June 30, 2020

The Importance of Counseling With a Psychologist

The Struggle is Real

I understand the situation can be challenging at the moment for some of you. We all have anxiety and there is no need to be embarrassed about that. We just need to let our self to accept the situation. Go seek for professional help if you need it. (I believe you all need it ☺️)

Share:

Pandemi Covid-19 di Jakarta


Lucu yaaa.. Lucu banget negeri dongeng yang penuh drama kumbara ini..

I used to like and voted for Mr. #1

But now I can't even say a thing about him without getting too emotional, angry, disappointed, embarrassed, anxiety and other bad feelings.

I used to ignore and feel sorry for my parents when they bad mouthing about him. But now I realized that I was wrong. We shouldn't get too amazed by him built many infrastructure, it is his job to make this country a great place and it is a crystal clear it shouldn't make him the only great person in this country. I am starting to wonder what is his main and top secret goal actually. Hmm..

In here I have no intention to harm him.

Ini negara kita tanggung jawab kita bersama. Jangan bergantung dan memuja ataupun menyalahkan satu manusia. Sering denger kan kalimat "jangan terlalu memuja dan bergantung pada manusia, pujalah penciptaNya". Jika seorang manusia menggantungkan nasib atau takdir kepada manusia lain, maka rasa putus asa akan lebih dekat dari urat nadi kita.

I'm curious if our country get laughed by other countries or not. I think (and probably what mostly everyone thinking) we need to learn from our neighbour such as Vietnam, Taiwan and even Timor Leste for God sake!!
It is true that some of 'em have the least of citizens, but what they have in common? DISCIPLINE and A GOOD GOVERNMENT/CITIZENS. I understand now why Timor Leste want to be INDEPENDENT!

Jika pemerintah bertindak tegas setegas-tegas nya, maka rakyat yang bodoh ini akan patuh.. Tugas pemimpin untuk bisa memutuskan sesuatu yg bijak dalam hitungan detik. Mana mungkin kita akan borong baju lebaran atau apapun jika departemen store diwajibkan tutup. Di sini saya malu banget sih karena sebagian besar dari mereka cari baju buat lebaran..mau dipakai kemana bro sis? Kalo lebaran masih ada yang open house wah gila sih, no kaleng-kaleng lah sebagian besar warga kita.

Gak mungkin warga berani keluar kalau pintu tol ditutup dan dijaga TNI-AD full with their gear. Airport dan port juga ditutup dan dijaga TNI-AL, tim gegana, tim damkar, tim satgas, tim SWAT, tim CSI (eh monmaap kebanyakan nonton criminal drama).

Padahal sudah ada kisahnya di Zaman Nabi bagaimana cara menghadapi wabah "Jangan kau masuki ataupun keluar dari daerah yang sedang tertimpa wabah". Kita memang bukan negara Islam, hanya negara dengan mayoritas muslim, tetapi pemimpin kami Islam (sejauh yg kebanyakan orang tau), banyak alim ulama, ada MUI.. Tetapi kenapa gak mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW (peace be upon him). Astagfirullah.

source: republika.co.id

Coba kita jadikan renungan, di Asia kita salah satu negara yang termasuk belakangan disambangi virus Covid-19. Tapi kita bukannya belajar cara antisipasi dari negara terdahulu, tapi malah sibuk bikin meme kalo warga +62 kebal Covid-19, sibuk bikin meme "kita gak takut Corona tapi lebih takut banjir", "Corona takut datang karena kita lagi banjir". I am the one who laughed at those dreadful jokes to be honest and I am ashamed of it. Justru Tuhan tunjukkan kasih sayangnya dengan datengin  ujian secara satu persatu.


Ohh come on.. Why destroy our people? our city? our neighbor? Is it possible if all of this theory are the super plan? Why  government didn't do any prevention at the very first place. I AM ANGRY, SCARE AND SAD to find the truth. Truth is always painful but honesty is all we need. I don't believe in white lies.

For now it is useless to regret some things, just find a way to make things better.. Find a solution. Probably lock down the country? Anyone with me? Full lock down for at least two weeks. CUT THE CHAIN.

Don't ever say it can destroy our economy situation. Ada gak ada Covid-19 ekonomi kita emang udh gak jelas. Lock down gak lock down sekarang perekonomian udah gak jelas.. PHK, cuti tidak berbayar, bisnis mulai gulung tikar, itu semua yang dihasilkan oleh PSBB yang membingungkan.. Mau sampai kapan?

Banyak omongan "jangan share yang negatif-negatif gaes, bisa ngerusak imun". Oh sorry justru gw ngerasa imun dan spirit gw bertambah dengan kaya gini. You do you. JANGAN NGATUR.

My apology again, but that is just so stupid in my personal opinion.. Kita dianugerahkan akal dan anggota tubuh untuk digunakan sebaik-baik nya.. Kalo gak digunain itu namanya mubazir.

At least I never use my fingers to Julid the celebrity and never did an useless fighting on whatsapp group or in comment column. This is not Julid nor comment, it called SPEAK UP! Find the differences please peeps.

I rarely see (or maybe I just don't know) the nowadays so called celebrity aka influencer sharing about this matter. Or maybe there are, but I just don't know it, because my knowledge of celebrity is very limited and I'm too lazy to do a research for this kind of thing. Is it possible if they save themselves first from being dislike? and oh you know what? I don't give a shit about that.. What is right is right..

I do realized that some celebrity and famous peeps do the their part  with made a huge donation, rise the charity, virtual donation concert and many more. But until when to be exact? Only God knows. No, I don't mean to blame them or anyone, if we need someone to be blame there is no one other than ourselves. If we the citizens don't stop the spread of the virus, I believe it can occur forever.

On another hand, probably just my another 50 cent, people who went around to the super crowded mall (department store) and  traditional public market don't know if there are tons of online stores around us. They have a promo as well, just like in the mall. They also sell vegetables, rice and many things. Peeps who went to an airport and to a junk food restaurant for a very stupid non sense reason maybe have zero access to information and technology. ((Yes I am just being sarcastic here)). I think they are just a new generation of an era, Covidiot.

I wish I can make an open letter to Mr. #1, but at this point I'm sure he doesn't even care anymore with his people's thought. He Just don't care with how his people will feel and react. Oh I just remember that I have the media to make an useless open letter.

What I'm trying to say in here.. If our leader can't take care of us, we are the one who have the responsibility to take care of ourselves and our beloved ones. If everyone can do that I believe the virus can slow the speed down from spreading.. STOP BEING A CARRIER!

My prayers goes to all medical team, all of them, the one who works in the first line and in the end of the line. The ones who work without prejudice. Works with heart, sincerity, affectionate and many other good things that idk.. They took an oath so they need to obey as well.. But actually they can run away from it if they are shameless and don't have something that we usually called HUMANITY.

Last one, I don't  want to leave behind my appreciation to the Journalist who still working with passion and sincerity. Keep the spirit up and always give us the true news.

GOOD LUCK!  May the peace be upon you!
Share:

May 31, 2018

Pesona Ka'bah di Tanah Haram

Alhamdulillah di tahun 2018 ini gw berkesempatan untuk dipanggil ke rumah Allah SWT, Masjidili Haram untuk menjalankan ibadah Umrah selama sembilan hari. Memang ini bukanlah kali pertama gw menginjakan kaki di Tanah Suci, kebetulan gw brojol di Jeddah dan jadilah bebas bisa kapan aja ke Medinah ataupun Mekkah. Tapi ternyata yang gw rasakan saat pertama kali melihat Ka'bah itu berbeda banget dengan waktu kecil. Hmm ya iya lah waktu kecil gw kan gak paham apa-apa, gak punya dosa, saat ibadah pun masih digendong-gendong Papa. Kalau sekarang dosa nya udah banyak kali yaa (pasti sih bukan kali lagi :p ) jadi langsung bergetar hati saat melihat Ka'bah, air mata pun tidak bisa ditahan untuk tidak mengalir.

Bukan bermaksud berlebihan tetapi gw sendiri juga gak nyangka bakal ngerasain itu semua. Sebenarnya agak sulit untuk menceritakan tentang perjalanan ini, karena sifat nya lebih personal ataupun habluminallah. Jadi gw nanti akan lebih banyak share hasil jepretan ala kadarnya.

Suasanya ramainya Ka'bah saat dikelilingi oleh manusia dari berbagai penjuru bumi. Semua hanya karena mengharapkan ridha Allah SWT, memohon ampun, memanjatkan doa dan beribadah.

Ngomong-ngomong tentang hasil jepretan ataupun dokumentasi, ternyata sekarang udah bebas banget ya menggunakan handphone di Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi. Berbeda banget dengan sekitar tahun 1990-an, gadget kamera saku saat itu bener- bener dilarang, kalau kita ngeluarin handphone di Masjid bisa dimarahin abis-abisan sama Askar (penjaga masjid). Tapi karena sekarang memang sudah digital era dan penggunaan gadget pun sudah tidak bisa dibendung lagi, maka menurut gw yang terpenting adalah pengendalian diri dari jamaah dan ingat dengan tujuan utama datang ke sana untuk apa lagi kalau bukan untuk ibadah dengan khusyuk. 

Ada sedikit cerita, saat dini hari waktu pertama kali melakukan ibadah Umrah, tepatnya saat Thawaf (mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh kali) ada bapak-bapak paruh baya yang nekat memvideokan ibadahnya itu. Gw ngeliatnya sih percaya gak percaya, kok bisa-bisanya ada orang yang berbuat seperti itu, gimana caranya bisa ngobrol sama Allah SWT kalo dia sendiri masih sibuk mikirin dunianya. Nah itulah, mungkin saat itu si bapak belum sadar untuk membedakan urusan di dunia dan di akhirat. Mungkin si bapak masih ingin eksis di sosmed ataupun sekedar memperlihatkan ke saudara-saudara dan kawan-kawan di tanah air nanti. Namun akhirnya setelah besoknya ditegur baik-baik oleh Ustad saat kajian barulah si bapak mengerti, yang penting pada akhirnya bisa berubah kan. Manusia memang lucu.

Sebetulnya pada awalnya gw gak terlalu niat untuk berangkat Umrah, dengan alasan belum merasa "terpanggil" dan gak rela uang tabungan terkuras. Tetapi setelah gw pikir-pikir ini kan untuk ibadah dan rezeki sudah diatur oleh Allah SWT, jadi hayuk sajalah. Mungkin memang ini sudah saatnya gw kembali menginjakkan kaki di Tanah Haram. Mendekati hari H gw pun juga semakin bersemangat  untuk Umrah bersama Maghfirah Travel dan merasa tidak sabar untuk bisa secara langsung melihat Ka'bah lagi.




Overall, biro perjalanan ini cukup memuaskan karena para ustadz yang disediakan oleh mereka dapat dinilai sangat bagus. Dilihat dari materi kajian yang mereka sajikan, doa-doa yang mereka bantu lafalkan, semuanya sangat menyentuh hati dan para ustadz ini sangat sabar menghadapi jamaah yang jumlahnya sangat banyak.

Tetapi karena program yang gw gunakan judulnya adalah Budget Umrah jadi jangan ngarep dapat hotel bagus dan makanan enak, semua serba ala kadarnya. Jadilah selama di Mekkah untuk makan gw selalu jajan setiap hari, karena didukung oleh faktor kangen berat sama masakan-masakan Arab.

Renovasi terus berlangsung sepanjang tahun di Masjidil Haram


Makkah Royal Clock Tower, a Fairmont Hotel. Hanya berjarak 50meter dari masjid dan merupakan salah satu bangunan tertinggi di dunia dengan 76 lantai dan di atas menara terdapat jam terbesar di dunia.



Oh ya, di kota Mekkah ini gw juga kagum dengan banyaknya burung yang berterbangan dan mencari makanan di sekitar Masjidil Haram. Sejauh penglihatan gw tidak ada satupun burung yang berterbangan di atas Masjid, menarik bukan? Burung-burung tersebut seolah ingin menghindari tempat suci tersebut karena takut tidak sengaja membuang kotorannya. Burung-burung ini suka terbang ke arah manusia yang hilir mudik, tetapi tidak ada yang nabrak ataupun membuang kotoran secara tidak sengaja di atas kepala jamaah.




Share:

February 11, 2018

Eksistensi Diri itu Penting

Di tahun 2018, di zaman generasi milenial berjaya, kita semua mengetahui bahwa tidak hanya anak-anak remaja saja yang bisa unjuk gigi, tetapi sampai ke generasi bapak-ibu angkatan lawas ingin eksis, ingin tampak, di dunia maya. Dunia maya yang lama-lama menjadi seperti realitas, menjadi tolak ukur kualitas hidup seseorang. 

Kita terbiasa untuk melihat realita dari dunia maya, dari depan layar kaca smart phone kita masing-masing. Sehingga efeknya kita menjadi tidak atau kurang peka terhadap lingkungan yang nyatanya benar- benar hidup persis di depan kita. 

Banyaknya ragam portal aplikasi media sosial membuat sebagian besar kaum terbantu untuk urusan eksistensi. Ada yang hanya untuk sekedar iseng-iseng berhadiah, tapi ada juga yang menjadikan hal ini sebagai ladang mata pencaharian. Kalau untuk artis zaman dulu mungkin kalau mau main film susah banget proses castingnya. Kalo zaman sekarang simpel aja “oke gak ada yang mau terima gw main film, ya gw shooting sendiri, di live instagram kek, followers gw aja yang nonton,  siapa tau lama-lama jadi tenar. ” Padahal yang nonton cuma satu orang dan itu pun juga cuma tiga detik. 

Rasanya zaman sekarang ini kalau pengen cepet tenar itu gampang, lo terbitin aja foto sexy di instagram, lo bikin deh video umbar kemesraan di youtube, tunjukan betapa romantisnya lo dan pacar. Padahal pake seragam putih abu-abu aja belum, pacaran ke luar kota masih modal dari orang tua. Eh tapi abis itu bisa aja mereka langsung punya modal, dengan catatan viewers di video lo harus banyak. Atau ide lainnya lo bikin aja video berantem atau adu bacot. Cewe sama cewe pasti banyak yang tonton, apalagi ditambah  dengn aksi jambak-menjambak. Malah akan lebih seru lagi  kalau berantemnya sama istri orang, lo jadi pelakor jadi-jadian misalnya (yang sekarang lg hype banget), dijamin ketenaran lo bisa melejit secepat bintang jatuh. Bisa juga lo jadi anak korban keluarga berantakan, terus lo bikin video curhat dan upload di sosmed, lo akan langsung nge hype di semua akun gosip yang efeknya selalu bikin julid followers. Tapi itu semua masih ditentukan oleh faktor muka, batasannya cuma dua: cantik banget atau jelek banget agar bisa eksis, kalo muka lo standar ya butuh mukjizat yang luar biasa banyak dulu kayanya.

Sah-sah saja memang kalo eksistensi itu menjadi mata pencaharian mereka. Bagus malah karena kan rezeki halal. Apalagi buat mereka yang banyak pengikutnya di sosmed, jasa endorse atau paid promote mereka mungkin lebih besar daripada gaji sebulan karyawan kantor biasa. Memang itu semua tetap tergantung dari jumlah followers mereka dan seberapa cerdas juga kreatif mereka. Gw sih suka sama kekreatifan para influencer yang berbobot dan memberikan dampak positif untuk viewers nya. 

Suatu hari gw ngobrol sama temen gw mengenai fenomena ini, betapa gilanya kehidupan sosial sekarang. Apakah kita saat ini benar-benar tau apa makna esensial dari kata sosial atau bersosialisasi?

Saat ini sosialisasi itu ditunjukkan bukan dilakukan. Contohnya, bermula dari kita janjian dgn rempong nya di grup whatsapp, lalu ketemuan dan kumpul-kumpul. Lalu apa yang kita lakukan pada saat kongkow itu lah yang menjadi inti permasalahan terbesar abad ini. Mungkin diawali dari hai hai, cipika cipiki, ngobrol sekenanya, kepo dikit, lalu semua fokus ke smartphone masing-masing. Makanan pun datang, makan sambil tetep main hp, lalu diakhiri dengan “eeeh yuk foto dulu, kita dari tadi belum foto” cekrak cekrek gak kelar-kelar, lebih lama dari sesi ngobrolnya, sampai buat heboh satu restoran.  JangnJanit  lupa saat-saat lagi heboh itu diabadikan dengan video utk instastory atau snap chat. Juga gak lupa foto makanan pas tadi makanan baru dateng di publish. Padahal belom tau itu makanan rasanya seperti apa. Take a picture first and the rest will follow. Itulah gaya sosialisasi zaman sekarang. Gpp, gak ada yang bilang ini tidak baik.

Jadi di sini permasalahannya, sosialisasi itu ditunjukan bukan dijalankan. Mereka lebih memilih untuk menunjukkan ikatan mereka kepada viewers,  bukannya mempererat hubungan itu secara personal. Bahkan bukan hanya perihal hubungan pertemanan saja yang dipertontonkan, misalnya ada juga untuk pasangan suami istri zaman now, sudah bukan hal yang tabu bagi sepasang suami istri kekinjan untuk menunjukkan kemesraan mereka yg berlebihan di depan umum. Kadang gw suka geli sih klo liat pasangan kaya gini, bukan, bukan karena gw iri nan ora mampu *klarifikasi biar kaya artis. Tapi geli aja gitu mereka publih foto peluk-pelukan dan ditambah dengan cerita (bukan caption lagi) bijak. Udah kaya rumah tangga lo aja yang paling keren dan paling kuat dalam menghadapi berbagai terpaan angin puting beliung, sapuan air laut dan gonjang ganjing dari biduan. Iya gw tau hidup lo banyak masalah, udah gak usah sok bahagia gitu. 

Namun masih mending kalau memang sudah suami dan istri, saat ini remaja SMP zaman now udah pede untuk menunjukkan kemesraan mereka yg terlalu berlebihan di sosmed, istilahnya PDA. Klo gw sih mengkategorikannya bukan mesra sih tapi apaaa yaaa, duh gak ada kalimat yang pas. Yang namanya kemesraan tuh gak perlu diumbar dek (yailah tua bgt gw rasanya), kemesraan itu lebih romantis kalo menjadi rahasia kecil kalian aja. Kalian doang yang nikmatin. Tapi gak baik ah mesra-mesraan kalo belum muhrim, bikin nanggung bin kentang kan. Makanya gw sekarang gak pernah upload foto romantis bareng pacar, ya karena emang gak punya pacar sih #sad #promosi *nangis di selokan*. Tetapi gw bukanlah makhluk yang gak pernah publish foto model begini. Dulu bangga rasanya bisa posting foto sama pacar dengan gaya macem-macem, mulut dimonyong-monyongin, tatap-tatapan jiji mesra, yeeeuh *lap muntah*. Walaupun pacar ngomel karena kenorakan gw, tetep aja gw keras kepala dan ngerasa itu hal yang wajar. Maafkan kekhilafan gw zaman dulu yang norak pada masanya, sekarang gw udh insyaf kok, balikan yuk. Eh. 

Bahkan tidak hanya sebatas kemesraan, potongan kulit tubuh sebisa mungkin ditunjukkan sebanyak mungkin. Semakin dikit benang di badan lo maka akan semakin meningkat derajat kekeranan dan kekinian lo. Apalagi sekarang internet menjadi portal yang sangat membantu untuk mencontoh apa yang dilakukan oleh orang lain, terutama kebiasaan dari budaya barat dll. Gw pribadi sih kalau liat bule publish foto bajunya minim biasa aja liatnya, terkesan wajar, tetapi kalau orang kita, entah kenap kok gw doyan jiji sendiri ya.

Tidak bisa gw pungkiri remaja sekarang lebih memilihi gaya hidup yang kebarat-baratan. Ya gpp sih suka-suka mereka, hidup-hidup mereka, gw kenal mereka juga nggak. Gw sih seneng-seneng aja lihatnya. Lumayan penyegaran untuk mata. Lah gw aja yang cewe senang lihatnya kalau ada yang seger-seger bin bening, apalagi kalau cowo. Kalo gw gak seneng ya gampang, gak perlu gw liat apalagi sampe ninggalin komen gak enak, lah emg gw hakim di hidup mereka. Bae-bae ye kalo pada komen, mentang-mentang bisa berlindung dari balik layar hp, identitas lo gak ketahuan, pada komen seenak jempol aja lo pada. Gak punya etika. Intinya mau mereka copot pasang baju kek, eh jilbab maksudnya, ya biarin aja gak usah pada komen sampe tuh orang jadi deisperado dan mendadak bijak dengan posting aneka tulisan di instasory nya. Kalo lo beneran peduli lo nasihatin baik-baik, setau gw agama juga mengajarkan kalau menasehati orang lain lebih baik dilakukan secara langsung dan tidak di ranah umum. Kalau di ranah umuh bukan nasehatin namanya tetapi menghina. Miris memang karena saat ini gampang sekali untuk kita saling menjustifakasi seenak udel si engkong. Ada yang bilang karena generasi micin segala, ya micin lagi di salah-salahin.  Ini tuh karena saat harusnya lo fokus belajar dengan baik di sekolah tapi lo malah .. entah hanya Tuhan yang tahu lo malah ngapain.   
Remember my dear friends, we live in our own shoes and every shoes is unique and way too different. Our sins will always be ours, equal to our merits. 

Hidup itu pilihan seperti yang udah gw bahas di tulisan-tulisan gw sebelumnya, yang udah kaya sinetron ada serial dari 1-5, jadi suka-suka lo mau pilih gaya hidup apa. Namun ingat semua pilihan itu ada konsekuensinya ya. Jangan nyesel kalo udah keburu kecebur di comberan item nan bau, susah bersihinnya. Jadi bae-bae deh kalo hidup, gw aja mau belajar baik nan bener hidupnya susah banget ini. Susah bukan berarti tidak bisa.

Banyak sekali istilahnya untuk para artis di dunia maya ini, mulai dr yg jadul seperti trendsetter sampe yg kekinian yaitu influenza eh influencer kamsudnya atau biasa juga kita dengar dengan sebutan selebgram. (hmm apalagi yaaa itu doang sih yg gw tau :)))))). Jujur, gw sih senang2 aja melihatnya, apalagi klo ada influencer lucu bin gak jaim dan membagikan tutorial yang bermanfaat. Karena generasi kita ini adalah generasi tutorial, jadi kalau setiap mau ngapa-ngapain harus liat cara kerjanya dulu di youtube. Gw sendiri paling seneng menonton make up tutorial di youtube. 

Beuh jangan diitung ada berapa banyak beauty blogger bertebaran, dimulai dari ecek-ecek yang viewers nya dikit sampai yang maha spektakuler viewers nya ngalahin music video Adele. Tetapi lagi-lagi di sini kita harus memilih, mana dari para influencer itu yang cocok untuk kita  dan sejalan dengan prinsip hidup kita. Misalnya kalau gw sukanya sama beauty vlogger yang kalo kasih tips to the point, ngomongnya cepet dan gapake pose-pose ala ayan setelah make up. Jadi, baiknya jangan semua juga lo tonton, gak baik.  Buang-buang kuota. 

Gw sendiri ngeblog gini bukan untuk sekedar eksis, jauh dari sebelum blog itu eksis banget (pada masanya) sampai ke sekarang yang sudah kalah sama Vlog, gw udah punya si Bola Mata ini dari tahun 2009. Buktinya sampai 2018 gw masih aja gak eksis kan wkwk. Gw punya bola mata karena hanya ingin mempunyai media untuk mengeluarkan apa yang menjadi sudut pandang gw. Sekalian jaga-jaga kalau suatu saat gw amnesia atau demensia, gw jadi bisa baca sedikit cerita hidup dari sudut pandang gw sendiri. Gak perlu diceritain dari orang lain dengan versi yang pasti berbeda dari ingatan gw. Blog ini sekalian jadi wadah untuk kontrol level kealayan gw, daripada norak curhatnya di status facebook, status whatsapp ataupun instastory. Kadang sih doyan khilaf kaya gitu, puter musik galau di instastory terus lensa kamera ditutup tangan biar warnanga item galau terus kasih deh stiker “mood”. Ciamik. 

Intinya jagalah mata kalian, kalo ga suka ya jangan dibaca. Gw pun ga pernah memaksa orang untuk baca blog gw (BOHONG BANGET). Gw menulis begini juga gatau ada berapa banyak mata yang baca dan otak yang paham sama tulisan absurd gw. Jangan-jangan jumlah viewers itu isinya gw semua yang tiap hari ngereload si Bola Mata.

Mungkin bagi sebagian orang, blog berupa tulisan sudah ditinggalkan sebagian besar kaum. Saat ini zamannya vlog, video log (bener gak sih?) Gak mau cuma tulisan yang bisa diliat orang, tapi muke lo yang harus jadi konsumsi orang asing. Lagi-lagi gw harus bilang ini bukanlah sebuah masalah, muke-muke lo kok ya suka-suka lo. Tapi gw paling males sama yg namanya daily vlog yang tingkat ketidakpentingannya selevel dengan lo nanya ke cowo lo “sayang jujur ya aku gendutan gak sih? Huhu”. Penting amat gw harus nonton keseharian lo yang gak ada esensinya utk orang lain gw, misalnya saat lo lagi aktifitas di kampus, rumah, lokasi kerja atu sampe lo boker juga di vlog nanti lama-lama. 'Hai guys liat aku lagi ngeden. Begini lhoh cara ngeden yg baik dan benar agar berfaedah.'

Tetapi bukan berarti semua vlog itu tidak bagus, Banyak sekali vlog lain yang isinya berbobot, ini yang gw suka. Misalnya mereka bisa berbagi bagaimana cara yang benar untuk menjalani hidup, menjadi motivator, memberikan inovasi serta ide-ide cemerlang seperti life hacks, juga memberikan banysk inspirasi lainnya, anak muda berbakat dan cemerlang juga ribuan jumlahnya.  Tidak lupa yang teramat sangat penting adalah tutorial video bagaimana cara apply foundation yang benar dan men-set dengan translucent powder agar itu foundie gak lari-larian ngejar suami orang.

Kembali ke suatu hari saat gw tadi ngobrol sama temen gw lupa deh tuh paragraf berapa, udah jauh banget bray. “Kadang gw capek deh main instagram” dia berkata out of the blue, gak ada kucing lagi kawin, gak ada kucing lagi ngejar-ngejar anjing, tiba-tiba aja temen gw ngeluh gitu. “Lah kalo capek ya ga usah main, sign out aja dulu” timpal gw sekenanya.  “Hmm tapi klo ga buka sehari berasa ada yg kurang, kalo path sih ga dibuka seminggu juga gpp” terang dia. “Yee ribet ya hidup lo” kata gw sambil tertawa nyinyir. “Yaa gimana gak ribet, liat tuh orang lain kalo post foto like nya banyak banget, bisa sampai beribu-ribu, apalagi kalo bajunya sexy banget gitu” ucap dia terkagum-kagum. “Gw tuh ya udah motret pemandangan cakep-cakep, terus gw edit sedemikian rupa, eh like yg gw dapet cuma 5” cerocos temen gw berlanjut.  “Tapi nih ya kalo yg gw upload foto muka gw, mayan deh yg like ada 100an, gw tau sih gw emang cantik” kata dia cekikikan. “Yeeee dudul” balas gw sambil noyor pelan kepalanya. Lalu gw melanjutkan “Yaelah gampang kali itu, coba lo pikir dulu, lo yakin emag foto temen-temen lo yg beribu-juta like itu dia dapet dari temennya dia semua?" tanya gw. "Eh maksudnya?" timpal dia. 'Hari gini mah lo beli aja jasa like” terang gw “haaah apa iya itu beneran bisa?” Tanya dia polos. “Iyee banyak tuh jasanya di instagram, lo search aja pake hashtag jual like, murah2 kok.” Akhirnya dia pun membeli jasa like beserta followers dan seketika itu pula hari teman gw menjadi cerah. Secerah matahari di pinggir laut.

Nah saat ini memang sepenting itulah pengakuan diri atau diakui di dunia maya. Ada juga temen gw yang deg-degan kalo like di instagram nya dikit. Ada juga yang bete followers nya cuma pada kepo, karena viewers di instastory nya banyak hampir semua followers nya lihat. Tetapi gak ada yang comment, bahkan kalau dia publish foto yang nge like gak ada seperempat dari jumlah followersnya. Miris gak sih?. Ya iyalah secara followers nya online shop semua.

Di suatu hari lainnya gw pernah baca insta-story dari artis Sofia Latjuba. Intinya dia dengan baik mengingatkan kita utk memanfaatkan kuota internet untukk hal-hal bermanfaat misalnya belajar bahasa baru, gali informasi mengenai beasiswa dll. Jangan malah ngurusin hidup artis dan separuh waktu dari 24 jam lo abis buat nyimak ig nya lambe-lambean. Gw setuju sih karena berdasarkan pengalaman gw nih ya, sejam aja lo nyimak ig nya aneka lambe, seketika itu juga otak lo jadi butek, gelap ketutup kabut hitam pekat, jadi terkontaminasi hal-hal negatif dan hati lo dipenuhi iri dan dengki. Ihh ngeri banget kan. Surround yourself with positive energy

Mari kita manfaatkan kuota internet kita yang bejibun untuk hal yang sangat bermanfaat bagi level kecerdasan otak kita masing-masing. 

Salut deh buat kaum yang gak punya media sosial. Dijamin hidup lo lebih tenang dan less controversial.



Share: