January 29, 2018

Bangkok, Januari 2018

Prior alert: cerita ini akan panjang bermanfaat banget!

Akhirnya gw melancong ke luar negeri juga setelah kira-kira 7 tahun lamanya, terakhir itu ke Singapura, bisa diintip ceritanya di sini. Sayang, foto-foto karya gw yang spektakuler hilang semua dari halaman itu, akibat kesalahan teknis dari google images gw :((( 

21 Januari 2018 gw bertolak ke Negara Seribu Pagoda atau yang lebih dikenal dengan nama Thailand. Ibu kota nya adalah kota yang gw kunjungi selama 4 hari 3 malem (bentar bats) yaitu Thailand atau memiliki nama asli Krung Thep. Bangkok merupakan kota yang memiliki nama terpanjang di dunia yaitu Krungthepmahanakhon Amornrattanakosin Mahintharayutthaya Mahadilokphop Noppharat Ratchathaniburirom Udomratchaniwetmahasathan Amonphiman Awatansathit  kkathattiyawitsanukamprasit. (Gw yakin itu kata-kata panjang banget gak kalian baca, gpp asal jangan tulisan ini yang gak dibaca :)))

Bisa dibilang ini adalah solo trip pertama gw, berjalan-jalan sendirian di kota yang hurufnya tidak menggunakan huruf latin. Tetapi sebenarnya ini lebih tepat dibilang semi-solo, karena gw gak sendirian-sendirian banget, di sana ada yang nemenin gw bobo lhoooh, eaaa siapakah dia? :))) 
Tidak lain dan tidak bukan adalah kakak gw, gw bisa menumpang di hotel dia yang kebetulan juga akan dinas ke Bangkok. Lumayan pengiritan banget sis. Gw memang udah lama sih ingin ke Bangkok (kira-kira dari akhir tahun 2017 aja) sama sahabat gw, dan alhamdulillah dapat rezekinya sekarang, walaupun harus sendirian.

Pukul 05.00 gw dan kakak menembus kegelapan subuh menggunakan taxi ke Cengkareng, flight gw jam 07.05 menggunakan pesawat Air Asia dan kakak gw masih jam 09.00. Jadilah dia masih harus menunggu beberapa jam sampai waktunya di Terminal 3 Ultimate (iya beda kasta). Oh iya FYI mulai 22 Januari 2018 AA untuk penerbangan internasional sudah dari T3 Ultimate lhoh. Saat drop gw di Terminal 2 kakak gw memastikan kalau gw tau harus kemana, tau harus ke imigrasi dulu dll. Maklum ya saking udah lama gak international flight takut gw oon mendadak kali.

Setelah terbang di udara (ya kali terbang di laut) selama kurang lebih 3 jam, burung besi ini berhasil  mendaratkan diri dengan mulus (semulus pantat bayi yang ada bisulnya dikit) di Don Mueang Airport. Setelah melewati proses imigrasi yang berhasil dilalui dengan lumayan mengantri dan agak keder dikit nyari arrival card, lalu gw langsung membeli simcard lokal dari TrueMove seharga 199 THB dengan kuota 5.5 GB untuk 7 hari.




Gw dari awal memang sudah berencana untuk ke Chatuchak Weekend Market sambil menunggu kakak gw yang baru akan sampai hotel sekitar jam 14.30. Jadi gw bertanya ke ke mba-mba pulsa naik bus apa ke sana. Bus nya adalah A1, inget ya A1, jangan bus yang lain apalagi kalau kalian pulang menuju airport, kalau beda bus niscaya kalian akan diturunkan di pinggir jalan jauh dari bandara. Gw naik bus langsung dari Gate 1 atau 9 (kalau gak salah, pokoknya dari turun eskalator langsung aja belok kiri dan lurus aja lalu keluar di sebelah kanan) bus ber-AC dengan tarif 40 THB ini rutenya melalui tol, jadi kira-kira hanya 40 menit gw sudah turun di halte deket Chatuchak. Jeng jeng dan ternyata gw harus nyebrang melalui jembatan penyebrangan sambil menggeret-geret koper dan berjalan lagi sekitar 7 menit untuk sampai ke TKP.

Taman di dekat Chatuchak Weekend Market


Chatuchak ini memang pasar terbuka yang besar banget dan banyak sekali toko bertebaran di sepanjang jalan, gw sampai gak bisa mengelilingi semua areanya karena sudah lelah yang berkepanjangan dan laper baru diganjel pake mango sticky rice seharga 70 THB yang enak banget. Gw di sana cuma beli bedak tabur Ponds yang lagi hype banget di Jakarta. Dibeli dengan acara tawar menawar yang taunya harga tawarannya sama aja dengan di Big C Supermarket. Ada sedikit tips nih buat kalian, kalau mau beli bedak Ponds, aneka macam cemilan, Thai Tea serbuk dll mending langsung aja ke supermarket daripada di market-market gitu, karena harganya memang lebih murah di Big C, kalau di aneka market nya cukup beli buah tangan macam kaos, gantungan kunci, tempelan magnet dkk. Gw kena tipu harga beli Nestea di Pratunam Market yang lebih mahal 30 THB dibanding Big C. Sebetulnya setelah pulang dari Chatuchak gw agak nyesel karena gak sekalian beli oleh-oleh, karena belum mau pulang jadi kaya gak kepikiran untuk langsung beli. Apalagi Chatuchak ini bukanya hanya pada saat akhir pekan saja. Akhirnya gw beli oleh-oleh di Pratunam pas hari ketiga.



Setelah puas alias lelah melihat-lihat gw memutuskan untuk segera ke hotel dan berkat kecerdasan google maps gw berhasil sampai ke hotel, lalu disambut kaka gw di kamar dengan ucapan sawasdee-ka (baca: swadika *tampaknya) yang artinya Halo. Lalu dia mengendus-ngendus dan langsung komen sambil cekikikan kalau gw bau matahari. Haha meeen emang pas baru turun bus tuh gw langsung disambut dengan matahari yang panas banget, kaya 1/0.1 neraka tuh bocor. Gw langsung mandi dan kaka gw berangkat kerja di hari Minggu, lalu gw memutuskan untuk jalan-jalan di mall sekitar hotel.

Oh iya biar ada gambaran mengenai perjalanan gw nantinya, gw menginap di Holiday Inn Pathum Wan (setelah turun pangkat dari tetangganya si Intercontinental) review gw mengenai hotel ini enak bangeeeeeet, soalnya GRATIIIIS :p . Tampaknya lokasinya juga cukup strategis, dekat dengan pusat perbelanjaan dan stasiun BTS juga MRT. Di Bangkok ada 3 masam transportasi masal, selain yang sudah gw sebutkan tadi juga terdapat bus biasa yang pake kenek seperti di Jakarta, bedanya bus di sini berhenti hanya di tempat yang sudah ditentukan. Bedanya BTS dan MRT, kalau BTS menggunakan jalan layang dan MRT menggunakan jalan bawah tanah, gw gak sempet coba naik MRT.

Salah satu stasiun BTS/MRT


Pertama, gw ke mall di  seberang hotel yang namanya Amarin Plaza, liat-liat make up di drug store (tetep yaa) lalu ada telfon masuk dari surga yang intinya kakak gw mau traktir makan malam di Nara  (makanan  termewah gw selama di Bangkok haha) lalu gw jalan lagi ke mall sampingnya yang bernama Erawan dimana Nara berada (Amarin dan Erawan ini tampaknya saudara kembar yang tertukar). Setelah makan kita jalan-jalan ke mall lain di  sekitarnya. Berjalan kaki melalui jembatan stasiun BTS yang sangat menyenangkan, tersedia connecting bridge ke mall lainnya, dimulai dari Siam Paragon sampai ke Siam Discovery, kami juga menyinggahi Central World sambil window shopping. Kakak gw memberitahu kalau Madame Tussauds yang akan gw datangi besok ini ada di mall Siam Discovery, dikasih tau naik lift nya dan gimana-gimana nya. Tau aja gw emang bingung arah.


22 Januari 2018, kakak gw udh dijemput kerja dari jam 7.15 dan gw baru mau mandi lalu sarapan di hotel dan jalan ke Siam Discovery sekitar jam 09.00. Pukul 09.45 gw sudah tiba di depan Siam Paragon dan pastinya si mall belum buka dan manusia sudah berjubel di depannya nunggu mall buka. Perasaan di Jakarta nunggu mall buka gak gini-gini banget deh. Lalu bener aja dong, di dalam mall  gw pake nyasar mencari jalur sambung ke Siam Discovery, haha cuma muter-muter di mall aja nyasar. 


Sampai lah dengan tubuh yang utuh di depan Museum Lilin tersebut dan langsung saja mengantri (sebenarnya gak ada antrian sih karena baru banget buka, masih sepi) dan menunjukan pre-booked tiket gw yang gw pesan  melalui Traveloka, dimana harganya jauuuuh lebih murah dibanding kita beli secara on the spot, waktu itu gw beli dengan harga IDR 293.889. Lalu gw datangi mba penjaga dan menunjukkan tiket dari smart phone gw dan diminta untuk menunjukan paspor, yang memang tidak mungkin gw bawa-bawa, tetapi gw sudah menyiapkan fotonya. Itu saja sudah cukup. Foto semua dokumen-dokumen kalian ya. Jangan dibawa-bawa yang asli, tinggal aja di brankas hotel, kalau sampai ilang pas lagi jalan-jalan kan berabe genks.


Entrance gw lalui dengan mulus dan langsung diminta untuk foto-foto di samping patung apa gw gak inget, yang ada di otak gw cuma "ini pasti di exit gate diliatin foto-fotonya dan ditawarin untuk beli, yang dimana gak akan gw beli." Kekhawatiran gw cuma satu sebelum masuk museum ini, gw belum beli tongsis, alhasil jadinya foto muka gw semua yang kesimpen di memori telepon genggam. Menarik isi museum ini buat gw yang memang belum pernah ke Madame Tussauds sebelumnya (Aida (15) pertama kali ke Madame Tussauds *catet*). Begitu Masuk gw disambut dengan patung mantan Presiden Indonesia, Soekarno. Bangga juga liatnya, gw elus-elus tuh pipinya, rambutnya (maklum udah lama gak ngelus-ngelus, kucing pun tidak mau gw elus #sad). Anyway, gw gak tau sih sebeneranya patung lilin ini boleh dipegang apa gak, tapi kayanya gak ada larangannya.


Kurang lebih dua jam gw menghabiskan waktu yang sangat amat berharga di museum itu, di dalam gw sempat main puzzle, tendangan bola penalti dan memasukkan bola ke ring basket, sambil foto-foto muke sama patung pastinya. Di dalam museum gw bertemu keluarga dari Indonesia, seorang Ibu dan dua anaknya  yang semuanya mengenakan kerudung. Pas gw cerita hal ini ke kakak gw, komen dia adalah "lah bapak nya kemana?" engggggg "lah mana gw tau, kepikiran juga kagak, masa iya gw sekepo itu aiiiish." Sama si ibunya sih gw senyum-senyum aja gak sempet ngobrol soalnya si ibunya lagi sibuk difotoin bareng Lady Diana oleh anaknya. Kalau nggak mah udah gw pepet terus, nanyain punya anak cowo yang masih available gak, wkwk. Perjalanan di museum ini diakhiri dengan menonton pertunjukan Ice Age 4D selama 5 menit.

My date on my day (mulai halu)

Gw keluar dari Siam Discovery, celingukan bingung dan karena cuaca juga lagi panas banget, gw memutuskan untuk duduk di bangku-bangku yang tersedia di depan mall sambil makan pisang yang gw embat dari hotel.

Kata kakak gw yang lainnya, memang lebih susah cari makan di Bangkok daripada misalnya dibandingkan dengan London. Kalau di London, Muslim Resto bertebaran dimana-mana, di food court mall Bangkok masakan Babi bertebaran dimana-mana, hiks gw lagi anaknya susah makan tapi emesh alias berisi alias gemuk. Ahh susah banget tinggal bilang gemuk aja *hikshiks*.


Selanjutnya, sudah ada di wishlist gw kalau next visit adalah ke Bangkok Art Culture and Centre (BACC) dan/atau Jim Thompson House (JTH). Karena ternyata BACC tutup setiap hari Senin, jadi gw langsung meluncur ke JTH dengan berjalan kaki. Pokonya selama melancong thanks a lot to google maps deh yang sangat membantu perjalanan gw, tapi ada sih satu hari gw dibikin muter-muter nyasar sama dia. Berjalan kaki kurang lebih 20 menit dan sampai lah gw di JTH, lalu tiket seharga 150 THB gw beli dan gw  diminta untuk menunggu guide, dimana kami sudah dibagi per grup. Gw doang yang single eh sendirian maksudnya di grup itu, isi grup nya campur-campur mulai dari  Asia sampai ke bule pale entah dari negara mana.




Aneka macam bahan asal untuk dijadikan kain sutra
 Menarik isi rumahnya, kami peserta tour dijelaskan secara detil mengenai koleksi-koleksi antiknya oleh mba pemandu dan kami juga sudah diperingatkan untuk tidak mengambil foto ataupun video saat tur berlangsung. Jadi singkatnya Jim Thompson ini adalah warga negara Amerika yang jatuh cinta dengan Thailand yang akhirnya menetap dan membangun rumah di sana. Pada 26 Maret 1967, Jim (udah akrab ceritanya) menghilang di Malaysia dan tidak pernah terdengar lagi kabarnya. Setelah dilakukan pencarian selama bertahun-tahun akhirnya kerabat dari Jim memberikan rumah ini kepada sebuah lembaga untuk dirawat dan dijadikan museum untuk dikunjungi pelancong, agar semua karya Jim masih bisa kita nikmati dan sebagai bentuk apresiasi pemerintah Thailand terhadap Jim Thompson. Cerita lengkap tentang Jim (yang gak akan gw translasi) bisa ditemukan di bawah ini.
Perjalanan gw di Tanah Merdeka ini secara keseluruhan sangat menyenangkan, apalagi di hari kedua gw di kota ini, perjalanan terasa sangat lancar dan tidak ada masalah yang berat (selain cari makan). Tapi jangan tanya di hari ketiga (eh emang bakal gw ceritain kan :p) wishlist gw berjalan dengan sedikit amburadul seperti muke gw.




Next destination adalah Asiatique Riverfront, awalnya otak gw yang rada-rada ini mengira tempat ini seperti pertunjukan air mancur/laser warna warni menari yang ada di Singapura. Ternyata maksudnya tempat ini adalah pusat perbelanjaan lainnya di tepian sungai Chao Praya. Lagi-lagi otak gw yang udah lupa sama pelajaran Geografi dibikin mikir saat di atas pesawat, gw melihat ke bawah ada sungai sangat panjang mengelilingi Negeri Gajah Putih dan dilalui oleh kapal-kapal. Gw mikir itu sungai apa ya, kok bisa dikelilingi naik kapal, gw mau coba ah! itu doang yang ada di otak gw.

Saat gw masih di dalam BTS, gw baru sadar kalau gw harus menyambung bus biasa untuk sampai ke tujuan. Gw awalnya belum tau kalau bisa juga naik boat/kapal ke Asiatique, memang tarif nya lebih mahal daripada bus ompreng biasa. Akhirnya setelah browsing gw malah menemukan bahwa ada masjid di tempat gw turun BTS di stasiun Saphan Taksin, cukup berjalan kaki beberapa menit. Karena gw belum shalat Dzuhur dan Ashar gw memutuskan mampir ke sana dan saat liat google maps gw curiga sih kalau rute jalan kaki nya dibikin muter-muter, tetapi tetap gw ikutin karena takutnya kalau gw sotoy taunya jalannya malah buntu atau malah dibatasi oleh kali dan gw gak bisa nyebrang. Siapa sangka di masjid itu gw ketemu malaikat penolong yang mencerahkan hari gw, akan diceritakan nanti secara khusus.


Sekitar 20 menit gw sudah sampai di sebrang Asiatique dan ternyata di depan tempat gw turun bus ada Muslim Food Court dan ada masjid di sampingnya. "Tau gitu gw bisa shalat sekalian di sini aja, tapi jangan deh nanti gak bisa ketemu anak baik tadi, tuh semuanya memang sudah suratan takdir kan" kata-kata merepet dalam otak gw.

Akhirnya gw memutuskan untuk makan nasi goreng udang yang enak banget (efek laper) seharga 60 THB dan minum mango smoothie 30 THB. Sangat bersahabat kan harganya. Setelah isi bensin gw langsung nyebrang ke Asiatique dan berjalan-jalan sambil melihat-lihat mechandise, di sini gw cuma belanja di miniso dan beli 1pc bedak ponds yang harganya dimahalin 5 THB. Sebelum berbelanja gw langsung jalan menuju ferriswheel yang sangat besar bernama Mekhong. Gak gw naikin soalnya emang mekhong alias mehong bin mahal, kalau tidak salah 500 THB. Pengen juga melihat Bangkok dari ketinggian, tetapi kan gw agak takut ketinggian terus gw juga sendiri, takutnya kan jadi baper liat pemandangan indah nan romantis #eaaa. Ada juga pertunjukan Cabaret alias Lady Boy tetapi cukup mahal juga sekitar 900 THB, akhirnya gw urung menontonnya, gw lebih memilih untuk menikmati alam alias ngirit.


Gw berjalan ke tepian sungai sambil mengagumi luasnya Chao Praya, berfoto-foto sampai puas. Banyak juga pemuda pemudi yang pakai toga wisuda mengambil foto di sana. Ada beberapa ketemu warga Indonesia, yang cowonya lagi usaha banget foto-fotoin cewenya supaya gak keliatan tembem. Puas menikmati pemandangan di sana dan hari juga sudah cukup malam gw memutuskan untuk mengakhiri perjalanan hari ini dan kembali ke hotel. Eh pas banget kakak gw watsapp dan ingin menyusul ke sini "tinggal satu email bisa meluncur ke sana" dia berkata. Akhirnya gw memutuskan untuk menunggu di masjid sebrang saja sekalian shalat Maghrib dan Isya. Selesai shalat gw jajan semacam martabak pisang, karena si abang menegur gw dengan ucapan Assalamualaikum, gw jadi memutuskan untuk membeli dagangan si abang berjenggot putih panjang tersebut.

.
Tidak lama kemudian kakak gw datang, dia sampai menggunakan grab car karena takut gw kelamaan nunggu. Lalu gw menemani dia makan malam semacam Pad Thai udang (lupa harganya euy) dengan udang yang besar kepalanya aja (bukan karena sombong) tapi badannya kecil. Selesai makan kami teruskan dengan perjalanan ke tepian sungai dan akhirnya kami memutuskan untuk mencoba ke Saphan Taksin menggunakan boat, kalau tidak salah biayanya 20/40 THB (kalau dibayarin gw otomatis jadi gak inget harga). Memang jauh lebih mahal dibanding naik bus yang hanya 9 THB, tetapi jauh lebih cepat sampai ke BTS.

Esoknya, 23 Januari 2018, gw memutuskan ke Wat-watan alias ke berbagai temple. Gabungan pengalaman gw yang terlalu cerdas sampai mendekati dodol ini akan gw ceritakan di lain tulisan.


Setelah puas mengunjungi berbagai Temple, perjalanan dilanjutkan ke BACC, masih ingin menuruti rasa penasaran diri ini dan ingin melihat seni seperti apa yang ditampilkan di Galeri tersebut. Tempatnya juga di dalam ruangan dan nyaman ber-AC, jadi sekalian gw bisa beristirahat. Tampaknya karya seni yang dipamerkan adalah hasil kreativitas dari anak-anak sekolah, cukup menarik.









 


Hari sudah sangat sore saat gw tiba di Pratunam dan kaki gw udah berkonde banget rasanya. Pasar ini memang beroperasional 24 jam tetapi yang masih buka hanya di bagian luar saja. Alhamdulillah ketemu titipan emak gw, oleh-oleh buat orang kantor, ponakan, kakak, titipan teman (udah kaya buka jastip ya gw). Harus bisa tawar menawar sih di sini dan rata-rata penjualnya baik kok, atau karena gw manis kali ya jadi mereka baik. haha. 

Sampai saat ini gw belum makan siang, baru makan dua buah pisang yang gw embat lagi dari hotel (kemajuan ngembatnya bisa lebih banyak). Gak ada yang bikin gw tertarik makanannya dan banyak masakan babi bertebaran juga soalnya, ada lagi yang jualan martabak pisang, tapi gw udah lelah banget mau langsung ke hotel aja naik ojek. Ojek di sana pada pake seragam rompi oren dan sudah ada tarif yang tidak bisa ditawar. Naik ojek pangkalan di sana ga pernah dikasih helm, tarif dari pratunam ke hotel waktu itu 50 THB. Ada juga Grab dan Uber yang lebih murah tapi udah males ribet.  Akhirnya gw sampai hotel dan langsung rebus Indomie Goreng.



Hari terkahir, 24 Januari 2018, sebenarnya gw belum mau meninggalakan Bangkok secepat ini, tapi apa daya tiket pesawat sudah dipesan dan jatah cuti juga udah minus. Si kakak sejak hari pertama ingin mengajak onsen-an alias berendam air panas (pakai banget) di Yunomori Onsen & spa dan dilanjut dengan Thai Massage. Gw yang tidak menyukai massage ternyata malah ketagihan dan nanti  akan gw ceritain gimana enaknya onsen dan massage di negara lumbung padi Asia ini. 



Setelah selesai Onsen gw langsung ke Big C di dekat Yunomori untuk membeli aneka camilan macam Tae Ko Noi, Dozo, Thai Tea, Dried Mango dll. Emang dasar gw cewe tulen kan tetep aja mampir ke bagian make-up dan memborong lagi BB Ponds untuk oleh-oleh. Murah meriah tapi banyak yang suka, maklum selain kualitas yang bagus dari bedak tabur ini, harganya akan menjadi cukup mahal kalau udah masuk di online shop Indonesia.

Selesai belanja gw mencari makan siang, saat itu cuaca hujan gerimis, akhirnya gw memutuskan makan Takoyaki di food court, tampaknya satu-satunya food stall yang piggy free. Gak nyesel makan Takoyaki ini karena enak banget dan murah banget kalo dibandingin di JKT. Mau bungkus bawa pulang tapi biasanya kan nggak enak kalau sudah dingin.

Gw naik ojek dari depan Big C ke Hotel untuk mengambil titipan koper karena tadi pagi gw sudah check out. Di hotel gw merapikan isi koper lagi dan memutuskan untuk memberikan Indomie yang tidak termakan ke pegawai Hotel. Koper gw sudah gak muat!

Ditawarin naik taxi sama pegawai hotel, tapi lumayan mahal juga sekitar 500 THB incl Tol. Gw pun memutuskan sesuai rencana awal saja, naik BTS dulu dan di sambung dengan bus A1. Setelah turun dari BTS dan saat sedang menyebrang, gw melihat dari atas bus A1 sudah lewat. Kalau gw sabar menunggu seharusnya tidak lama lagi bus nya akan datang. Tetapi gw dengan cerdasnya memutuskan naik bus lain yang juga lewat Don Mueang. Tarifnya murah cuma 9 THB dan perasaan gw jadi gak enak, bener aja bus ini tidak melalui Tol dan ternyata gw tidak turun pas di dalam bandara. Tetapi jauh di luar bandara dan gw harus menyebrang melalui jembatan dengan menggerek koper, menggendong ransel dan tas selempang.

Begitulah petualangan singkat dengan cerita yang tidak singkat di Bangkok, semoga bisa ke sini lagi dan tahun ini banyak melancong, supaya punya bahan tulisan.

Di setiap sudut jalan/mall/kantor selalu ada tempat berdoa seperti ini.



Share:

January 18, 2018

Proses Pembuatan Paspor Indonesia

Rabu, 10 Januari 2018 gw bertolak ke Kantor Imigrasi Kelas I Jakarta Utara untuk memperpanjang Paspor gw yang udah habis masa berlaku dari tahun 2013. Kasihan ya dari tahun 2013 sudah gak pernah ke luar negeri. hehe.

Proses awal untuk pembuatan paspor ini adalah dengan mengunduh aplikasi 'Paspor Online" di Android atau bisa juga mendaftar melalui web ini. Karena gw mencoba daftar di kantor imigrasi wilayah Jakarta Selatan penuh semua, akhirnya gw mencoba yang di Jakarta Utara, secara juga tidak terlalu jauh dari kantor gw. Akhirnya dapat pada tanggal tersebut pukul 10.00-11.00 untuk ambil nomor antrian di Imigrasi Jakut, gw mendaftar sejak bulan Desember dan dapat nomor antrian untuk di bulan Januari.

Setelah banyak tanya dan browsing sana-sini mengenai kelengkapan dokumen apa saja yang dibutuhkan, akhirnya terkumpul dokumen sebagai berikut:
1. Kartu Keluarga (asli dan 1 lembar fotokopi)
2. Ijazah SMA/Kuliah (asli dan 1 lembar fotokopi)
3. Akte Kelahiran (asli dan 1 lembar fotokopi)
4. Paspor lama (asli dan 1 lembar fotokopi) khusus untuk perpanjangan
5. KTP (asli dan 1 lembar fotokopi)

Saat mendaftar di aplikasi online kalian akan mendapatkan jadwal dalam bentuk dokumen PDF. Jika kalian ke imigrasi Jakut gw sarankan untuk print lembar tersebut (ya pembuatan paspor ini memang tidak go green dan paperless). Walaupun ada barcode, tetapi ternyata barcode tersebut tidak bisa di scan. Kalian juga bisa print  di kantor Imigrasi, tetapi harus sabar mengantri lagi.

Gw juga sarankan kalau sudah mendapatkan jam antrian melalui aplikasi, kalian tidak perlu datang terlalu cepat ke Imigrasi, cukup datang 15 menit sebelumnya. Sebaiknya kalian juga sudah menduplikat semua dokumen-dokumen yang dibutuhkan, agar tidak perlu capek naik ke kios fotokopi di lantai 3 dan juga siapkan pulpen hitam. Tepat pukul 10.00 petugas kemanan Imigrasi mengumumkan "Yang dapat antrian jam 10.00 silahkan ambil nomor antrian ke depan sini". Gw dapat antrian ke-5 waktu itu karena lagi bengong saat diumumkan jadi gak gesit. Lalu gw menunggu nomor gw dipanggil, cukup lama sekitar 40 menit. Oya, di tempat menunggu juga disediakan 1 unit televisi berwarna yang menayangkan acara Just for Laughs, hiburang bagi yang mengantri dan tidak bete karena bisa ketawa nonton acara tersebut.






Akhirnya nomor gw dipanggil juga dan semua kelengkapan dokumun yang di fotokopi gw berikan ke petugas di Imigrasi, lalu dokumen asli nya di cek (hanya di cek saja, tidak diambil). Lalu karena nama gw di akte dan KTP dan paspor lama berbeda, gw diminta untuk mengisi form penggantian nama dan membeli materai di kios fotokopi di lantai 3. Selanjutnya gw ditanya lagi "oooh lahirnya di luar negeri ya di Jeddah?" "iya mba nya, ada apa emang mbak?" respon gw. "Ibu pernah daftar di catatan sipil Indonesia tidak kalau lahir di luar negeri?" "Ya nggak pernah mba, saya gak tau kalau harus seperti itu" jawab gw. Lalu si petugas bertanya lagi "kalau paspor Arab punya gak?" "Ya nggak punya juga mba." Dalem hati gw berkata yailah mba Arab Saudi kan setau gw adalah salah satu negara yang menganut Ius Sanguinis, dimana anak yang dilahirkan menganut kewarganegaraan orang tua kandung. "Kalau ijazah SMA bawa gak?" "Yah gak bawa mba cuma yang Ijazah S-1" jawab gw sambil senyum manis-manis. "Yaudah gpp bu tapi sebaiknya nanti didaftarkan ke catatan sipil Indonesia ya mengenai ini" kata mba Imigrasi dengan ramah, ya gw iya-iyain saja lah biar cepat.


Setelah si mba memeriksa dokumen gw lagi, gw diberikan nomor antrian untuk wawancara dan foto, dan disuruh melengkapi formulir lain yang ternyata belum gw isi. Formulir biasa untuk mengisi data-data pribadi kita. Nah, waktu menunggu untuk dipanggil foto ini lama sekali, sekitar dua jam. Entah kebetulan karena saat itu memang sedang ada gangguan teknis/sistem komputer, atau memang biasanya lama seperti ini. Pengalaman kakak gw sih bikin paspor di daerah Mampang cuma 30 menit langsung beres. 

Akhirnya karena tahu akan lama prosesnya, gw jalan keluar untuk cari makan siang atau pengganjal saja. Jadilah gw beli gorengan pakai bumbu kacang, dan rasanya keasinan jadi gw gak suka lalu gw nangis di pojokan.

Setelah beberapa saat gw balik lagi ke Imigrasi (gorengan gw abisin sambil jalan balik ke imigrasi, tapi sebenarnya gak baik ya makan sambil jalan. hehe) dan menunggu sambil mendengarkan musik dari handphone menggunakan earphone. Kira-kira 2 jam waktu sudah berlalu sia-sia dan dengan penantian panjang yang cukup menguji kesabaran, akhirnya nama gw dipanggil untuk masuk ke loket 3. 

Loket ini berada di dalam ruangan kaca di belakang meja tempat gw menyerahkan dokumen pertama. Di dalam loket (bentuknya bukan loket sih cuma meja kerja biasa yang ada komputer, alat perekam sidik jari, kamera SLR, kalender dan banyak dokumen) si mba petugas mempersilahkan gw untuk duduk lalu memeriksa dokumen dan menginstruksikan untuk merekam sidik jari gw di alat yang sudah tersedia di meja. Lalu gw diminta untuk membenarkan posisi duduk untuk diambil foto. Dari pagi make up gw udah on karena tau bakal difoto, gak mau kan kalau foto paspor nya gak bagus (ntar dikira imigran gelap terus ribet di imigrasi), hh tapi kayanya pas fotokerudung gw agak berantakan. Ah sudahlah.


Selanjutnya petugas mencetak satu lembar dokumen sambil berkata "silahkan diperiksa apakah sudah benar ejaaan dan keterangannya lalu tanda tangan di sini" sambil menyodorkan pulpen hitam. Gw baca, teliti, cermati (ah lebay) dan tanda tangan. Setelahnya gw diberikan secarik kertas untuk pembayaran melalui bank mana saja, gw pilih bank BCA karena gw punya rekening di sana, jadi gak perlu antri di teller. Lalu ada tulisan di kertas tersebut bahwa Paspor gw bisa diambil 4 hari setelah pembayaran. Sebenarnya sih tulisan aslinya tiga hari, tetapi angka tiga dicoret dan diganti menjadi angka empat menggunakan spidol.

Karena petugas hanya memberikan kertas tersebut sambil berkata 'silahkan melakukan pembayaran di bank mana saja." Jadilah gw banyak tanya lagi "ooh di bank mana aja bisa mba, no rekeningnya mana ya? cara ambil paspornya gimana ya mba" karena saat gw baca sekilas di kertas tersebut tidak ada penjelasan tata cara pengambilan paspor. Yang agak bikin bete sih petugas imigrasi yang di meja ini ngelayanin gw sambil ngobrol-ngobrol agak keras sama rekan di belakangnya, gak ngeh sih ngobrolin urusan pribadi apa kerjaan. Sayang banget aja sikap petugas ini seperti itu padahal lagi ada masyarakat di depannya yang sedang dilayani. Gak dilayani sepenuh hati deh gw. Gpp lah yang penting gw bisa punya paspor.

Lalu cuss-lah gw ke Bank BCA di samping Imigrasi dan cara mentransfer uangnya dipandu sedikit oleh security BCA yang baik hati. Ternyata kita melakukan pembayaran ke rekening Pajak Negara, ada pilihannya di menu Bayar.

Akhirnya 16 Januari tiba juga dan itu artinya sudah empat hari kerja berlalu dari tanggal pembayaran. Gw kembali ke kantor imigrasi dan berharap proses pengambilan cepat selesai karena gw harus kembali bekerja ke kantor. Kebetulan pada saat proses awal perpanjangan paspor, gw yang niatnya cuma izin setengah hari jadi terpaksa cuti satu hari, karena proses nya memakan waktu hampir seharian (baru selesai jam 14.00). Alhamdulillah sesuai harapan proses pengambilan paspor cepat sekali. Gw datang sesuai jam yang sudah ditentukan, menaruh resi bukti pengambilan paspor di loket dan menunggu nama gw dipanggil petugas. Tidak sampai 5 menit gw dipanggil dan voila jadilah paspor baru gw dengan foto yang kece! hehe.


Suasana Imigrasi saat gw mengambil paspor, ramai banget!

Pada saat tulisan ini dibuat gw belum tau mau pergi ke negara mana, cuma bikin-bikin aja, antisipasi agar kalau kapan mau melancong bisa langsung cuss. Jadi tunggu aja ya kelanjutan cerita gw akan traveling ke negara mana.
Share:

January 15, 2018

Cara Pengambilan E-KTP di Kantor Kelurahan

Cerita ini adalah cerita lanjutan dari pembuatan KTP gw yang hilang pada bulan Juni 2017. Click me to remind you :)

Proses pengambilan KTP ini sangat mudah, bukan gw sendiri yang mengambil, melainkan diwakilkan oleh papa (bukan papa setnov lhoooh) tapi papa asli gw. Cukup dengan membawa resi KTP sementara gw aja, tanpa perlu surat kuasa ataupun dokumen lainnya. sangat mudah kan. Hal ini setidaknya berlaku di Kantor Lurah gw di bendungan hilir, tepatnya di daerah Pejompongan.

KTP gw diambil sekitar bulan December 2017. Tercetak di KTP tersebut bahwa KTP gw sudah jadi pada bulan November 2017, jadi kira-kira butuh waktu sekitar 5 bulan untuk menerbitkan KTP DKI di kelurahan Bendungan Hilir. Mungkin gw cukup beruntung karena ada temen gw yang berkata kalau di kelurahannya dia, penggantian KTP yang hilang tidak mendapatkan prioritas, yang menjadi prioritas adalah yang membuat KTP baru.

Jadi, ya memang sangat mudah untuk mengambil E-KTP dan yang penting yay sudah berlaku seumur hidup tulisannya. Jadi gak perlu lagi deh ada drama-drama perpanjangan KTP tiap 5 tahun sekali. Hidup makin ke sini memang harus semakin simpel.

Ngomong-ngomong seperti yang sudah sebagian besar kalian ketahui, penyebab lama sekali waktu yang diperlukan untuk menerbitkan E-KTP ini karena tidak tersedianya blanko E-KTP. Katanya sih karena ada tindak kasus korupsi di penyediaan blanko E-KTP oleh papa Setnov. Drama ini pun belum berakhir sampai saat ini. Entah sudah berapa lama kasus ini berlangsung, gw sendiri juga tidak terlalu mengikuti perkembangan kasusnya.

Mungkin drama sang papa kepala bakpau sudah mengalahkan sinteron-sinetron Indonesia layaknya Tersanjung-7. Drama papa mungkin membuat penontonnya geram, terhibur dan hanya bisa geleng-geleng kepala sambil berdoa semoga kasus ini cepat selesai secara adil. Gw pribadi sempet kesel sm si papa, karena gara-gara doi kan selama hampir enam bulan KTP gw hanya terbuat dari secarik kertas. Rasanya malu bawa-bawa kertas HVS pengganti KTP gitu di dompet.

Semoga aja kasus ini cepet selesai, diadili seadil-adilnya, karena sejauh yang gw tau si papa udah pake baju oren sebagai tahanan KPK. Selanjutnya gw juga berharap agar gak semakin banyak koruptor berkeliaran di negara ini. Masih aja suka makan uang haram, itu semua kan hanya kenikmatan sesaat, jangan mau dibodoh-bodohi sama dunia dan isinya. 
Share:

January 9, 2018

Hidup dan Rasa di Dalamnya

Hanya melalui jari jemari ini kemurnian bisa disalurkan. Karena lidah ini terlalu luwes menari dan mencari celah untuk menutupi rasa asam dan pahit. Bibir ini juga terlalu terbiasa untuk menyunggingkan lukisan tipis akan sebuah keindahan yang didambakan setiap manusia.

Hidup telah memberikan gw aspartam, sampai gw nyaris dibuat buta karena efek samping dari manis yang semu dan menyisakan after taste yang pahit. 

Hidup selalu menyadarkan gw untuk jangan pernah menggantungkan harapan kepada manusia. Karena tidak ada hal yang nyata dari manusia, makhluk hidup yang paling tidak nyata dan paling tidak hidup.

Hidup mengajarkan gw untuk jangan pernah (atau jangan pernah lagi jika sudah mencicipinya) membuat ekspektasi terhadap manusia. Karena manusia dan segala keinginan serta impiannya itu adalah hal yang paling semu.

Hidup gw tidak pahit tetapi gw bisa memahami kepahitan yang sudah mengendap di masa lampau dan juga kebahagiaan yang menjadi pendamping di dalamnya.

Hidup memberikan gw pemahaman bahwa sumber kebahagian kita tidak berasal dari manusia lain, tetapi dari diri kita sendiri. Karena memang sudah terbukti kebenarannya bahwa kebahagiaan itu tidak bisa dicari melainkan hanya bisa diciptakan oleh kita, sebagai makhluk hidup yang berpikir dan beradab.

Hidup membuat gw selalu berpikir (yaiyalah mati dong gw kalo gak mikir) kenapa hidup ini harus kita jalani. Jika hidup ini bukanlah sebuah kehidupan yang lo inginkan ataupun lo pilih dan impikan, kenapa masih tetap harus dijalani? Karena gw percaya hidup ini adalah ujiannya. Gw tetap percaya akan ada setitik kebahagian semu lainnya di ujung sana. Istilah kerennya sih live the life to the fullestToh mau sebahagia atau semerana apapun semuanya akan berakhir pada waktunya kan. Jadi jalani saja. 

Hati manusia adalah hal yang paling rapuh di dunia ini. Lebih rapuh dari dedaunan kering yang sudah berguguran di pinggir jalan. 
Hati manusia juga yang paling kuat di dunia ini. Lebih kuat dari sebuah tiang pancang paku bumi dalam sebuah konstruksi jalan layang. Jadi, hati-hati dengan hati.

Jangan bermain api jika tidak mau terbakar dan jangan bermain angin jika hanya ingin merasakan kesejukan.

Sesantai-santai nya gw sebagai manusia, tetap saja gw bukanlah robot yang gak punya perasaan. Gw hidup ya pastinya pakai otak (yang kadang gak kepake) dan hati (yang selalu kepake). Setiap manusia ingin dihargai ataupun mendapatkan respect dari manusia lain. Jadi gimana kalau kita belajar untuk menghargai manusia lain dulu, baru manusia lain akan menghargai kita, karena itu semua adalah hukum alam. 

Kebahagian dan kesedihan itu semuanya berada di jalan yang sama dan dipisahkan hanya oleh sebuah garis ilusi yang sangat tipis. Jadi berhati-hatilah dalam menjaga ilusi tersebut.

Kalau kata 9gag sih, "If life give you a lemon, just make a lemon cake and throw it to their face."




...and if your gift is to make people feel something, do not cover that in apology. DO NOT LIE to accommodate others fear of feeling something
-Nayyirah Waheed-




I am not here to live a life where comfort takes precedence over complacency and ignorance.
-Shailene Woodley-




Share:

Happy New Year 2018



Happy New Year Universe!!

Akhirnya gw tau juga apa resolusi gw di tahun 2018, yaitu perbanyak menulis. 

Yes, gw mau lebih produktif menulis, tulisan apapun itu, se-sampah apapun, ya pokoknya dalam sebulan gw harus menulis.
 Karena menulis ini adalah salah satu meditasi terbaik agar gw tidak meledak.

Jadi, inilah tulisan pertama gw di tahun 2018!! 

Cheers,
Ai
Share:

August 26, 2017

July 15, 2017

I Will Never Let it Go

Kindness.
It is what we need to be a happiest person in this planet and insyaAllah in the afterlife as well. 

I am tryin, tryin really really hard to be a better human and muslimah. 

It is not that easy to wear this hijab, if you wear a hijab, everyone thinks you must be a good muslimah. But it is not as simple as that. We are just a human being, who have many sins, did many mistakes accidentally or intentionally.

If we did things wrongly is just because of ourself, it is not because of our religion. I wears hijab but it does not make me a perfect muslimah in an instance.  If I did a mistakes then don't blame my religon, don't point your finger to my religion. It is all because of me, a human being.

I always heard "seriously?? she wear a hijab but she did those sins? What kind of bi*ch". You know what? It is so mean to said and so cruel to heard. So don't blame my hijab nor my religion, just blame me.

As a person I have choosen many wrongs way, indeed. But I tried and I am still trying to be a better person and muslimah. Experiences make us wiser, mistakes make us learn and time will make a peace by itself. 

Have a peace with ourself is really a hardest thing to do. Accept what we are, accept yourself as you are.

Nowadays we see many signs of the end of the world or armageddon. We live on the edges. So what are we waiting for people? We live in this temporary dunya only for once, I always believe there are no such thing like a reincarnation. We live forever in jannah or in hell. 

Anyway, I don't really understand if hell is temporary or not, if I'm not wrong, in my religion I understand that sinners will burn or get punishment  in hell untill our sins is clear and then we can go to the heaven or jannah, but we don't know how much times we will spend in the hell. 

Back to topic, it would be better if we live together in harmonius sorroundings, lean on each others. Difference should makes us more bonded. Unity in diversity, appreciate the difference and others opinion. Don't just consume it rarely but proceed it first. 

Don't let ourself to be provocated by a bullshit(s). Just ignore mean words and spread the nice words, good gestures and spread the love!

I am still tryin to do all those things. It is so hard. But I am tryin for the sake of our live, our planet and our kindness. A human being. 

Happiness, kindness, helping, available ears to hear others opinions and hands to help.. 

I will always try to be a kinder and a happier person and trying really hard to have a peace with me. I will never let a pure kindness away from me, won't let it go even in the darkest place ever. Kindness will makes us happier and it is a good way to start and continue a live!





*saat insomnia menyerang saat itu juga ide berebutan ingin diketik*
Share:

June 15, 2017

Jakarta Chaos -Part 2-

Tulisan ini adalah sambungan dari cerita sebelumnya, refresh dulu yuk click me!


Seketika Ia terjerembab ke depan dan kepalanya membentur sesuatu yang keras. Tangannya meraba-raba dalam kegelapan mencari pegangan untuk berdiri. Di pelipis kirinya Ia merasakan cairan hangat mengalir perlahan sampai ke pipinya. Ia hanya berusaha untuk segera berdiri karena panik dengan apa yang baru terjadi. Ia masih belum tau benar apa sebenarnya yang sedang terjadi, tidak lama kemudian lampu darurat dalam bus menyala.

Penumpang lain yang terjatuh-pun banyak yang sudah bisa berdiri lagi. Keadaan panik mulai terjadi di dalam bus Trans, lalu Alinka mencoba membantu si bapak teman seperjalanannya untuk berdiri. Tak lama kemudian tercium bau asap dari bagian belakang Trans, penumpang pun semakin panik. Mereka takut mesin bus Trans terbakar, akhirnya para penumpang mulai berteriak. Mereka meminta pintu segera dibuka agar bisa keluar dari dalam Trans. Kondektur mencoba menenangkan penumpang yang panik dan lampu dalam bus kembali menyala normal, diiringi dengan suara mesin bus yang menyala kembali. 

Ternyata ledakan yang terdengar adalah suara dari ban Trans yang bocor dan sang supir tidak bisa mengendalikan bus karena kaget sehingga Ia menabrak pembatas jalan. Dan bau asap yang menyerupai bau karet terbakar adalah hasil dari letusan ban yang bocor. Kondektur pun memberitahu kepada penumpang bahwa mereka akan dipindahkan ke bus yang ada di belakang karena bus yang mereka tumpangi sudah jelas tidak bisa melanjutkan perjalanan. 

Alinka lalu berpikir “wah kalau dipindahkan pasti bakal lama karena Trans belakang pasti penuh jg.” Ia pun berpikir untuk turun saja dari bus dan naik kendaraan lain, karena dia sudah cukup lelah dan kepalanya sedikit pusing setelah membentur sesuatu tadi. Banyak penumpang lain minta diturunkan saja walau sebenarnya tidak diperbolehkan dengan peraturan TransJakarta tetapi karena keadaan sedang darurat akhirnya kondektur dan supir membolehkan penumpang untuk turun dari bus.

Saat sedang berpikir akan bagaimana cara agar Ia bisa segera pulang, ada seseorang menepuk pundak Alinka. “Mba, maaf itu kepalanya berdarah. Ini coba pakai ini, bersih kok.” Seorang pemuda sembari menyerahkan handuk kecil seukuran sapu tangan. “Hah? Masa?” tanya Alinka, lalu Ia meraba pelipis yang ditunjuk pemuda itu. Benar saja ada cairan merah di jari-jarinya yang meraba-raba pelipisnya. Ia sedikit panik. “Tapi kayanya sudah berhenti pendarahannya, tapi ambil aja ini mba buat bersihkan sementara.” Kata si pemuda sambil memberikan handuk kecil tersebut. Alinka masih bingung, Ia baru merasakan rasa sakit di luka tersebut serta denyutan keras di kepalanya karena sakit tersebut. Ia pun menerima pemberian pemuda tersebut lalu segera membersihkan noda darah di mukanya. “Mending kamu turun aja terus obatin lukanya ya.” Si bapak memberikan saran. Si pemuda pun mengiyakan saran si bapak.

Tanpa pikir panjang Alinka pun turun dari bus mengikuti penumpang lainnya setelah berterima kasih ke si bapak dan si pemuda. Ia turun melalui pintu depan lalu segera menyebrang ke trotoar. Jalanan saat itu sudah sangat macet parah sehingga dengan mudah Ia melangkah dari jalur TransJ ke trotoar. Hujan masih setia menemani malam yang melelahkan ini. Lalu kembali ada yang menepuk pundak Alinka lagi, ternyata pemuda yang tadi. “Mbak, saya punya plester luka nih kalau mau buat sementara, mau gak?” ujarnya. Alinka mengangguk saja lalu si pemuda merogoh tas ranselnya mencari plester luka. Lalu Ia memberikan kepada Alinka, dan ia bertanya “mau saya yang pasangin gak mba? Kan kalau pasang sendiri gak tahu letak lukanya dimana?” Alinka pun kembali hanya mengangguk saja. Dia hanya pasrah diberi bantuan oleh orang asing. Selesai memakaikan plester ke Alinka pemuda itu bertanya lagi “rumahnya dimana mbak?” “Di Ciputat, mas dimana?” Alinka balik bertanya sekedar basa basi. “wah searah dong, saya di Lebak Bulus mbak.” jawab pemuda itu cepat.”Terus sekarang pulangnya mau gimana mbak? Kata teman-teman saya macet dimana-mana soalnya ada pohon tumbang di banyak tempat terus ada yang kebanjiran juga.” lanjut si pemuda tsb. “Waduh, yang bener mas? Yah gimana dong? Mas sendiri pulangnya gimana?” tanya balik Alinka. “Nah saya juga msh bingung, ini lagi nunggu jawaban teman saya yang naik kereta, semoga aja kereta lancar ya. Kalau naik kereta saya niat turun di stasiun Pondok Ranji terus nginep di rumah kakak Saya dekat situ.” jawab si pemuda.

“Ooh naik kereta ya, boleh jg sih tapi saya ga ngerti naik kereta mas.” balas Alinka. “Kalau mau bareng saya aja mba, nanti dari Stasiun Pdk Ranji naik ojek aja ya, nih teman saya sudah balas katanya kereta aman. Nah sekarang Saya mau ke Stasiun T. Abang, tapi dari sini ke stasiunnya saya bingung naik apa?” si pemuda berkata. “Kalau naik ojek berapa lama mas?”tanya Alinka. “hhhmm sekitar 20 menitan mba kalau ga macet.” Sahut si pemuda. “Tuh ada minimarket mbak, mending bersihin lukanya dulu sembari mikir pulangnya gimana” lanjut si pemuda. Alinka hanya mengangguk saja, dia sedang bingung dan tidak bisa berpikir karena rasa sakit dan lelahnya. Alinka disuruh duduk di salah satu meja di luar minimarket sedangkan si pemuda masuk ke dalam minimarket tsb. 

Setelah beberapa menit si pemuda membawakan sebuah plastik berisi plester dan obat luka beserta dua paper cup berisikan hot chocolate. “nih mbak diminum dulu biar tenang sedikit.” Kata si pemuda. Lalu dia membuka kemasan obat luka dan menawarkan untuk membantu membersihkan luka Alinka, namun ia menolaknya tapi akhirnya mau karena merasa kesulitan mengobati luka sendiri tanpa menggunakan cermin. “Mas, makasih banyak lhoh, Saya sampai lupa bilang, sudah bantu saya dari pas di Trans sampai sekarang. Maaf ngerepotin banget, oya nama mas siapa ya?” tukas Alinka tiba-tiba. “iya gak apa-apa mbak, saya ikhlas kok, apalagi ceweknya cantik kaya mba, nama saya Sakhi mba, boleh tau nama mba?” balas Sakhi sembari tertawa pelan “oooh nama saya Alinka mas.” Jawab Alinka lugas.

Mereka mengobrol sembari mencari solusi agar bisa pulang ke rumah masing-masing. Mereka pun memutuskan pulang menggunakan taksi bersama, karena jika m
enggunakan kereta pasti padat penumpang jam segini. Mereka pun segera mencari taksi dan langsung dapat. Di perjalanan mereka saling berbicara mengenai kegiatan sehari-hari, Alinka tidak merasa canggung lagi karena dia percaya Sakhi pemuda yang baik. Di perjalanan Alinka beberapa kali tertidur karena kelelahan, Sakhi juga sebetulnya mengantuk tapi dia tetap terjaga agar supir taksinya tidak salah arah. Alinka sempat memberitahu dimana rumahnya lalu Sakhi memutuskan mengantarnya terlebih dahulu walau lokasi rumahnya mengharuskan dia untuk turun duluan dibanding lokasi rumah Alinka. Dia merasa Alinka sudah tidak ada tenaga buat menunjukkan arah jalan rumahnya. Walaupun pemuda ini juga tidak tahu persis lokasi rumah Alinka.

Ketika sampai di jalan rumah Alinka, Sakhi membangukan Alinka untuk menunjukkan dimana lokasi persis rumahnya. Akhirnya Alinka sampai di depan rumah itu, ia berkali-kali mengucapkan terima kasih ke Sakhi. Membuat pemuda itu jadi tidak enak hati takut niat baiknya disangka memanfaatkan keadaan. “lain kali boleh saya mampir ke sini mba? Celetuk Sakhi. Alinka hanya tersenyum tipis dan melambaikan tangannya serta berjalan menuju ke rumahnya tanpa pernah menoleh ke belakang. Sakhi pun merasa ini terkahir kalinya ia melihat rumah tersebut atau gadis itu. Padahal Ia berharap bisa ke rumah itu lagi suatu saat untuk menemui Alinka.

Perjalan malam ini menghabiskan waktu hampir tiga jam untuk tiba di rumah Alinka, sebuah perjalanan waktu yang luar biasa pada malam itu, Jakarta benar-benar chaos sekali. Alinka pun langsung tertidur lelap, berharap besok pagi Jakarta lebih bersahabat.

P








S:Penulis:
.:RR:.


Share:

Cerita Pembuatan e-KTP yang Hilang

Tanggal 01 Juni 2017 untuk pertama kalinya dalam hidup gw kehilangan sebuah benda, benda itu adalah benda berharga yang berisikan kartu-kartu penting, dompet! Alhamdulillah gw seumur-umur belum pernah kecopetan, dijambret, kehilangan handphone dsb. Tetapi di awal bulan Ramadhan gw harus ikhlas dapat cobaan seperti ini. Gak perlu gw ceritain kronologis kehilangan dompet nya ya, karena yang menjadi sorotan gw di sini adalah tentang e-KTP atau Kartu Tanda Penduduk-elektronik.


Setelah membuat Surat Keterangan Kehilangan di Polres Kelapa Gading, esoknya gw mulai berurusan dengan bank-bank terlebih dahulu untuk membuat kartu debit. Lalu minggu depannya baru berencana mengurus e-KTP. Gw agak malas urus e-KTP karena kelurahannya jauh, rumah gw di Tangsel tapi e-KTP gw terdaftar sebagai warga Jakpus, kebetulan di sana ada rumah almh. nenek. Akhirnya diputuskan Senin pagi sehabis sahur gw mau langsung jalan ke Bendungan Hilir. Lucky me! papa mau nganterin karena sekalian beliau mau check-up di RSAL Mintohardjo.

Pertama gw ke rumah ketua RT yang posisinya dekat banget dengan rumah nenek, dimana rumah nenek gw itu hanya bisa gw pandangi dari jauh. Ketemu lah dengan pak RT yang sebelumnya sudah gw hubungi untuk membuat janji dan maksud kedatangan. Pak RT nya ramah dan cukup membantu, Sebelumnya ada percakapan gw dengan papa mengenai memberikan tips sebagai rasa terima kasih ke pak RT. Gw sih tadinya gak mau karena gw pikir itu bagian dari pekerjannya, tetapi kata Papa, pak RT itu gak digaji. Hoo oke lah gw kasih kalau begitu, lagian juga gak seberapa. Beda kasusnya saat mengurus SKK di polres, gw udh mengingatkan temen gw untuk jangan memberikan uang tips sama sekali, karena itu adalah bagian dari pekerjaannya. Tetapi tetep lah temen gw memberikan tips, mana gede banget, gw jadi emosi seketika, secara itu ga etis buat gw pribadi. Tau sendiri kan kalo ngurus SKK polisi tuh suka lama (pengalaman gw-gatau kalau polisi lain) lama ngetiknya, nanya-nanya nya (oke lah kalau nanya-nanya lama gpp) tapi kan mereka suka banget salah-salah ketik gitu, Udah memberikan tips gede tapi cuma dikasih 1 SKK berlegalisir dan tampaknya gw harus balik lagi ke sana untuk meminta SKK legalisir guna keperluan mengurus kartu lain  yang hilang.


Setelah dari pak RT gw langsung ke Kelurahan, karena memang diinfokan tidak perlu tandatangan ketua RW lagi. Pak RT menginfokan kelurahan buka jam 08.00 tetapi ternyata dari jam 07.30 sudah buka dan sudah ada petugas yang bekerja, juga ada pasukan orange yang sedang apel pagi. Gw ditemui oleh seorang petugas pria dan langsung menanyakan kok gak ditandatangani ketua RW, gw jawab karena instruksi dari pak RT adalah langsung saja ke kelurahan. Lalu beliau membalas dengan 'lhoooh kok pak RT gak tau kalo harus ke RW dulu, nanti saya tegur deh". Gw timpali dengan "ya mungkin pak RW nya masih ngantuk pak abis sahur belum tidur. hehe" Jadilah bapak itu melihat Kartu Keluarga gw dan mulai deh nanya-nanya gak penting, seperti "lhoooh udh lulus kuliah saya pikir masih anak kuliahan" "lhoooh kok belum kawin, cakep2 gini, udah umurnya tuh" "hooo lahirnya jauh yaaa" zz gw tanggepin dengan cengar cengir kuda aja. Intinya si bapak itu menjelaskan gw harus ke rumah ketua RW dulu dan gw gatau rumahnya dimana, namun berkat kehebatan kang Uber Motor sampai lah gw di rumah RW.






Sampai di sana rumahnya sepi, ada nenek dengan rambut beruban keluar dan gak tau dimana pak RW, entah lagi tidur atau sedang keluar katanya. Kata nenek itu dititipin aja dokumen yang mau ditandatangan, gw menolak, yang ada dokumen gw bisa ilang nanti, gw tanya aja memangnya tidak bisa diwakilkan oleh yang lain. Beliau menyarankan kalau gw sebaiknya ke rumah sekretarisnya saja di gang sebelah, saat itu gw lagi puasa, udah lemes bgt sih sebenernya, tetapi untung cuaca tidak terlalu panas. Gw jalan ke rumah sekretaris dan langsung ketemu beliau dan kami kembali lagi ke rumah pak RW dan langsung dieksekusi surat gw. Dalem hati gw mendesah emang gak bisa ditelfon aja apa biar gw gak mondar mandir. Lelah bang lelah, ngurus ginian sendiri baru pertama kali, biasanya diurusin, seketika gw jadi merasa lebih dewasa bisa ngurus perintilan begini, secara bisa ditemenin mama kalo begini. haha. Bapak sekretaris itu cukup baik untuk mengingatkan gw agar mengcopy dulu semua berkas.





Kembali lagi gw ke kantor kelurahan, ketemu bapak yang tadi dan berkas gw diambil. Berkas-berkas itu terdiri dari:

1. SKK asli dari polres/polsek

2. Fotocopy Kartu Keluarga

3. Surat pengantar RT dan jangan lupa wajib ditandatangani RW

4. Fotocopy e-KTP lama


KTP lama gw sudah yang elektronik tetapi masih ada tulisan masa berlaku, walaupun secara sistem sudah tercatat dengan berlaku seumur hidup, jadi memang baiknya sekalian diganti kata petugas. Tetapi permasalahannya seperti yang sudah kita ketahui, ada kasus korupsi pada penyediaan blanko e-KTP yang sekarang tersangkanya masih dalam masa persidangan. Jadi akan memakan waktu untuk proses nya, untuk sementara akan dibuatkan resi e-KTP. Gw bertanya kapan jadinya e-KTP, apakah akhir tahun ini? kata petugas diusahakan bulan Agustus karena blanko nya sedang proses cetak. Heran masih aja ya ada koruptor udah tahun 2017, masih aja mau makan yang bukan hak-nya, akhirnya kepentingan bersama jadi terganggu. Dan KTP gw sekarang dari HVS -____-

Setelah berkas gw di bawa ke dalam, lalu menunggu beberapa saat dan gw dipanggil untuk tanda tangan, tidak perlu foto lagi, padahal gw ngarepnya bisa foto supaya update aja gitu. Ternyata yang mengecewakan resi nya itu tidak bisa langsung diambil, harus diambil besok jam 07.00. Gw udah khusus cuti kerja hari ini buat mengurus e-KTP, ya kali besok gw harus ke sini lagi buat ambil resi doang. Gw gak ngerti apa susahnya itu resi langsung dicetak. Gw putuskan untuk diwakili kakak gw aja mengenai pengambilan resi, karena kebetulan kantor kakak dekat daerah benhil.

Begitulah proses pembuatan e-KTP sudah tidak terlalu ribet seperti dulu, tapi apa gunanya elektronik-nya ya? elektronik itu bukannya untuk mempermudah warga dengan sistem data online dsb. Di sini kita masih harus mondar mandi menghadapi birokrasi.


INDONESIA AYO MAJU!!



Share: