March 5, 2021

Ulasan ( Review) Dokter Kandungan (Obgyn) dan Rumah Sakit (RS) di Brawijaya Duren Tiga

Sejak awal mengetahui tentang kehamilan pertama ini, gw memang sudah berencana dan hanya berminat untuk kontrol kehamilan di RS Brawijaya Duren Tiga. Ada beberapa alasan kenapa gw memilih RS ini:

  1. Faktor jarak, dekat banget dengan domisili saat ini. Apalagi di era pandemi Covid-19 ini ya bun, rasanya lebih aman kalau pergi ke yang dekat-dekat aja.
  2. Rekomendasi dokter hasil surfing di google, ada salah satu dokter yang ingin gw coba untuk konsul, yaitu dr. Laksmi Maharani, Sp.OG. *(nanti kita review  lebih lanjut ya bun)
  3. RS Brawijaya ini cukup punya nama, gw dari dulu taunya yang di daerah Kemang. Cabang di duren tiga dulunya bernama Rumah Sakit Ibu dan Anak Duren Tiga, ganti manajemen pada 7 November 2018.
Alasannya hanya itu aja sih, gw emang bukan tipe yang terlalu muluk-muluk bin ribet, yang penting tempatnya bersih. BTW gw kurang suka tapi sama toiletnya, terutama untuk ukuran RS, masih kurang bersih dan wangi. Jauh lebih wangi toilet di mall-mall Jaksel (kan kita anak Jaksel bgt bun πŸ˜›).

Mohon diingat ya bun....cis πŸ˜‚ penting banget untuk bikin appointment sebelum datang ke RS, terutama di  masa pandemi. Caranya gampang aja, buka website Brawijaya  lalu bisa via  telepon ataupun Whatsapp. 

Saat hari H dateng ke RS tepat waktu dan antri gak terlalu lama, pelayanan di administrasi juga termasuk cukup cepat. Juga seperti biasa saat masuk RS langsung di screening standar oleh petugas, untuk mengetahui kondisi kesehatan dan apakah pernah kontak dengan pasien Covid atau tidak. Untuk protokol kesehatan di Brawijaya ini termasuk bagus.

Mungkin agar enak dibaca gw bikin point-point aja kali yaa mengenai plus minus di RS dan obgyn-nya secara subjektif. Pertama review dokternya dulu ya bun.

(+): 
  1. dr. Laksmi ini termasuk obgyn yang informatif dan gak malas menjawab pertanyaan pasien. Dimulai dari pertanyaan yang bodoh πŸ˜† sampai ke yang penting.
  2. Cukup ramah walaupun gak terlalu banyak basa basi, gw pribadi merasa nyaman dengan beliau.
  3. Jangka waktu konsultasi terbilang pas, gw biasanya untuk konsultasi rutin hanya memakan waktu 30 menit. Kalau mau lebih lama ya boleh aja asal tau diri ya bun. hehe.
  4. Saat USG(Ultrasonografi) cukup detail memeriksa janin dan dokternya keliatan serius jadi gw ga banyak nanya atau ngobrol.

(-):
  1. USG Fetomaternal di RS Brawijaya kayanya mandatory bin fundamental ya. Saat itu gw cuma berencana USG biasa, tapi saat diperiksa ternyata gw mendapatkan USG Feto. Sebenarnya gpp kalau mau Feto, tapi ya diinfo dulu gitu sebelumnya, jadi pas di kasir gak kaget πŸ˜‚dan bisa lebih detail bertanya saat USG. Ditambah gw kontrol saat hari Minggu, yang katanya dr. Laksmi ga mengadakan Feto setiap hati tersebut. Pantesan saat itu USG nya lebih detail dan lama. Untung pas USG 4D fotonya ga dicetak sama dokter, karena kebetulan si Utun lagi ngempeng tangannya (nutupin muka)πŸ˜† jadi percuma dicetak kalau mukanya gak keliatan. Kenapa gw bilang untung karena kalo cetak foto hasil 4D di sini lumayan mahal dan sebelumnya gw udah cetak 4D di klinik lain yang lebih murah. hehe.
  2. Ada suatu kondisi gw yang sebenarnya mewajibkan untuk dicek rutin saat USG, tapi kesannya  obgyn tidak mau rutin memeriksa dan terkesan menyepelekan.

Sudah segitu aja kontra-nya, memang gak banyak kok penilaian negatif dengan dr. Laksmi, gw pribadi merasa cocok dan sejauh ini gak ada masalah yang berarti. 

Cuma gw belum tau dokter ini pro normal atau caesar karena sampai sekarang pun belum ada omongan ke sana. Faktor janin yang alhamdulillah sehat, membuat gw berasumsi InsyaAllah akan bisa normal, kita rajin afirmasi positif aja ke Utun yuk bun. Karena melahirkan itu termasuk teamwork, jadi kita semangatin juga si Utun 😊. Jangan lupa sebisa mungkin olahraga, jalan santai 30 menit sehari sebanyak 2-3x semingguatau yoga hamil untuk melatih pernapasan. Sebaiknya di konsultasikan ke obgyn atau bidan masing-masing dulu ya karena kondisi setiap bumil berbeda.

Nah, sekarang lanjut ke ulasan RS Brawijaya,

(+):
  1. RS bersih dan lumayan luas.
  2. Protokol kesehatan oke.
  3. Bikin janji mudah dan pelayanan tanya jawab melalui whatsapp cukup responsif dan informatif.
  4. Mereka memiliki layanan bernama Moms Journey. Layanan yang cukup informatif ini kadang kala menginfokan pasien melalui whatsapp mengenai program ter-update tentang fasilitas persalinan maupun promo. 
  5. Antri termasuk cukup cepat, yang penting pasien datang sesuai jadwal, dr. Laksmi pun selalu ada dan tidak pernah membatalkan janji secara sepihak.
  6. Proses administrasi dan pembayaran juga penebusan obat termasuk cepat.
  7. Suster dan staff lumayan ramah.
  8. Fasilitas di kamar untuk bersalin nanti cukup lengkap. 
  9. Ada booth minuman kopi Janji Jiwa, lumayan buat gw kalau mau ngopi yang jarang-jarang.

(-):
  1. Area parkir tidak terlalu luas, gak ada gedung parkir karena RS juga tidak terlalu besar. Tapi selama ini gak pernah susah untuk dapat parkir karena ada petugas yang siap membantu.
  2. Toilet kurang bersih dan wangi.
  3. Di kasur pemeriksaan tidak dialasi kertas sekali pakai, mengingat situasi pandemi harusnya semua serba sekali pakai. Apalagi di Brawijaya ada biaya tambahan khusus APD. 

Tadinya gw udah fix banget akan lahiran di sini, karena lokasi deket banget dari tempat bobo tiap malem,  jadi rasanya lebih aman dan bisa cepat sampai RS kalau tiba-tiba ketuban pecah atau tau-tau udah bukaan 5 πŸ˜€

Tapi saat ini gw masih akan mencari tempat lain dengan biaya lebih bersahabat, karena dimana-dimana (biasanya) yang namanya RS kan komersil ya bun, pasti nanti di ujung akan ada biaya tambahan dari biaya awal yang sudah diinfokan. Misalnya biaya tindakan  emergency ina itu.

Ngomong-ngomong soal biaya, sekarang kita akan ulas dari segi harga nih yang paling ditunggu-tunggu dan disukai bun-bun sekalian. Sebagai menteri keuangan kan kita harus ekonomis dan praktis ya bun. hehe. 

Disimak yaa perincian ala-ala untuk biaya konsul dan persalinan di RS Brawijaya Duren Tiga:
  1. Setiap kunjungan kita akan dikenakan biaya admin Rp 50.000; gw gak paham kenapa setiap kunjungan harus ada biaya admin, di RS besar lain aja biaya tersebut  tidak ada (red-RSPI)
  2. Selama pandemi juga dikenakan biaya rutin untuk APD Covid Rp 50.000; lama-lama jengah juga sama biaya ini, karena sepengetahuan gw dokter dan suster tidak ganti APD saat pasien berganti, jadi kenapa harus dibebankan ke setiap pasien.
  3. Konsultasi kehamilan rutin dan USG 2D, fee dan jasa dokter serta vitamin, total biaya antara Rp. 700.000-1.000.000;
  4. USG Fetomaternal berkisar Rp. 1.000.000-1.200.000;
  5. USG 4D & cetak foto Rp. 800.000;
  6. Persalinan normal dimulai dari Rp. 10.000.000-22.500.000;
  7. Persalinan SC berkisar antara Rp. 22.000.000-36.500.000;
Sekian dulu ya review-nya dan akan di update jika ada perkembangan. Oh ya, harap diingat selama masa pandemi, tidak ada RS yang mengizinkan pasien rawat inap menerima kunjungan, jadi gw pribadi sih berpikir buat apa pakai kamar yang besar. Saat persalinan jujga hanya boleh didampingi satu orang dan wajib untuk PCR atau swab antigen.

Terima kasih yang sudah menyimak dan semoga bermanfaat 😁

DisclaimerReview ini murni berdasarkan hasil pengamatan pribadi ya, preferensi setiap orang berbeda dan biasanya dokter cocok-cocokan ya bun 😊.


Share:

0 comments :

Post a Comment