22 Oktober 2011

Fenomena Antara Pamer dan "Share"

Beberapa bulan yang lalu Saya membaca sebuah kolom di surat kabar Harian Kompas, (lupa edisinya) kolom itu ditulis oleh penulis favorit Saya, Samuel Mulia. Tulisannya cukup singkat tetapi selalu mengena di hati.
Walaupun terkadang ceritanya membingungkan tetapi pilihan katanya selalu tepat untuk mencapai klimaks. Membuat diri ini tergugah dan bisa berpikir secara terbalik.

Pada awalnya susah sekali untuk mengerti judu tulisannya, lalu setelah membaca baris demi baris akhirnya dapat dipahami juga maksudnya. Tulisannya mengenai kebiasaan pergaulan di Indonesia yang sering mengungkapkan "bukannya mau sombong kok tapi cuma mau share."
Saat itu Saya hanya tertawa membaca cerita itu dan menganggap Samuel iri dengan teman-temannya. Saya merasa tidak pernah mengalami kejadian tersebut, tidak pernah merasa ada teman yang bersilat lidah dengan ungkapan "gue cuma mau share aja kok, ga ada niat pamer, suer."
Haha rasanya konyol sekali. Karena mungkin saja Saya termasuk ke dalam golongan yang polos.


Ternyata belakangan ini Saya mengalaminya melalui teknologi canggih dari Blackberry dan Twitter. Beberapa teman yang terkena shock syndrom of life style yang suka sekali mengupdate status yang "mempertontonkan". "Dinner di Hotel bla ba bla..." "Asik punya laptop, kamera baru." Share ke BB group kalo dia punya barang baru. Awalnya Saya jarang sekali berpikir kalo hal tersebut dimaksudkan untuk pamer, tetapi seorang teman memberitahukan bahwa itu adalah simbol kesombongan yang mungkin saja benar.
What's the point?
Mau share apa pamer?
Agak sedikit tidak penting ya buat Saya pribadi membaca status mereka. Memang status itu rata-rata bebas untuk diungkapkan, seperti di kolom jejaring sosial Facebook "What's on your mind?"

Tetapi sebaiknya gak semua hal yang kalian pikirkan harus diungkapkan pada tempat yang salah, apalagi bukan untuk kebaikan bersama.

Kenapa?
1. Hal itu hanya akan menyebabkan kesenjangan sosial.
Saya iri? Semoga saja tidak. Tetapi pikirkan saja perasaan orang lain yang hanya bisa "membayangkan semua hal yang kalian miliki" Toh ga penting kan mengumbar kepada publik apa yang kalian punya. Sesungguhnya apa yang kalian gembar-gemborkan itu hanya menunjukkan ketidakmampuan kalian.
Share-lah hal yang bermanfaat untuk masyarakat luas, karena itu yang mereka butuhkan.
Sedikit pengalaman kalian berarti banyak untuk mereka.

2. Tidak baik untuk kalian.
Teman-teman akan berpikiran yang negatif, mengecap kalian sebagai seorang "exhibitionist." Hal ini juga bisa menyebabkan tindak kriminal lhoh.

3. Ambisius.
Bersifat ambisius itu perlu, asal sesuai dengan takarannya. Saya ini adalah orang yang menerima hidup apa adanya. Jika Saya merasa tidak nyaman dalam suatu kondisi hanya ada dua cara untuk memperbaikinya: a. Buat menjadi lebih baik.
b. Keluar
Bukannya tidak loyal, tetapi sayang jika hidup dibawa stress, jika kita merasa suduh cukup ya tidak apa-apa, asalkan jangan cepet merasa puas.

4. Heiiiii..We dont want to know about your whole life!!
Kecuali jika kalian merasa diri kalian sebagai seorang selebritis, baru lah hal itu bisa dimaklumi :)) semua orang memang ingin tahu tentang kalian.

Tetapi peliharalah sifat "share" ini untuk mereka yang "kepo".
Yaudah deh sekalian: gue posting pake MacBook nih...tapi cuma boleh pinjem..haha what a shame!


au revoir!
Share:

0 comments :

Posting Komentar