnya, karena walaupun begini-begini juga kan gw ingin terlihat strong.

Setelah sampai di kapal tujuan kami langsung mencari best spot untuk ngampar, karena kapal ini tidak menyediakan tempat duduk, kami semua lesehan di dalam kapal. Kapal ini dua tingkat, saat itu kami menempati deck yang atas.

Jadi Sarden Kaleng

TKI Siap Dikirim

Kami hanya tidur-tiduran, mendengarkan musik atau mengobrol dengan teman-teman selama perjalanan. Kurang lebih untuk sampai ke Pulau Harapan menggunakan kapal kelotok membutuhkan waktu sekitar 3-3.5 jam. Setibanya di Pulau kami langsung bahagia karena mendapatkan Vitamin Sea dan disuguhkan pemandangan yang memanjakan mata.

Disambut oleh Luasnya Laut



Selama di sana kami menginap di rumah penduduk yang SIM card gw dari Halo tidak bisa mendapatkan signal 2G, 3G dan 4G sama sekali (masalah penting abad ini) sama halnya dengan provider lain, harus ke pinggir laut atau saat snorkeling baru kami mendapatkan signal. Rumahnya cukup nyaman, terdiri dari dua kamar ber-AC, dua toilet dan satu ruang tamu serta ruang TV/ruang makan. Sesampainya di rumah penduduk (tentu saja pemilik rumah aslinya ngungsi dulu) kami langsung disajikan makanan yang sangat enak menurut gw. Ikan besar-besar yang dibumbu kuning, ikannya masih segar banget, lalu ada sayur-sayuran dan buah-buahan. Kami di sana juga tidak perlu repot mencuci piring, kalau sudah selesai cukup diletakkan di teras rumah dan akan diambil oleh yang bertugas. 

Setelah berisitirahat sejenak lalu mengatur pembagian kamar dan merapihkan barang-barang, kami langsung menuju laut untuk snorkeling di beberapa pulau. Walaupun ini pengalaman snorkeling pertama gw tidak merasa takut karena gw juga memang cinta pantai, laut dan air daripada harus ke pegunungan yang berada di dataran tinggi dan dingin. Gw punya satu tips jitu, kalau lagi snorkeling jauhilah tipe teman yang gampang panik di dalam air, kalau dekat-dekat niscaya snorkeling kita akan jauh dari kata damai. Gw gak paham apa yang harus dipanikin, karena kan kita sudah tahu kalau mau snorkeling dan itu pilihan kita sendiri bukan paksaan dari orang lain, jadi kita seharusnya sudah mempersiapkan mental dan tidak usah panik, juga tidak usah takut tenggelam karena menggunakan pelampung dan tabung oksigen, InsyaAllah semua aman kalau sebelumnya kita sudah berdoa dan mengecek keamanan peralatan. 

Begitu perahu berlayar, semilir angin yang menerpa muka terasa sejuk sekali, walaupun matahari sangat menyengat, tetapi gw sangat menikmati perjalanan di perahu saat itu. Lalu kami sampai di pulau pertama (yang gw lupa namanya) lalu kami langsung memakai peralatan snorkeling dan nyebuuuuur. Melihat pemandangan bawah laut, ikan-ikan yang cantik, terumbu karang yang indah serta mencicipi asinnya air laut. Wajar aja kakak ke-2 gw sangat kecanduan snorkeling. ternyata rasanya emang bikin candu. Laut itu candu. Gw langsung berenang agak menjauhi kawan-kawan lain agar bisa menikmati momen itu sebaik-baiknya. Sampai diteriakin anak ilang sama yang lain karena sendirian saja. Tetapi kalau ada momen foto-foto langsung join gak mau ketinggalan dong.





Setelah puas main di Pulau pertama kami menaiki perahu lagi dan melanjutkan perjalanan ke pulau berikutnya. Agenda di pulau ke-2 tidak berbeda jauh dengan di pulau pertama. Lalu di pulau ketiga, yang kalau tidak salah namanya Pulau Gosong, di sana kami boleh melepaskan pelampung karena lautnya cukup dangkal dan didasari oleh pasir putih yang halus. Cantik sekali.




Sangat disayangkan karena sampai saat ini gw belum menerima hasil dari foto-foto underwater. Maklum aja Putri sibuk banget sampai-sampai gak sempet cuma buat copy file foto dari teman-temanya. Seharusnya di sini bisa menampilkan hasil foto-foto dari terumbu karang dan gaya-gaya norak gw dari dalam air. hehe.

Setelah puas ber-snorkeling-ria kami melakukan pemberhentian di sebuah Pulau peristirahatan yang sudah ramai oleh wisatawan lainnya. Di Pulau tersebut kami disuguhkan aneka makanan yang bisa dibeli, seperti jagung bakar, aneka pop mie dan aneka gorengan yang mungkin karena kami capek dan lapar jadi semua rasanya enak di lidah. 

Landscape di Pulau Peristirahatan

Sekitar 1-1.5 jam di Pulau tersebut, yang sebagian besar waktunya kami habiskan untuk berfoto dan bermain ayunan, akhirnya kami kembali lagi ke perahu untuk segera pulang ke rumah penduduk. Malam itu ada agenda kami adalah makan malam fresh seafood di tepi pantai. Sesampainya di rumah kami langsung mandi secara bergiliran, karena kalau mandinya ramai-ramai niscaya tidak akan selesai-selesai mandinya. Lalu kami beristirahat di kamar dan menunggu hingga waktu makan malam tiba. Karena gw pelor parah waktu beristirahat di kamar itu gw jadikan waktu tidur juga, lalu gw dibangunin putri dan entah kenapa gw bangun dengan kaget dan akhirnya ditertawai hampir semua orang di rumah. Setelah menikmati makan malam gw dan Putri ingin kembali duluan ke rumah, tetapi di perjalanan pulang kami nyasar, mana cuma berdua dan suasana cukup gelap. Cukup lama kita mutar-mutar di pemukiman mencari jalan pulang, kembali lagi ke jalan awal, lalu masih saja nyasar, akhirnya setelah beberapa saat kami bertemu anggota piknik yang lain, jadilah kami selamat serta damai sentosa sampai rumah dalam keadaan utuh.

