August 19, 2022

Cerita Lahir (Caesarean Section-Premature 32 weeks)

Halooo bundah-bundih yang budiman..

Pernah janji sama kalian ((ecie ada yang nungguin gak nih?)) untuk share cerita kelahiran dan inilah dia gw persembahkan khusus untuk kalian yang mau mau aja 😋((setelah 17 bulan dari persalinan)).

Due date yang pada awalnya antara 11-15 May maju delapan minggu ke 24 Maret. Tidak pernah disangka, tampaknya disinilah ujian tertinggi dalam hidup gw dari Tuhan.

Sejujurnya emang gak nyangka kalau harus melahirkan prematur karena tidak ada riwayat kelahiran seperti ini di keluarga. Selama kehamilan pun kondisi gw selalu dalam keadaan baik, kenaikan BB gw dan janin oke, tidak pernah mual atau muntah yg bikin gak bernafsu makan, jadi makan gw tuh enak banget selama hamil. Sempat pernah kurang air ketuban tapi setelah catch up dengan banyak minum air mineral, hal itu bisa cepat teratasi.

Share:

August 13, 2022

Wanita Belum Sempurna Jika Belum Menjadi Ibu

Benarkah? 

Adakah di antara kalian yang mengernyitkan alis saat membaca judul tulisan

Apakah pernyataan itu bisa dibenarkan?

Untuk generasi millenials mungkin sering mendengar penggalan kalimat tersebut ya. Dimana sebagian dari kita sedari kecil sudah didoktrin nanti jika sudah dewasa untuk wajib menikah lalu mengandung, melahirkan, mengurus dan membesarkan anak. Jadilah ia wanita sempurna yang bisa berkembang biak.

Mungkin sebagian dari kita sering mendengar kalimat "buat apa sekolah tinggi-tinggi nanti juga ujung-ujungnya di dapur". Miris ya?

Di dapur pun juga butuh skill khusus lhoh, chef ternama saja punya sekolah khusus dan mayoritas mereka itu pria.

Seharusnya tidak perlu genderisasi seperti itu.

Zaman sudah berubah pesat, wanita bisa menjadi apapun yang mereka mau, mereka punya suara yang patut didengar di rantai kehidupan ini.

Menurut gw pribadi sempurna atau tidak sempurnanya wanita tidak bisa dinilai berdasarkan profesi dan peran. Toh kita semua tahu tidak ada manusia sempurna.
Menjadi Ibu memang tidaklah mudah, selalu ada pelajaran dan tantangan baru setiap hari dan itu bukan berarti mereka menjadi sosok yang sempurna.

Tidak menjadi Ibu bukanlah berarti menjalankan peran hidup yang mudah dan juga bukan berarti mereka menjadi sosok yang tidak sempurna.

Setiap insan memiliki tantangan, ujian dan rezeki masing-masing. Takarannya pasti berbeda. Siapa yang menentukan takarannya? Tentu saja Sang pemilik alam semesta Tuhan Yang Maha Esa.

Semoga ya di zaman ini, dimana gen Z dan Milenial sudah banyak berperan tidak ada lagi celotehan seperti itu. Tidak ada lagi doktrin berdasarkan gender. Terutama dengan stigma perempuan di dapur, laki-laki dimana aja suka-suka mereka. Hehe.

Semoga juga generasi Boomers selalu mau belajar dan update informasi. Berpikiran terbuka memang sangat dibutuhkan di era ini.

Gw pribadi menilai para gen Milenial yang sudah berperan menjadi orang tua, mereka mengasuh anak dengan cara yang tidak dibeda-bedakan. Baik anak perempuan ataupun laki-laki semua harus bisa bekerja di dapur, membersihkan rumah, mencuci baju dll. Karena sebenarnya itu semua kan basic skill untuk bertahan hidup.

Agar mereka terbiasa dan bisa hidup mandiri juga menjadi sosok yang sempurna. Eh canda hehe.

Semakin dicari semakin kita tahu yang namanya sempurna itu tidak ada, manusia tempatnya salah. Mungkin ujian di sekolah dapat 100 itu baru sempurna, tapi namanya manusia selalu akan merasa ada sesuatu yang hilang atau kurang.

Oke sampai sini bisa dipahamin ya kalau sempurna itu adalah fana. Sempurna bisa diganti dengan kata cukup dan syukur.

Saat manusia bisa menentukan kadar cukup dalam dirinya disitulah dia memiliki kehidupan yang berkah dan sempurna versi dirinya.
Share: