28 November 2011

Jakarta Chaos -Part 1-

Menjelang pergantian malam tahun baru etnis Tiong Hoa, dirasakan situasi di Jakarta sangat chaos. Entah situuasi ini sudah biasa dialami warga Jakarta atau karena ini memang malam tahun baru. “Rasanya macetnya lebih parah dari biasa, udah mengantri setengah jam transjakarta belum datang juga,” batin Alinka mengucap. Ia adalah seorang karyawati yang baru saja menjamah daerah Roxy Mas, Jakarta Barat. “Rasanya ga sanggup deh tiap hari kaya gini terus,” keluh Alinka dalam hatinya lagi. Hujan angin turut meramaikan malam tahun baru itu, yang dipercayakan membawa hoki bagi etnis tersebut.

Namun bukan hoki yang didapat seorang Bapak berumur sekitar 60 tahunan, melainkan kebalikannya. Alinka terus saja memperhatikan bapak yang sedang mengantri di depannya, ternyata bapak tersebut terkena tampiasan air hujan saat mengantri bus tranjakarta di Jembatan sampai celananya basah kuyup. Baru pertama kali dirasakan Alinka antrian transjakarta menuju halte Lebak Bulus sepanjang ini, sampai memadati jembatan menuju jalur penyebrangan.
“Basah ya pak?” ucap alinka basa-basi terhadap bapak di depannya.
Lalu bapak itu menoleh, “ia nih nak, kok fasilitas dari pemerintah ga nyaman gini ya? Liat aja tuh atap jembatannya bocor, baju Bapak juga jadi basah.” Oalah ternyata bukan hanya celana bapak itu saja yang basah tapi juga kemejanya.
Perasaan kasihan melanda Alinka melihat bapak ini, dan ia pun mengajak bapak untuk menggeser tempat berdirinya, namun hasilnya Nihil. Setelah menunggu kurang lebih 45 menit di Halte Sumber Waras bapak itu mengajak Alinka untuk transit saja di Halte Harmoni.
“Nak, kita ke harmoni aja yuk disana bus nya kosong, pasti kita bisa langsung naik ga perlu ngantri lama kayak gini.”
Sebagai orang baru alinka menuruti saja ucapan bapak itu, karena dia sendiri juga merasakan bahwa setiap bus datang hanya terangkut 5-10 penumpang. Sedangkan antrian mencapai dua setengah meter.

Akhirnya tanpa berlama-lama kami sudah sampai di Harmoni.
“Waw antriannya panjang juga pak, sama aja nih,” kata Alinka. Bapak itu menimpali, “tenang aja nak bapak udah biasa naik transjakarta, sebentar lagi kita pasti bisa naik bus, kan busnya pada kosong.” “Semoga aja pak” balasnya sambil tersenyum.
“Waaah bisa tua di jalan nih kalo tiap hari kaya gini.” Alinka menyesali lokasi pekerjaan barunya yang sangat jauh. Ia jadi teringat telah menolak pekerjaan yang mirip dengan hobinya. Penyesalan ini disadari betul tidak ada gunanya lagi, “padahal kan enak cari berita di daerah Tangsel aja, ke kantor juga cuma seminggu sekali,” desah pikiran Alinka.
Untung saja ada Bapak baik hati yang mengajak Alinka mengusir rasa bosannya menunggu kedatangan transjakarta. Ia berpikir, “bapak ini kuat juga tiap hari mengantri Transjakarta berjam-jam, aku yang masih muda ga boleh kalah dong,” menyemangati dirinya sendiri.
Setengah jam telah berlalu dan transjakarta jurusan Lebak Bulus muncul juga, para penumpang berdesakan memasuki pintu bus. Bapak yang lebih tua itu malah membantu alinka yang masih muda ini menaiki bus. Akhirnya perempuan itu dan sang bapak berdua berdiri di dalam bus. Sebal sekali dia melihat para pemuda yang tidak mau memberikan tempat duduk kepada bapak yang sudah berumur ini. Mungkin memang seperti ini mental anak mudak zaman sekarang. "Kita semua juga pasti posisinya pasti sudah sama-sama capek tapi kasian kan bapak ini udah tua."

Jalanan malam itu sangat macet dan semrawut, perempuan berambut coklat lebat itu menjadi khawatir dengan apa yang diberitakan koran menjadi kenyataan, Jakarta akan lumpuh. Melonjaknya angka pertambahan penduduk menyebabkan Jakarta penuh sesak dan bertaransformasi menjadi kota kecil. Rasanya mau jalan kemana-mana pasti disambut dengan kemacetan.
Alinka jadi teringat dengan perkataan gubernur DKI Jakarta, katanya mau berantas kemacetan, mana? Katanya mau bikin MRT (Mass Rapid Transportation) kereta bawah tanah seperti yang dimiliki Singapura atau Shinkansen Jepang, tapi ga keliatan tuh progressnya. “Lagian Jakarta langganan Banjir aja mau bangun gituan segala, berantas dulu tuh banjir,” pikir Alinka sok tahu. Monorail yang mulai dibangun beberapa tahun silam sudah terbengkalai disepenjang jalan Asia Afrika, Senayan.

” Padahal kalau itu ada mungkin kita gak perlu macet-macetan tiap hari ya pak?” Tanya alinka kepada si bapak baik hati.
“Wah proyek itu udah ditinggalin gitu aja ya nak sama pihak berwenang.” Balas bapak itu.
“Kalau aja setiap jalan di Jakarta dibangun jalan layang kayak di kota Shanghai kita ga perlu selalu macet-macetan kaya gini ya kan.”
“Wah nak itu mah ntar dibangunnya kalau udah mau kiamat.” Canda si bapak berkacamata.
Akhirnya hal ini menjadi topik seru antara kedua orang asing yang tidak sengaja mengalami nasib yang sama dengan kemacetan.
Sang bapak juga tak kunjung mendapat tempat duduk, kasihan sudah 45 menit ia berdiri dan mereka belum juga mencapai halte yang ke-3.
Lalu di malam yang sangat ramai itu, tiba-tiba saja terdengar bunyi ledakan sangat keras dan disusul lampu bus padam, gelap total, semua orang berteriak histeris namun alinka tidak dapat mengeluarkan suaranya.
Share:

8 komentar :

  1. Seketika ia terjerembab ke depan dan kepalanya membentur sesuatu yg keras. Tangannya meraba-raba dalam kegelapan mencari pegangan untuk berdiri. Di pelipis kirinya ia merasakan cairan hangat mengalir perlahan sampai ke pipinya. Ia hanya berusaha untuk segera berdiri karena panik dgn apa yg hr terjadi. Ia masih belum tau benar apa sebenarnya yg sdg terjadi, tdk lama kemudian lampu darurat dlm bus menyala.
    Penumpang lainnya yg terjatuhpun byk yg sdh bs berdiri lg. Tp keadaan di dlm bus sedikit terjadi kepanikan. Alinka mencoba membantu si bapak tmn perjalanannya utk berdiri. Tak lama tercium bau asap dr bagian belakang bus, penumpang makin menjadi panik. Mereka takut mesin bus terbakar, para pneumpangpun mulai berteriak. Mrk meminta pintu segera dibuka utk kelur. Kondektur mencoba menenangkan penumpang yg panik dan lampu dalam bus kembali menyala nirmal diiringi suara mesin bus menyala kembali.
    Ternyata ledakan yg terdengar adalah suara ban bus yg bocor dan sang supir tdk bs mengendalikan bus krn kaget sehingga ia menabrak pembatas jalan. Dan bau asap adalah krn ban yg bocor itu baunya sedikit mirip asap. Kondektur pun memberirahu penumpang bahwa mrk akan dipindahkan ke bus yg ada di belakang krn bus yg mrk tumpangi sdh jelas tdk bs melanjutkan perjalanan.
    Alinka lalu berpikir “wah kalau dipindahin pasti bakal lama krn bus belakang pasti penuh jg.” Ia pun berpikir utk turun saja dr bus dan naik kendaraan lain, krn dia sdh cukup lelah dan kepalanya sedikit pusing setelah membentur sesuatu td. Byk penumpang lain minta diturunkan saja walau sebenarnya tdk dibolehkan dgn peraturan TransJakarta tetapi krn keadaan sdg darurat akhirnya kondektur dan supir membolehkan penumpang utk turun dr bus.
    Saat sdg berpikir akan bagaimana cara agar ia bs sgr pulang, ada seseorang menempuk pundak Alinka. “Mbak, maaf itu kepalanya berdarah. Ini coba pakai ini, bersih kok.” Seorang pemuda sembari menyodorkan handuk kecil seukuran sapu tangan. “Hah? Masa?” tanya Alinka, lalu ia meraba pelipis yg ditunjuk pemuda itu. Benar saja ada cairan merah di jari-jarinya yg meraba-raaba pelipisnya. Ia sedikit panik. “Tp kayanya udah berhenti si pendarahannya, tp ambil aja ini mbak buat bersihin sementara.” Kata si pemuda sambil menyodorkan handuk kecilnya tsb. Alinka msh bingung, ia br merasakan rasa skt di luka tersebut serta denyutan keras di kepalanya krn sakit tsb. Ia pun menerima pemberian pemuda tsb lalu segera membersihkan noda darah di mukanya. “Mending km turun aja terus obqtinukanya.” Si bapak memberikan saran. Si pemuda pun mengiyakan saran si bpk.
    Tanpa pikir panjang Alinka pun turun dr bus mengikuti penumpang lainnya setelah berterima kasih ke si bpk dan si pemuda. Ia turun a pintu dpn lalu segera menyebrang ke trotoar. Jalanan saat itu sdh sangat macet parah sehingga dgn mudah ia melangkah dr jalur busway ke trotoar.
    Hujan msh setia menemani mlm yg melelahkan ini. Lalu kembali ada yg menepuk pundak Alin lg, ternyata pemuda yg td lg. “Mbak, saya punya plester luka nih kalau mau buat sementara, mau ga?” ujarnya. Alinka mengangguk saja lalu si pemuda merogoh tas ranselnya mencari plester luka. Lalu ia memberikan kpd Alinka, lalu ia bertanya “mau saya yg pasangin ga mbak? Kan kalau pasang sendiri ga tau letak lukanya dmn?” Alinka pun kembali hanya mengangguk saja. Dia hanya pasrah diberi bantuan oleh org asing. Selesai memakaikan plester ke Alinka pemuda itu bertanya lagi “rmhnya dmn mbak?” “Di Ciputat mas, mas dmn?” Alinka balik bertanya sekedar basa basi. “wah searah dong, saya di Lebak Bulus mbak.” jawab pemuda itu cepat.”Terus skr pulangnya mau gmn mbak? Kt tmn2 saya macet dmn2 soalnya ada pohon tumbang di byk tempat terus ada yg kebanjiran jg.” lanjut si pemuda tsb. “Waduh, yg bnr mas? Yah gmn dong? Mas sendiri plgnya gmn?” tanya balik Alinka. “Nah saya jg msh bingung, ini lg nunggu jawaban tmn saya yg naik kereta, smg aja kereta lancar ya. Kalau naik kereta saya niat turun di stasiun Pondok Ranji terus nginep di rmh kakak saya dkt situ.” jawab si pemuda.

    BalasHapus
  2. “Ooh naik kereta ya, boleh jg sih tp saya ga ngerti naik kereta mas.” balas Alinka. “Kalau mau bareng saya aja mbak, nanti dr Pdk Ranji naik ojek aja, nih kata tmn saya sdh balas katanya kereta aman. Nah sekarang saya si mau ke stasiun T. Abang, tp dr sini ke stasiunnya saya bingung naik apa?” kt si pemuda. “Kalau naik ojek brp lama mas?”tanya Alinka. “hhhmm sekitar 20 menitan mbak kalau ga macet.” Sahut si pemuda. “Tuh ada minimarket mbak, mending bersihin lukanya dulu sembari mikir pulangnya gmn?” lanjut si pemuda. Alunka hanya mengangguk saja, dia sdg bingung dan tdk bs berpikir krn rasa sakit dan lelahnya. Alinka disuruh duduk di salah satu meja di luar minimarket sdgkan si pemuda msk ke dlm minimarket tsb.
    Setelah beberapa menit si pemuda membawakan sebuah plastik berisi plester dan obat luka beserta 2 cup minuman hangat yg isinya ternyata hot chocolate. “nih mbak diminum dulu biar tenang sedikit.” Kata si pemuda. Lalu dia membuka obat luka lalu menawarkan utk membantu membersihkan luka Alinka. Alinka menolak tp akhirnya ia mau krn ia merasa canggung. “Mas, makasi byk loh, smp lupa blg. Sdh bantu saya dr pas di bis smp skr. Maaf ngerepotin bgt, oiya nama mas siapa ya?” tukas Alinka tiba-tiba. “iya gapaa mbak, saya ikhlas kok, apalagi cewenya cantik kaya mbak, nama saya Supri mbak, nama mbak siapa?” balas Supri sembari tertawa pelan.balas “oooh nama saya Alinka mas.” Jawab Alinka sembari tersipu malu.
    Mrk mengobrol sembari mencari solusi utk agar bs plg ke rmh msg2. Mrk pun memutuskan plg menggunakan taksi bersama, krn menggunakan kereta pasti pqdat penumpang jam segini. Mrk pun segera mencari taksi dan langsung dpt. Di perjalanan mrk saling berbicara mengenai kegiatan sehari-hari, Alinka tdk merasa canggung lg krn dia percaya Supri pemuda yg baik. Di perjalanan Alinka beberapa kali tertidur krn kelelahan, si Supri pun sebetulnya mengantuk tp dia tetap terjaga agar supir taksinya tdk salah arah. Alinka sempat memberitahu dmn rmhnya lalu Supri memutuskan mengantarnya dahulu walau rmhnya lbh dekat dibanding Alinka. Dia merasa Alinka sdh tdk ada tenaga buat menunjukkan arah jalan rmhnya.
    Ketika smp di gang rmh Alinka, Supri membangukan Alinka utk menunjukkan dmn rmhnya. Akhirnya Alunka smp di dpn rmhnya, ia berkali-kali mengucapkan terima kasih ke Supri. Dan Supri pun jd tdk enak hati takut niat baiknya disangka memanfaatkan keadaan. “lain kali boleh ya saya mampir ke sini mbak? Celetuk Supri. Alunka hanya tersenyum dan melambaikan tangannya. Supri pun merasa ini terkahir kalinya ia ke rmh tsb. Pdhal ia berharap bs ke rmh itu lg utk menemui Alinka.
    Perjalan itu menghabiskan waktu hampir 3 jam utk smp ke rmh Alinka sebuah perjalanan waktu yg luar biasa pd mlm itu, Jakarta benar2 chaos sekali. Alinka pun langsung tertidur lelap, berharap bsk pagi Jakarta lbh bersahabat.

    PS:
    Waktu itu udah minta ijin lanjutin cerita ini tp blm terealisasi, br skr, idenya mentok bgt pas otak ga fresh..
    Hhha..
    Alasan..
    Maaf klo byk typo, tengah mlm n pk hp susah ya ternyata..

    Barakallahu fii umurik Alinka eh Aida
    Smg diberi kesehatan yg baik, rejeki yg barokah, usia yg bermanfaat, & CEPET NIKAH..
    Aamiin YRA..

    .:RR:.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai!!
      Gw baru baca ini,, makasih ya anon!! :)
      Tanggal nya pas bgt. Jd berasa kado yg selama ini telat dibuka. Hehe

      Hapus
  3. Hhhmmm...
    Sdh hampir hopeless ga dibaca..
    Hhaa..
    Krn semept posting yg Ujung Kulon pas tgl 27 nya kirain ga dibales.
    2 minggu pertama selalu cek mulu.
    Trus sebulan sekali, trus br inget lg bbrp hr yg lalu..
    Aah masa gabs tebak siapa?
    Biasanya kan tiap thn saya ucapin doa ke km tp thn ini ga mw lewat WA jdnya lwt sini.
    Yowes lah yg ptg akhirnya dibaca.

    .:RR:.

    BalasHapus
  4. Oiya waktu itu ijin lanjutin tulisannya pas di taksi perjalanan plg setelah kita nonton pd suatu ketika di hr Jum'at..

    .:RR:.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yeees I know you!! haha. Bisa nulis cerita juga toh. Alurnya enak juga diikutin, tapi beda bgt ya nuansa part 1 sama part2 hehe. Tadi pagi kaget liat ada yg komen panjang. kok gak ada notif di email gw yak.

      Hapus
  5. Who am I?
    Endingnya bingung mw gmn, toh itu spontanitas, bbrp kali bikin versi beda, ada yg lbh rumit tp jd aneh, ywdh dibikin sdikit mirip sm pengalaman aja yg pas pulang bareng.
    Hhaa..

    BalasHapus
  6. Klo tau siapa saya, WA aja, cape ngecek mulu di sini, sedikit trauma..
    Hhaa..

    BalasHapus