Esok paginya agenda kami setelah sarapan adalah ke penangkaran penyu di Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu. Cukup berjalan kaki selama 20 menit dari rumah dan sampai lah kami di sana.




Saat melihat penyu-penyu yang lucu ini tentu saja gw menjadi gemas dan ingin menggendong. Tetapi gw baru tahu setelahnya dari artikel di internet bahwa sebaiknya Penyu itu tidak tersentuh panas tangan dari manusia. Jadi maafin ya Penyu yang udh gw gendong jika merasa tidak nyaman.

Selesai bermain dan berfoto di Penangkaran Penyu kami kembali ke rumah penduduk dan segera mengambil barang-barang yang sudah dirapihkan sebelumnya lalu mengantri untuk menaiki kapal, dan pulang ke habitat masing-masing.

Saat itu gw sudah tidak sabar untuk segera pulang, karena malam harinya akan bertemu dengan orang yang selama itu sudah sangat ingin gw temui. 


Adios!









Share:

2 November 2016

Rafting Seru

Daripada melakukan kegiatan olahraga yang harus melayang-layang di udara seperti flying fox, paralayang, bungee jumping,  gw lebih memilih olahraga di air seperti rafting, snorkeling, kano dan renang. Gw memilih aman karena gw gak bisa terbang, tapi bisa berenang, yah walaupun cuma gaya katak sih. Untuk kedua kalinya gw melakukan rafting, kali ini bersama teman-teman kampus. Setelah rafting yang pertama, perasaan gw memang masih nagih  pengen lagi, mungkin karena belum jatuh ke jeram jadi belum berasa.

Lokasinya masih sama di sungai sekitaran kota Sukabumi, Sungai Citatih namanya. Direncanakan dalam waktu yang cukup lama, karena cukup sulit untuk ngumpulin masa nya. Seperti biasa selalu gw yang aktif untuk mengajak anak-anak di grup Whatsapp. Akhirnya hanya terkumpul sekitar 11 orang dan itu juga sudah ditambah oleh saudaranya teman-teman. Memang makin ke sini makin susah kumpul kalau ada kegiatan.

Kami berangkat dari Sabtu malam hari, kumpul jam 21.00 di daerah sekitar Ciputat, berangkat jam 23.30 (iya kelamaan ngaretnya kalau janjian) lalu menuju Sukabumi via Parung, yang pada saat itu bukan main macetnya dan sekitar jam 04.00 subuh kami baru tiba di lokasi. Rencana awal kami akan check-in di sebuah hotel daerah sana sampai jam 08.00. Tetapi karena lama waktu untuk  menempati hotel hanya akan sebentar jadilah kami tidur-tiduran di mushalla dan mobil saja.

Saat itu kami menggunakan provider rafting dari Niagara yang merupakan rekomendasi dari teman. Secara keseluruhan provider ini memuaskan, kami juga mendapatkan harga spesial dan saat pelunasan pembayaran di tempat, kami mendapatkan potongan harga lagi. Setelah sarapan di meeting point (juga setelah melalui beberapa drama pagi hari, sampai ada teman yang meneteskan air mata, maklum mulut kami silet semua. hehe), kami berangkat menggunakan angkutan kecil ke lokasi rafting. Seperti biasa perjalanannya pasti melalui jalan kecil dan sangat bergelombang alias masih bebatuan.

Sesampainya di sana kami memilih pelampung, helm dan dayung lalu kami berkumpul dan mendengarkan dengan seksama petunjuk keamanan dari provider. Lalu turun ke sungai melalui tangga yang cukup curam, seperti biasa ya karena gw takut kalau liat pemandangan dari atas jadilah gw turung tangga pelan-pelan dan membuat antrian yang cukup panjang ke belakang. Karena grup kami yang bermain rafting hanya 10 orang, jadilah kami dibagi dua boat. Gw lupa siapa nama ranger kami, gw sih manggilnya bang ganteng, ya biar asik aja.

Rafting yang kami pilih waktu itu yang sejauh 25km ditempuh selama kurang lebih 2.5 jam dan sudah ternasuk waktu istirahat di sungai. Awal rafting dimulai semua terasa baik-baik saja dan menyenangkan, bahkan kami diperbolehkan berenang di Sungai. Karena baru pertama berenang di Sungai jadi rasanya enak banget, seperti kembali menjadi anak kecil dan airnya juga terasa dingin dan menyegarkan, tetapi ada satu teman di boat gw yang gak mau ikutan berenang.

Jeram demi jeram kami lalui dengan baik. Satu perkataan ranger yang gw gak lupa "kelompok ini kalau setiap masuk jeram selalu diam ya gak ada yang teriak." Sontak gw langsung spontan ketawa karena memang sepanjang perjalanan kami lebih banyak mengobrol a.k.a curhat dan diam ketakutan saat memasuki Jeram. Jadilah sejak mendengar kalimat itu kami langsung teriak-teriak secara berlebihan. Ya biar abang hepi aja.

Setelah beberapa jeram, gw lupa lagi itu jeram ke berapa dan namanya apa, kami kompak satu boat jatuh ke dalam jeram, hanya dua orang yang bisa bertahan di boat, yaitu ranger dan teman yang paling berisik teriaknya. Saat jatuh ke dalam Jeram, yang gw rasakan itu boat nya terbalik, tetapi kenyataannya tidak. Otomatis gw dan teman-teman lainnya langsung tertarik arus jeram ke dasar sungai dan sukses manghasilkan kaki beserta punggung terantuk-antuk batu. Paling gw takuti saat terbawa arus itu kalau di belakang kami ada batu besar, gak kebayang gimana rasanya kalau nabrak batu besar banget. Saat itu gw sih gak sampe meminum air sungai, berusaha mingkem aja, tetapi air banyak masuk melalui hidung. Perasaan gw waktu terbawa arus dan tenggelam itu sedikit panik tetapi tetap berusaha tenang karena yakin kalau pakai pelampung pasti akan terbawa ke permukaan. Cuma susah saja mempertahankan posisi yang benar jika tenggelam seperti itu, posisi aman supaya kaki dan dengkul tidak terantuk batu di dasar Sungai.

Gw melihat teman-teman terbawa arus ke arah berbeda, gw berusaha naik ke permukaan dan berharap terbawa arus ke aliran sungai yang tenang. Akhirnya gw berhasil memijakkan kaki di atas batu yang terletak di tengah Sungai, di titik itu aliran masih cukup deras dan gw berharap agar segera di selamatkan rescue team atau boat manapun yang lewat. Saat kami jatuh ranger juga cukup panik karena harus segera memutuskan mau menolong yang mana, maka dia menolong yang terbawa arus paling dekat dan terlihat akan memasuki jeram berikutnya. Mungkin kaya gini kali ya sedikit banyak rasanya kalau kita body rafting.

Saat jatuh yang bikin gw panik cuma satu, kacamata gw lepas dr tempatnya, yaitu diantara hidung gw yang besar dan bulat tetapi mancung kalo dari samping. Salah gw sih karena gak pake karet pengaman untuk kacamata. Gw panik karena gak akan bisa melihat dengan jelas dan masih sayang banget sama kacamata ini, jadi gak mau kehilangan gitu rasanya. Akhirnya setelah terombang ambing jeram gw berhasil ketemu lagi sama si kacamata (mungkin seperti ini yang namanya jodoh, sejauh apapun pergi pasti akan tetap bertemu kembali) tetapi ternyata lensa dan frame sudah pada lecet. Hati gw hancur melihatnya.

Kami semua sukses diselamatkan dan kembali ke boat masing-masing. Lalu dengan annoying dan sok manja gw ngebacot ke si abang ranger kenapa kami semua sampai bisa jatuh di Jeram. Ternyata menurut penjelasan ranger saat kita harus dayung maju, kita semua pada diam gak ada yang mendayung. Mungkin kita kena jampi-jampi dari Setan Budeg sampai gak dengar perintah si abang.

Tidak terasa, perjalanan rafting kami memasuki garis finish. Kalau gw ngerasanya belum puas, masih terlalu sebentar dan tidak berasa (kurang berasa apalagi kan sudah nyemplung). Tetapi ada satu teman yang sudah kapok gak mau rafting lagi. hehe kasian trauma karena jatuh sepertinya. Oya, ada juga satu kejadian lucu dari boat sebelah, saat menjalari Sungai kami melihat semacam ritual yang dilakukan kakek-kakek, yaitu dimandikan di Sungai oleh teman-temannya dalam keadaan tanpa busana apapun. Teman gw melihat kejadian itu sampai melongo dan terjatuh dari boat, padahal temen gw itu cowok. Lucunya dia hanya sendiri jatuh dari boat karena terpana oleh pemandangan di tepi sungai dan saat aliran sungai sedang tenang.

Ya beginilah sedikit cerita dari rafting bersama teman-teman kuliah, yang ceritanya mungkin masih berantakan dan lompat-lompat alurnya. Jadi, kapan kita main-main lagi, berikutnya menarik nih ikutan one day trip dari Shine Projects :)









Share:

28 Oktober 2016

Uber -Your Own Private Driver-

Ini adalah salah satu pengalaman terburuk gw bersama pengemudi Uber. Setau gw tagline mereka itu adalah "Your Own Private Driver" yang artinya kita membayar mereka sebagai supir pribadi yang akan kita gunakan selama beberapa jam ke depan. Uber tidak mau mengklaim dirinya sebagai taxi, armada-nya menggunakan mobil biasa,  plat hitam, ya seperti mobil pribadi saja. Jadi seharusnya kan hubungan antara penumpang dan pengemudi lebih personal, mereka juga biasanya sudah dilatih atau setidaknya diberikan arahan dengan baik sebelumnya, sikap mereka juga biasanya lebih ramah daripada supir taxi biasa dan juga lebih baik juga cara mengemudinya. Gw termasuk pengguna Uber yang cukup setia, sudah semenjak kisaran tahun 2013/2014 mungkin itu adalah saat-saat pertama kemunculan mereka.

Tentunya banyak pengalaman dari yang menyenangkan, biasa saja sampai menyebalkan. Berbagai sifat dan watak dari pengemudi, dari yang bawel sampai pendiam, dari yang suka curhat sampai suka ngedumel, terkadang karena pembicaraan yang terlalu panjang gw suka gak paham mereka itu sudah tahu belum tujuan atau arah jalan gw mau kemana. 

Sekarang yang akan gw ceritakan adalah pengalaman yang paling menyebalkan bersama pengemudi Uber, bisa dibilang gw juga sangat kecewa, ternyata ada pengemudi yang sangat tidak profesional dan tidak punya sopan santun di Uber.

Malam itu gw memesan Uber dari bilangan Mall Kelapa Gading 3 sekitar pukul 22.00 dengan tujuan ke Ciputat. Beberapa kali memesan, ada pengemudi yang tidak bisa dihubungi sampai ada yang minta cancel setelah tahu tujuan lokasi gw yang cukup jauh. Malam itu gw memang menggunakan Uber Pool dan gw sangat bersyukur akan hal ini. Karena kalau tidak berapa biaya yang harus dikeluarkan malam itu untuk suatu rute perjalanan yang sungguh sangat tidak masuk akal.

Jadi sebut sajalah pengemudi gw malam itu dengan nama samaran Budi. Saat pertama kali menaiki mobil,  Budi cukup ramah dan agak sedikit bawel. Menanyakan gw baru pulang kerja atau pulang main, kok mainnya jauh banget dari rumah dll. Gw sih sudah biasa dengan pertanyaan-pertanyaan itu, karena rata-rata itu yang akan ditanyakan oleh pengemudi. Sebelum ngobrol basa-basi Budi sudah menanyakan dengan lantang bahwa apa benar tujuan saya ke Ciputat dan gw menanggapi dengan 'iya pak, keluar tol Pondok Indah ya, nanti pindah ke JORR Simatupang". Dari nada-nya membalas, gw menilai kalau dia sudah tahu jalan,  kalau memang  tidak tahu jalan seharusnya dia meminta bantuan navigasi dari penumpang sedari awal

Malam itu gw sudah agak mengantuk dan agak tidak fokus memerhatikan jalan. Hanya merem sebentar lalu saat membuka mata tiba-tiba ada di persimpangan jalan dengan plang hijau bertuliskan arah kanan ke Pondok Indah dan kiri ke Cawang. Sontak gw langsung melek karena pengemudi terus saja mengambil lajur kiri dan berkata sedikit kencang agar pengemudi segera mengambil lajur kanan. Menurut gw kalau pengemudi segera menurunkan laju kendaraannya, lajur kanan itu masih bisa diambil. Namun dia terus saja menyetir dengan kecepatan yang sama dan mengambil belokan ke kiri. Gw gak paham, kalau dia gak tau jalan dia seharusnya memerhatikan GPS atau rambu-rambu petunjuk arah atau bisa juga kan bertanya ke penumpang. Bukannya sok tahu seperti ini.

Sontak gw langsung kesal, tetapi masih bertahan dan hanya bisa diam. Gw orangnya bingung arah, gw gak tau jalan lain lewat mana, gw gak tau lebih bagus lewat Cawang, atau keluar di Semanggi atau bagaimana. Pengemudi ini juga sama sekali tidak membantu. Hari sudah malam, capek dan masih disuruh mikir jalan, kalau gw harus mikir jalan ngapain gw naik Uber. Akhirnya malam itu jadilah gw muter-muter mengambil rute yang sangat jauh. Dari Utara ke Barat lalu ke Selatan (bisa dilihat di foto maps di bawah), berasa bodoh banget malam itu. Juga ada perasaan was-was kalau pengemudi ada niat tidak baik. Pokoknya malam itu sudah kesal banget tapi gak bisa juga langsung ngomel gitu aja ke pengemudi, cuma bisa ditahan.





Yang paling menyebalkan pengemudi ini tidak punya sopan santun sama sekali. Tidak ada kata-kata MAAF terlontar dari mulutnya setelah salah jalan. Oh iya, buat gw MAAF dan Terima kasih itu sangat penting.  Mendadak dia bisu dan tuli juga mungkin, yang tadinya bawel nanya ini itu langsung diam dan tidak merespon sama sekali setiap gw bertanya. Bikin tambah kesal aja.

Akhirnya setelah perjalanan yang panjang dan melelahkan sampai-lah gw di dekat rumah, gw gak berani turun di depan rumah persis, agak sedikit menjauh, hanya untuk jaga-jaga saja. Namun, pengalaman buruk ini belum berakhir, untuk pertama kalinya gw ketinggalan barang di mobil Uber. Biasanya gw selalu double check jika akan turun Uber dan pengemudi yang baik biasanya juga mengingatkan penumpang agar mengecek barang-barangnya lagi. Tetapi malam itu yang ada di pikiran gw cuma segera cepat-cepat turun dari mobil. Hasilnya, 1 botol parfum yang baru dibeli malam itu sukses tertinggal di mobil dan gw baru ingat setelah 30 menit sampai di rumah. Langsung gw hubungi si pengemudi dan mendapatkan respon. Pertama diputuskan untuk diantarkan esok harinya menggunakan gojek, namun ternyata tidak bisa karena jarak yang terlalu jauh. Akhirnya gw minta diantar saja oleh si pengemudi jika sudah ada waktu, tentunya akan gw berikan tips atas pertolongannya walaupun rada tidak ikhlas karena sudah kesal sama pengemudi.

Esok harinya, saat janjian awalnya berjalan baik namun lama kelamaan pengemudi ini mulai menyebalkan dan tidak sopan. Juga tidak ada rasa bersalah sama sekali, karena kondisi gw ini kan, selain karena kelalaian gw sendiri, juga sedikit banyak akibat dia yang tidak profesional menyetir. Bikin pusing, jadi gak fokus *nyari kambing hitam*. Padahal masih anak muda, tapi segitunya banget gak tahu jalan dan tidak bisa berkomunikasi dengan baik. Akhirnya karena capek sudah menghabiskan waktu seharian untuk janjian dengan pengemudi ini, gw ikhlaskan saja untuk dia parfumnya, kali aja parfum itu bisa membuat hatinya menjadi lebih wangi. Gw sudah gak tahan untuk berurusan sama pengemudi yang gak punya sopan santun ini dan tidak ada rasa ingin membantu sesama sama sekali. 

Gw berharap Uber bisa lebih selektif dalam mempekerjakan mitra pengemudi dan memberikan pelatihan yang layak. Karena selama ini gw gak terlalu banyak pengalaman aneh dengan Uber, walalupun terkadang ada saja pengemudi yang menyebalkan tetapi semuanya masih bisa diatasi. Biasanya gw rajin memberikan feedback ke Uber setelah akhir perjalanan, baik karena alasan puas maupun tidak. Di kasus ini sudah jelas gw memberikan feedback tidak puas dengan kronologi yang detil tetapi setelah beberapa hari kemudian gw mendapatkan tanggapan dari Uber dan tidak puas dengan hasilnya. 

Sekarang tanggapan dari Uber seperti terlihat sekedarnya saja, dulu pernah saat di Bandung gw mendapatkan pengemudi yang tidak sopan (nada mengancam, suara keras), ingin memainkan argo dengan berbagai macam alasan, tetapi karena gw orangnya gak takutan sama manusia model begini ya gw tanggapin aja omongan dia dan nanyain alasannya, setelah itu gw iya-iyain aja. Intinya, dia minta tips yang besar, ya gw kasih aja apa yang dia mau daripada debat lama-lama sama orang gak penting, lalu kasih feedback dan akhirnya Uber bertanggungjawab dengan memberikan deposit untuk perjalanan berikutnya.  Pernah juga mendapatkan pengemudi yang juga salah mengambil jalan di tol lalu mobilnya mogok di pintu tol, akhirnya terpaksa gw jalan kaki keluar tol. Lalu, gw memberikan feedback dan dikasih free trip untuk perjalanan itu. Intinya bukan gw ngarep dikasih gratisan lagi (dikit sih) tetapi jadi terlihat image Uber yang dulu lebih baik dari sekarang dalam merespon keluhan pelanggannya.




Share:

20 Oktober 2016

Jakarta Asoy

Hi!

Gw mau cerita tentang pengalaman yang agak gak penting (lah emang ada yg penting di blog ini ya?) yaitu sedikit cerita mengenai perjuangan yang tidak seberapa menggunakan TransJakarta, disini akan gw singkat menjadi TJ. Tapi seperti biasa ada pembukaan tidak penting dulu yuk... :) 

---

Selain karyawan kantoran, profesi gw yang lain adalah kondektur bus AKAP, tapi bedanya gw ga pernah mintain uang malah ngasih uang (kenek yg aneh) hehe. Sebenarnya gw aja yang berasa kaya kondektur bus AKAP karena rute gw tiap Senin-Jumat yang memang Antar Kota Antar Provinsi. Rumah gw di bilangan TangSel dan kantor di ujung utara-nya Jakarta. Sudah hampir 4 tahun gw terbiasa seperti ini. Sejujurnya gw sendiri takjub kalau ternyata gw bisa 'maksain' diri kaya begini.

Kalau tersiksa kenapa gw ga ngekos aja deket kantor? Jawabannya adalah udah pernah!
Tapi, selama periode kurang lebih 6 bulan ngekos gw udah pindah kosan sampe 5x (kalau gak salah inget ya, biasa kalau cerita kan suka dilebih-lebihkan) Haha. Gak ada yang beres tempat tinggal deket kantor gw. Gw gak betah dan juga mungkin karena gw terlalu cinta sama Ciputat. Gak bisa kalau ga sekali saja menghirup udara di sana.

Gw berani pulang pergi gitu juga karena hal ini didukung oleh tidak lain dan tidak bukan bus MayasariBakti 135 rute langsung ciputat-priok. Bus nya enak, AC dingin banget, sudah dijamin pasti duduk, penumpang dari Ciputat karyawan kantoran semua jadi insyaAllah aman. Gw juga cinta banget karena rute nya lewat tol. Cuma ongkosnya aja yang mahal 15.000. Berasa banget semingu 5x naik itu ditambah masih harus menaiki ojek dari rumah ke bus dan dari turun bus ke kantor. Untung sekarang banyak ojek online yang lebih murah dari ojek pangkalan.

Masalahnya sekarang (kurang lebih satu bulan) adalah bus itu sudah dihapus!! iya dihapus, gak tau kemana, ilang, raib gitu aja. Gw mikirin penumpang yang lain pada naik apa ya sekarang. 

Begitulah info yang diterima dari seorang ibu cantik yang biasa jadi teman bareng melintas dari selatan ke Utara setelah gw cuti kerja karena harus ke PadangKaget bukan main, rasanya shock banget bus kesayangan gw itu akhirnya habis juga masa bakti-nya. Mana belum sempat farewell sama pak supir dan mas/mba kondektur nya yang ramah-ramah. Hiks banget lah pokoknya.

Namun ternyata tidak berselang lama pemerintah sudah menyediakan alternatif lain yaitu bus feeder TransJakarta dari Ciputat-Kp.Rambutan. Cuma sudah pasti kan rutenya gak sama, TIDAK LEWAT TOL. Perjalanan menggunakan TJ ke kantor bisa saya tempuh dengan beberapa kali transit dengan waktu tempuh 2x lipat serta capek 10x lipat. Badan kaya digebukin warga sekampung akhir-akhir ini. Gak usah diceritain lah ya transitnya kaya apa dan berapa kali, mendingan tanya aja sama petugas TJ rute Ciputat-Tj.Priok tuh kaya gimana menyenangkannya. 

Enak sih memang bus masih tergolong baru dan masih terawat, AC masih dingin dan murah, cuma 3.500 aja sudah bisa kemana-mana. Kalo gw pribadi menilai Jakarta berkembang cukup pesat saat dikepalai oleh Ahok. 
Terutama dari segi transportasi, TJ sendiri sudah banyak sekali penambahan koridor baru, jumlah armada bus yang terus bertambah secara signifikan dan yang paling penting pelayanan oleh para petugas TJ yang semakin meningkat. Gw salut sama mereka yang mau dibayar untuk kerja berdiri selama berjam-jam. Mengatur manusia-manusia dewasa yang sudah pada gede tapi ada aja kelakuan masih kaya bocah. 

Nah ada lagi yang jadi terbosan dari TJ, mungkin ini cuma ada di Indonesia, yaitu pemisahan bagian untuk wanita dan area umum (pria dan wanita). Akibat banyak kasus pelecehan yang sudah terjadi jadi dibuatlah peraturan keren ini, cocok dengan kebiasaan dan budaya kita. Untuk area wanita dari bagian depan dekat supir sampai ke bagian tengah dan area umum dari tengah ke belakang, ini untuk ukuran bus besar yang gandeng ya. Namun miris juga mendengarnya karena ini berarti moral sebagian warga kita yang masih bobrok, masa segitunya banget tidak  bisa sopan ke wanita. Malah yang sering disalahkan adalah pihak wanita yang memakai pakaian yang terlalu terbuka, ketat atau pun sexy. Memang benar adanya menurut gw masih banyak sebagian dari orang-orang kita suka kurang kontrol mengenai etika, sopan santun, bersikap ramah dan penghargaan terhadap orang lain.

Bagusnya karena gw menggunakan TJ di jam kerja jadi penumpang lainnya juga rata-rata karyawan. Yang seharusnya lebih "cerdas", wangi (kalau masih pagi) dan mempunyai etika. Tapi ada aja sih kejadian-kejadian bikin ngakak kalau pagi-pagi melihat tingkah laku penumpang. karena ternyata banyak sekali  lhoh masyarakat Jakarta yang tidak punya empati dan "menutup mata". Semua orang memang pasti punya masalah tapi masa iya harus dilampiaskan ke orang asing. Karena kalau gw perhatikan rata-rata mereka jadi sensi, senewen, sewot, gak mau ngalah, gak bisa antri, dorong-dorongan karena kurang piknik. Jadi dilampiaskan aja kekesalannya kepada orang asing dan di tempat umum atau ya mungkin cuma dia yang mengalami hari terburuk sedunia saat itu. Kalau ada yang berantem fisik seru juga kayanya sekali-kali karena seringnya berantem mulut aja sih. Kalo lo kesel ya diam, gak suka ya diam, gak semuanya perlu diomongin ke orang lain (ngomong sama kaca Ai). Atau kaya gw untuk meluapkan sesuatu bisa nulis di blog pribadi, toh tidak merugikan siapa-siapa, kalo ada yang gak suka ya gak usah di baca, as simple as that. Juga blog ini bisa dianggap sebagai pensieve-nya Dumbledore di film Harry Potter. hehe.

Selain senyam-senyum cengengesan, ini juga salah satu hobi gw: meratiin tingkah laku manusia.
Manusia itu kan unik, gak ada yang sama. Jadi seru aja gitu.

Kembali ke topik, salah satu kendala yang menurut gw masih perlu diperhatikan adalah mengenai kapasitas tempat duduk yang tidak sebanding dengan jumlah penumpang dan waktu tempuh perjalanan. Gw sendiri merasa butuh untuk tidak duduk saat menaiki TJ. Tapi dengan catatan waktu tempuh yang gw lalui adalah  2-3 jam dan setiap hari (5 hari sih, biar lebay aja), hayo siapa yang sanggup? Eh, apa gw doang yang kaya gini ya. Siapa suruh mau kerja di pinggir laut tapi rumah deket gunung. Hiks.

Oleh karena itu gw lebih milih duduk di tangga-tangga dekat pak Supir daripada duduk di kursi penumpang. Selain karena bisa melihat pemandangan JKT yg super asik dari kaca depan, juga karena ada aja rasa enggan, biarlah orang lain yang lebih bisa menikmati kenyamanan sementara itu. Lebih nyaman duduk di tangga daripada gw kualat sama orang tua, penumpang membawa anak kecil, orang dengan kebutuhan khusus atau ibu hamil karena gak mau kasih tempat duduk. Hehe. 

Gw bisa duduk di tangga juga karena rata-rata halte transit yang digunakan adalah halte pertama (bus masih kosong). Jadi langsung aja cus ke samping pak Supir walaupun kursi penumpang masih pada kosong. Bukan gw doang kok perempuan yang kaya gini, makanya jadi sedih deh kalau tempat istimewa itu sudah ada yg isi.

Sedikit berbicara tentang pengalaman menggunakan transportasi umum di negara lain, misalnya saja di negara tetangga Singapura. Istilahnya kalau di negara ini mau cuuuus kemana aja cepat banget sampai-nya, jadi gak capek banget kalau memang harus menempuh perjalan dengan berdiri. Memang sih tidak adil kalau dibanding dengan negara yang bersimbol Singa ini, karena kan di sana tata kota nya sudah bagus, masyarakat nya disiplin, peraturan dibuat untuk ditaati, dan akhirnya kebiasaan baik ini menyebabkan transportasi dan lalu lintas yang bagus dan juga lingkungan yang bersih. (Nah, gw juga ingin bahas tentang kebersihan di negara ini dan kebiasaan sebagian orang kita yang masih suka buang sampah sembarangan. Paling benci kalau ada manusia yang suka buang sampah di jalanan. Tetapi mungkin di artikel yang lainnya ya).  Lucunya masyarakat Indonesia kalau ke Singapura atau negara lain yang super bersih dan teratur, semuanya ikutan jadi disiplin dan kalau kembali ke negara asalnya balik lagi ke kebiasaan lama. Untuk masyarakat asing juga sama jika sudah bermukim di Jakarta (khususnya) akan mengikuti "kebrutalan" masyarakat kita juga.

Pokoknya bagaimanapun tingkat semrawut di kota ini, tetap kok gw paling cinta sama Jakarta! Gw berharap semoga kota ini bisa makin terus berkembang, pola pikir masyarakat juga bisa semakin maju, lebih disiplin dan penuh toleransi.

Always prioritize others, but don't hurt your soul either baby!

Ayo sebagai masyarakat kita selalu dukung program pemerintah yang positif dan masuk akal.
Jangan hanya bisa "nyinyir" tanpa memberikan solusi. 
Perubahan yang baik dimulai dari individu masing-masing.

*Gw bermimipi kalau nanti penduduk Jakarta semakin membludak, bikin aja peratutan untuk mereka yang melakukan urbanisasi harus pakai Visa. Haha ngaco aja. Supaya tidak banyak yang migrasi ke sini tanpa tujuan yang tidak jelas, jadi pakai visa aja sekalian biar jelas apa tujuannya ke Jakarta dan menjadi lebih ketat. Jangan bisanya cuma bikin kota dengan Monas sebagai simbolnya ini semakin sempit, masih saja berpikiran Jakarta kota yang tepat untuk mengadu nasib tanpa persiapan yang matang. Ditambah juga ada baiknya apabilayang berumah tangga juga jangan punya anak banyak-banyak, ikuti program KB pemerintah sebisa mungkin. Semua demi populasi di kota kita sendiri kan? Semua orang juga sadar kan kalau Jakarta sudah padat luar biasa. Jangan sampai Jakarta lumpuh*.

Anyway, mungkin gak ya kalau pemerintahan dan pusat bisnis benar-benar dibedakan kotanya? Seperti yang pernah menjadi isu di beberapa tahun silam...

Nah... lumayan kan dari perjalanan hari ini sudah bisa produktif bikin satu tulisan, cuma 3.5 jam aja kok perjalanan hari ini. 


#beraniberubah
#jakartalebihbaik
Share:

19 Oktober 2016

Hidup Itu (selalu tentang) Pilihan #4

Sebenarnya gw gak perlu menjelaskan tentang apapun kepada siapapun.
Tapi gw menulis karena butuh.
Karena dari sini gw merasa hidup.
Karena gw terlalu dalam merasakan tentang sesuatu, terhadap apapun dan kepada siapapun.
Menulis adalah cara gw supaya tidak meledak dan menjadi lebih tenang.

10 tahun gw telah berkomitmen untuk menutupi kepala ini dengan selembar kain.
Berawal dari persyaratan wajib di kampus dan perasaan malu jika hanya memakai kerudung saat ke kampus, namun melepasnya jika akan pergi ke tujuan lain selain ke kampus.
Akhirnya hal itu menjadi sebuah kebiasaan.
Bisa karena terbiasa.

Memang tidak ada paksaan dari manapun, namun juga tidak ada panggilan yang sebenarnya dari hati.
Gw hanya merasa nyaman dan aman dengan pilihan gw saat itu.
Semua terjadi begitu saja.

Saat ini kenyamanan itu tidak lagi bisa gw rasakan.
Penutup kepala ini terasa menjadi beban dan tanggung jawab yang terlalu besar untuk gw
Terasa berat menghidupi ekspektasi orang lain dengan opininya masing-masing.

Pilihan ini yang akan gw jalani saat ini.
Entah kapan gw akan merasa tidak terbebani lagi jika memutuskan kembali memakainya.

Disini gw gak mau membicarakan terlalu dalam mengenai kewajiban cara wanita berpakaian dalam agama.
Gw paham kalau tidak semua orang akan bisa memahami.
Kehidupan mengajarkan gw bahwa semua manusia itu mempunyai kepala dan otak serta hati nurani yang beraneka ragam.
Jadi gw gak mengharapkan orang lain paham dengan keputusan dari kepala gw.

Jika dibilang keputusan ini berlebihan ataupun sebuah langkah yang salah besar juga dirasa kurang tepat.
Proses ini cukup rumit dan tidak sebentar, banyak pertimbangkan dan membutuhkan keberanian yang sangat besar.
10 tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk merubah hal yang sudah biasa menjadi sesuatu yang baru.

Namun anehnya dengan keputusan  ini justru gw merasa lebih ikhlas dalam menjalankan ibadah sehari-hari.

My sins will always be mine.
Your sins will always be yours.
Equal to our merits.

Let's mind our own business good people.

Indeed, sometimes my ego is so over control.
I just can't stop my mouth from talking and to excite the feelings.
But I never physically hurt anybody, right?

Many people said that I always look cheerful and full of spirit, but that is just my way to treat others.
But when I feel exhausted, believe me you don't want to come close to me.

This is me.
I am just too extrovert, too overthinking and too deeply feeling for anything and everything.
That's what makes me like a human.

I am just like an open book, which you can read from the very first page until the end.

This is my choice..
For now.






-alter ego-


Share:

18 Oktober 2016

Kata-kata Sok Bijak

Don't marry a person you love, but marry the one that you love and you can fully trusted as well.

Because we will always love a person who we trust
But we can't always trust the person who we love.

Live with love will only lead you to possessive mind and insecurity. 
But trust will give you security, comfortably and joyful. 

Indeed, trust is much more important than love.
Share:

26 September 2016

Baliak Kampuang

-Baca judulnya, jangan harap gw bakal nulis pakai bahasa Minang, karena gw ini kan Padang palsu :D -

Setelah hampir 12 tahun lamanya akhirnya gw menginjakkan kaki lagi di kampung tercinta kota Padang, tepatnya di Payakumbuh dan Lubuk Basung. Kota asli dari mana kedua orang tua gw berasal. Kepulangan ini memang sudah direncakan cukup lama, gw yang saat itu memang sedang ingin jalan-jalan memutuskan untuk ikut Mama yang kebetulan ada acara di Padang Panjang. Sebenarnya tidak banyak yang bisa diceritakan dari perjalanan ini, karena memang pergi bersama orang tua jadi tidak terlalu banyak meng-explore tempat baru. Lebih ke silaturahmi dengan saudara. 

Hari pertama kami tiba di Bandara Minangkabau, lalu kami dijemput oleh teman mama yang berdomisili di Padang. Beliau mengantarkan gw dan papa ke sebuah hotel di kota Padang yang berlokasi di dekat Pantai Padang. Pantai ini langsung terhubung ke laut lepas atau samudera sepertinya, jadi tidak bisa digunakan oleh wisatawan untuk bermain-main air apalagi berenang. Gw dan papa pergi mencari makan siang dan berjalan kaki di sepanjang pantai, saat itu terasa anginnya sangat kencang, kacamata sampai basah karena percikan air laut yang terhempas oleh angin. Pantai Padang ini juga disebut Taplau atau Tapi Lauik yang artinya adalah Tepi Laut, banyak pilihan restoran seafood dan penjual seafood segar di sepanjang taplau. Sementara itu mama pergi dengan temannya dan menginap di rumahnya. Sayang, gw gak motret Taplau ini karena anginnya kencang banget jadi malas mengeluarkan kamera dan takut basa terkena percikan air laut.

Lalu kami hanya berjalan-jalan ke pasaraya dan kembali ke Hotel. Esok paginya, gw memutuskan untuk mengunjungi Museum Adityawarman di Kota Padang. Saat itu kondisi museum cukup ramai dikunjungi oleh anak sekolah, turis lokal dan juga turis asing.

Museum Adityawarman
Share:

20 September 2016

Perjalanan Singkat di Sebagian Jawa Timur

Short trip ini sebenarnya sudah terjadi lama sekali, sekitar setahun yang lalu tepatnya pada tanggal 20-24 Juli 2015. Baru gw post sekarang karena ya baru inget aja, baru nemu passion nulis lagi, udah nggak sok sibuk lagi dan mau memprioritaskan waktu ke hobi yang sempat terlupakan ini.

Gw berangkat bertiga sama sahabat yang biasa gw panggil conk, jon, babe, cuy, oit tapi punya nama asli diberikan orang tuanya yaitu Putri. Teman perjalanan satu lagi namanya kokoh Harris, teman kantornya Putri, lelaki yang baru gw kenal di perjalanan ini, tapi sifatnya baik banget dan bisa dikategorikan gentlemen. Orangnya ringan tangan banget alias mau bawain koper-koper kita :p .

Pilihan lokasi saat itu jatuh ke kota Surabaya, dimana kita banyak bermukim di kota Malang dan akan melanjutkan perjalanan ke Gunung Bromo dan Gunung Ijen yang terletak di perbatasan antara Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten BondowosoGw juga lupa kenapa waktu itu Jawa Timur menjadi pilihan kita, mungkin karena kota Malang terkenal dengan wisata kulinernya dan juga gw sama putri pengen banget ke Gunung Ijen untuk melihat blue fire yang cuma ada dua di dunia. Satunya di Kawah Ijen dan satu lagi berada di Islandia. Alasan lainnya naik ke gunung Ijen kan tidak seperti naik gunung beneran dengan segudang peralatan, tas carrier yang beratnya berkilo-kilo. Tetapi ke gunung Ijen lebih seperti treking dan buat ukuran saya ini sudah lumayan berat pendakiannya ditambah gak terlalu bersahabat dengan cuaca dingin. Namun sebaiknya kita tetap melakukan persiapan yang matang saat treking di Gunung Ijen, seperti membawa senter, masker pernapasan (biasanya disediakan oleh guide), menggunakan sepatu/sandal gunung, jas hujan, tenda serta perbekalan. Karena cuaca di sana yang gampang sekali berubah dan lebih baik antisipasi daripada sudah terlanjur terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Saat itu sempat timbul kekhawatiran perjalanan ini terpaksa dibatalkan karena sedang ada erupsi dari Gunung Raung, yang menyebabkan sebagian bandara ditutup. Tetapi karena kami orang-orang yang beruntung, tepat pada saat keberangkatan bandara dibuka kemabali. Perjalanan ini tidak direncanakan dalam waktu yang cukup lama, hanya beberapa hari sebelum hari H, tepat pada saat libur lebaran. Karena kami bertiga makhluk galau dengan masalahnya masing-masing yang saat itu sangat butuh liburan. Kalau gw menemakan perjalanan ini sebagai piknik Patah Hati, baru aja sutup dari hubungan sekitar 1,5 tahunan (tetep ya curpil-curhat nyempil :p ).

Share:

9 September 2016

Hidup itu (masih) Pilihan #3

Halo,

Apakah masih ada yang suka mengunjungi blog ini? Jika ada terima kasih ya :)
Sudah hampir tiga tahun tidak ada tulisan atau foto apapun yang dipost di blog. Faktor malas, tidak menyempatkan ada waktu, tidak ada inspirasi menjadi kambing hitam penulis. Ada beberapa tulisan yang saat ini hanya mempercantik folder draft saja. Akhirnya bukan karena faktor rajin ataupun waktu, gw memutuskan untuk menambah isi blog yang bisa dikatakan mendekati jelek saja belum. hehe

Masih ingin membahas tentang kehidupan, karena jika ingin membahas tentang kematian gw belum pernah melaluinya. Inspirasi tulisan berikut datang dari tulisan sebelumnya dan tulisan lainnya. Ingin melakukan semacam napak tilas, evaluasi diri dan menilai (bukan menghakimi). Setelah membaca tulisan lama itu, terbersitlah pikiran "what if". Jika pilihan gw saat itu jatuh ke si A atau B akan seperti apa ya hidup gw sekarang? Bagaimana kalau akan lebih baik, lebih menyenangkan, lebih tepat dan lebih-lebih lainnya atau pun malah semakin lebih buruk.

Berbicara tentang pilihan dalam pekerjaan, saat ini gw bekerja di perusahaan yang begerak di bidang engineering consultant milik asing. Tepatnya gw ditempatkan di sebuah proyek pembangunan container terminal berlokasi di Utara-nya Jakarta. Sudah hampir empat tahun gw bekerja di sana. Pekerjaan yang tidak pernah terbersit sama sekali di pikiran, bahkan gw tidak punya pengalaman sama sekali di bidang tersebut. Tidak nyambung dengan jurusan kuliah dulu. Tapi ya begitulah segala sesuatunya dapat dipelajari asal ada kemauan.

Tentang pekerjaan ini, hmm bagaimana ya menceritakannya, gw pribadi menilainya biasa-biasa saja. Paper work, seharian di depan komputer, jauh berbeda dengan gw yang menyukai tantangan dan sesuatu yang berhubungan dengan mobilitas. Tapi ya sudah dijalani saja sambil bersyukur (menyukuri diri sendiri lebih tepatnya :p ).

Share: