20 Oktober 2016

Jakarta Asoy

Hi!

Gw mau cerita tentang pengalaman yang agak gak penting (lah emang ada yg penting di blog ini ya?) yaitu sedikit cerita mengenai perjuangan yang tidak seberapa menggunakan TransJakarta, disini akan gw singkat menjadi TJ. Tapi seperti biasa ada pembukaan tidak penting dulu yuk... :) 

---

Selain karyawan kantoran, profesi gw yang lain adalah kondektur bus AKAP, tapi bedanya gw ga pernah mintain uang malah ngasih uang (kenek yg aneh) hehe. Sebenarnya gw aja yang berasa kaya kondektur bus AKAP karena rute gw tiap Senin-Jumat yang memang Antar Kota Antar Provinsi. Rumah gw di bilangan TangSel dan kantor di ujung utara-nya Jakarta. Sudah hampir 4 tahun gw terbiasa seperti ini. Sejujurnya gw sendiri takjub kalau ternyata gw bisa 'maksain' diri kaya begini.

Kalau tersiksa kenapa gw ga ngekos aja deket kantor? Jawabannya adalah udah pernah!
Tapi, selama periode kurang lebih 6 bulan ngekos gw udah pindah kosan sampe 5x (kalau gak salah inget ya, biasa kalau cerita kan suka dilebih-lebihkan) Haha. Gak ada yang beres tempat tinggal deket kantor gw. Gw gak betah dan juga mungkin karena gw terlalu cinta sama Ciputat. Gak bisa kalau ga sekali saja menghirup udara di sana.

Gw berani pulang pergi gitu juga karena hal ini didukung oleh tidak lain dan tidak bukan bus MayasariBakti 135 rute langsung ciputat-priok. Bus nya enak, AC dingin banget, sudah dijamin pasti duduk, penumpang dari Ciputat karyawan kantoran semua jadi insyaAllah aman. Gw juga cinta banget karena rute nya lewat tol. Cuma ongkosnya aja yang mahal 15.000. Berasa banget semingu 5x naik itu ditambah masih harus menaiki ojek dari rumah ke bus dan dari turun bus ke kantor. Untung sekarang banyak ojek online yang lebih murah dari ojek pangkalan.

Masalahnya sekarang (kurang lebih satu bulan) adalah bus itu sudah dihapus!! iya dihapus, gak tau kemana, ilang, raib gitu aja. Gw mikirin penumpang yang lain pada naik apa ya sekarang. 

Begitulah info yang diterima dari seorang ibu cantik yang biasa jadi teman bareng melintas dari selatan ke Utara setelah gw cuti kerja karena harus ke PadangKaget bukan main, rasanya shock banget bus kesayangan gw itu akhirnya habis juga masa bakti-nya. Mana belum sempat farewell sama pak supir dan mas/mba kondektur nya yang ramah-ramah. Hiks banget lah pokoknya.

Namun ternyata tidak berselang lama pemerintah sudah menyediakan alternatif lain yaitu bus feeder TransJakarta dari Ciputat-Kp.Rambutan. Cuma sudah pasti kan rutenya gak sama, TIDAK LEWAT TOL. Perjalanan menggunakan TJ ke kantor bisa saya tempuh dengan beberapa kali transit dengan waktu tempuh 2x lipat serta capek 10x lipat. Badan kaya digebukin warga sekampung akhir-akhir ini. Gak usah diceritain lah ya transitnya kaya apa dan berapa kali, mendingan tanya aja sama petugas TJ rute Ciputat-Tj.Priok tuh kaya gimana menyenangkannya. 

Enak sih memang bus masih tergolong baru dan masih terawat, AC masih dingin dan murah, cuma 3.500 aja sudah bisa kemana-mana. Kalo gw pribadi menilai Jakarta berkembang cukup pesat saat dikepalai oleh Ahok. 
Terutama dari segi transportasi, TJ sendiri sudah banyak sekali penambahan koridor baru, jumlah armada bus yang terus bertambah secara signifikan dan yang paling penting pelayanan oleh para petugas TJ yang semakin meningkat. Gw salut sama mereka yang mau dibayar untuk kerja berdiri selama berjam-jam. Mengatur manusia-manusia dewasa yang sudah pada gede tapi ada aja kelakuan masih kaya bocah. 

Nah ada lagi yang jadi terbosan dari TJ, mungkin ini cuma ada di Indonesia, yaitu pemisahan bagian untuk wanita dan area umum (pria dan wanita). Akibat banyak kasus pelecehan yang sudah terjadi jadi dibuatlah peraturan keren ini, cocok dengan kebiasaan dan budaya kita. Untuk area wanita dari bagian depan dekat supir sampai ke bagian tengah dan area umum dari tengah ke belakang, ini untuk ukuran bus besar yang gandeng ya. Namun miris juga mendengarnya karena ini berarti moral sebagian warga kita yang masih bobrok, masa segitunya banget tidak  bisa sopan ke wanita. Malah yang sering disalahkan adalah pihak wanita yang memakai pakaian yang terlalu terbuka, ketat atau pun sexy. Memang benar adanya menurut gw masih banyak sebagian dari orang-orang kita suka kurang kontrol mengenai etika, sopan santun, bersikap ramah dan penghargaan terhadap orang lain.

Bagusnya karena gw menggunakan TJ di jam kerja jadi penumpang lainnya juga rata-rata karyawan. Yang seharusnya lebih "cerdas", wangi (kalau masih pagi) dan mempunyai etika. Tapi ada aja sih kejadian-kejadian bikin ngakak kalau pagi-pagi melihat tingkah laku penumpang. karena ternyata banyak sekali  lhoh masyarakat Jakarta yang tidak punya empati dan "menutup mata". Semua orang memang pasti punya masalah tapi masa iya harus dilampiaskan ke orang asing. Karena kalau gw perhatikan rata-rata mereka jadi sensi, senewen, sewot, gak mau ngalah, gak bisa antri, dorong-dorongan karena kurang piknik. Jadi dilampiaskan aja kekesalannya kepada orang asing dan di tempat umum atau ya mungkin cuma dia yang mengalami hari terburuk sedunia saat itu. Kalau ada yang berantem fisik seru juga kayanya sekali-kali karena seringnya berantem mulut aja sih. Kalo lo kesel ya diam, gak suka ya diam, gak semuanya perlu diomongin ke orang lain (ngomong sama kaca Ai). Atau kaya gw untuk meluapkan sesuatu bisa nulis di blog pribadi, toh tidak merugikan siapa-siapa, kalo ada yang gak suka ya gak usah di baca, as simple as that. Juga blog ini bisa dianggap sebagai pensieve-nya Dumbledore di film Harry Potter. hehe.

Selain senyam-senyum cengengesan, ini juga salah satu hobi gw: meratiin tingkah laku manusia.
Manusia itu kan unik, gak ada yang sama. Jadi seru aja gitu.

Kembali ke topik, salah satu kendala yang menurut gw masih perlu diperhatikan adalah mengenai kapasitas tempat duduk yang tidak sebanding dengan jumlah penumpang dan waktu tempuh perjalanan. Gw sendiri merasa butuh untuk tidak duduk saat menaiki TJ. Tapi dengan catatan waktu tempuh yang gw lalui adalah  2-3 jam dan setiap hari (5 hari sih, biar lebay aja), hayo siapa yang sanggup? Eh, apa gw doang yang kaya gini ya. Siapa suruh mau kerja di pinggir laut tapi rumah deket gunung. Hiks.

Oleh karena itu gw lebih milih duduk di tangga-tangga dekat pak Supir daripada duduk di kursi penumpang. Selain karena bisa melihat pemandangan JKT yg super asik dari kaca depan, juga karena ada aja rasa enggan, biarlah orang lain yang lebih bisa menikmati kenyamanan sementara itu. Lebih nyaman duduk di tangga daripada gw kualat sama orang tua, penumpang membawa anak kecil, orang dengan kebutuhan khusus atau ibu hamil karena gak mau kasih tempat duduk. Hehe. 

Gw bisa duduk di tangga juga karena rata-rata halte transit yang digunakan adalah halte pertama (bus masih kosong). Jadi langsung aja cus ke samping pak Supir walaupun kursi penumpang masih pada kosong. Bukan gw doang kok perempuan yang kaya gini, makanya jadi sedih deh kalau tempat istimewa itu sudah ada yg isi.

Sedikit berbicara tentang pengalaman menggunakan transportasi umum di negara lain, misalnya saja di negara tetangga Singapura. Istilahnya kalau di negara ini mau cuuuus kemana aja cepat banget sampai-nya, jadi gak capek banget kalau memang harus menempuh perjalan dengan berdiri. Memang sih tidak adil kalau dibanding dengan negara yang bersimbol Singa ini, karena kan di sana tata kota nya sudah bagus, masyarakat nya disiplin, peraturan dibuat untuk ditaati, dan akhirnya kebiasaan baik ini menyebabkan transportasi dan lalu lintas yang bagus dan juga lingkungan yang bersih. (Nah, gw juga ingin bahas tentang kebersihan di negara ini dan kebiasaan sebagian orang kita yang masih suka buang sampah sembarangan. Paling benci kalau ada manusia yang suka buang sampah di jalanan. Tetapi mungkin di artikel yang lainnya ya).  Lucunya masyarakat Indonesia kalau ke Singapura atau negara lain yang super bersih dan teratur, semuanya ikutan jadi disiplin dan kalau kembali ke negara asalnya balik lagi ke kebiasaan lama. Untuk masyarakat asing juga sama jika sudah bermukim di Jakarta (khususnya) akan mengikuti "kebrutalan" masyarakat kita juga.

Pokoknya bagaimanapun tingkat semrawut di kota ini, tetap kok gw paling cinta sama Jakarta! Gw berharap semoga kota ini bisa makin terus berkembang, pola pikir masyarakat juga bisa semakin maju, lebih disiplin dan penuh toleransi.

Always prioritize others, but don't hurt your soul either baby!

Ayo sebagai masyarakat kita selalu dukung program pemerintah yang positif dan masuk akal.
Jangan hanya bisa "nyinyir" tanpa memberikan solusi. 
Perubahan yang baik dimulai dari individu masing-masing.

*Gw bermimipi kalau nanti penduduk Jakarta semakin membludak, bikin aja peratutan untuk mereka yang melakukan urbanisasi harus pakai Visa. Haha ngaco aja. Supaya tidak banyak yang migrasi ke sini tanpa tujuan yang tidak jelas, jadi pakai visa aja sekalian biar jelas apa tujuannya ke Jakarta dan menjadi lebih ketat. Jangan bisanya cuma bikin kota dengan Monas sebagai simbolnya ini semakin sempit, masih saja berpikiran Jakarta kota yang tepat untuk mengadu nasib tanpa persiapan yang matang. Ditambah juga ada baiknya apabilayang berumah tangga juga jangan punya anak banyak-banyak, ikuti program KB pemerintah sebisa mungkin. Semua demi populasi di kota kita sendiri kan? Semua orang juga sadar kan kalau Jakarta sudah padat luar biasa. Jangan sampai Jakarta lumpuh*.

Anyway, mungkin gak ya kalau pemerintahan dan pusat bisnis benar-benar dibedakan kotanya? Seperti yang pernah menjadi isu di beberapa tahun silam...

Nah... lumayan kan dari perjalanan hari ini sudah bisa produktif bikin satu tulisan, cuma 3.5 jam aja kok perjalanan hari ini. 


#beraniberubah
#jakartalebihbaik
Share:

0 comments :

Posting Komentar