January 18, 2018

Proses Pembuatan Paspor Indonesia

Rabu, 10 Januari 2018 gw bertolak ke Kantor Imigrasi Kelas I Jakarta Utara untuk memperpanjang Paspor gw yang udah habis masa berlaku dari tahun 2013. Kasihan ya dari tahun 2013 sudah gak pernah ke luar negeri. hehe.

Proses awal untuk pembuatan paspor ini adalah dengan mengunduh aplikasi 'Paspor Online" di Android atau bisa juga mendaftar melalui web ini. Karena gw mencoba daftar di kantor imigrasi wilayah Jakarta Selatan penuh semua, akhirnya gw mencoba yang di Jakarta Utara, secara juga tidak terlalu jauh dari kantor gw. Akhirnya dapat pada tanggal tersebut pukul 10.00-11.00 untuk ambil nomor antrian di Imigrasi Jakut, gw mendaftar sejak bulan Desember dan dapat nomor antrian untuk di bulan Januari.

Setelah banyak tanya dan browsing sana-sini mengenai kelengkapan dokumen apa saja yang dibutuhkan, akhirnya terkumpul dokumen sebagai berikut:
1. Kartu Keluarga (asli dan 1 lembar fotokopi)
2. Ijazah SMA/Kuliah (asli dan 1 lembar fotokopi)
3. Akte Kelahiran (asli dan 1 lembar fotokopi)
4. Paspor lama (asli dan 1 lembar fotokopi) khusus untuk perpanjangan
5. KTP (asli dan 1 lembar fotokopi)

Saat mendaftar di aplikasi online kalian akan mendapatkan jadwal dalam bentuk dokumen PDF. Jika kalian ke imigrasi Jakut gw sarankan untuk print lembar tersebut (ya pembuatan paspor ini memang tidak go green dan paperless). Walaupun ada barcode, tetapi ternyata barcode tersebut tidak bisa di scan. Kalian juga bisa print  di kantor Imigrasi, tetapi harus sabar mengantri lagi.

Gw juga sarankan kalau sudah mendapatkan jam antrian melalui aplikasi, kalian tidak perlu datang terlalu cepat ke Imigrasi, cukup datang 15 menit sebelumnya. Sebaiknya kalian juga sudah menduplikat semua dokumen-dokumen yang dibutuhkan, agar tidak perlu capek naik ke kios fotokopi di lantai 3 dan juga siapkan pulpen hitam. Tepat pukul 10.00 petugas kemanan Imigrasi mengumumkan "Yang dapat antrian jam 10.00 silahkan ambil nomor antrian ke depan sini". Gw dapat antrian ke-5 waktu itu karena lagi bengong saat diumumkan jadi gak gesit. Lalu gw menunggu nomor gw dipanggil, cukup lama sekitar 40 menit. Oya, di tempat menunggu juga disediakan 1 unit televisi berwarna yang menayangkan acara Just for Laughs, hiburang bagi yang mengantri dan tidak bete karena bisa ketawa nonton acara tersebut.






Akhirnya nomor gw dipanggil juga dan semua kelengkapan dokumun yang di fotokopi gw berikan ke petugas di Imigrasi, lalu dokumen asli nya di cek (hanya di cek saja, tidak diambil). Lalu karena nama gw di akte dan KTP dan paspor lama berbeda, gw diminta untuk mengisi form penggantian nama dan membeli materai di kios fotokopi di lantai 3. Selanjutnya gw ditanya lagi "oooh lahirnya di luar negeri ya di Jeddah?" "iya mba nya, ada apa emang mbak?" respon gw. "Ibu pernah daftar di catatan sipil Indonesia tidak kalau lahir di luar negeri?" "Ya nggak pernah mba, saya gak tau kalau harus seperti itu" jawab gw. Lalu si petugas bertanya lagi "kalau paspor Arab punya gak?" "Ya nggak punya juga mba." Dalem hati gw berkata yailah mba Arab Saudi kan setau gw adalah salah satu negara yang menganut Ius Sanguinis, dimana anak yang dilahirkan menganut kewarganegaraan orang tua kandung. "Kalau ijazah SMA bawa gak?" "Yah gak bawa mba cuma yang Ijazah S-1" jawab gw sambil senyum manis-manis. "Yaudah gpp bu tapi sebaiknya nanti didaftarkan ke catatan sipil Indonesia ya mengenai ini" kata mba Imigrasi dengan ramah, ya gw iya-iyain saja lah biar cepat.


Setelah si mba memeriksa dokumen gw lagi, gw diberikan nomor antrian untuk wawancara dan foto, dan disuruh melengkapi formulir lain yang ternyata belum gw isi. Formulir biasa untuk mengisi data-data pribadi kita. Nah, waktu menunggu untuk dipanggil foto ini lama sekali, sekitar dua jam. Entah kebetulan karena saat itu memang sedang ada gangguan teknis/sistem komputer, atau memang biasanya lama seperti ini. Pengalaman kakak gw sih bikin paspor di daerah Mampang cuma 30 menit langsung beres. 

Akhirnya karena tahu akan lama prosesnya, gw jalan keluar untuk cari makan siang atau pengganjal saja. Jadilah gw beli gorengan pakai bumbu kacang, dan rasanya keasinan jadi gw gak suka lalu gw nangis di pojokan.

Setelah beberapa saat gw balik lagi ke Imigrasi (gorengan gw abisin sambil jalan balik ke imigrasi, tapi sebenarnya gak baik ya makan sambil jalan. hehe) dan menunggu sambil mendengarkan musik dari handphone menggunakan earphone. Kira-kira 2 jam waktu sudah berlalu sia-sia dan dengan penantian panjang yang cukup menguji kesabaran, akhirnya nama gw dipanggil untuk masuk ke loket 3. 

Loket ini berada di dalam ruangan kaca di belakang meja tempat gw menyerahkan dokumen pertama. Di dalam loket (bentuknya bukan loket sih cuma meja kerja biasa yang ada komputer, alat perekam sidik jari, kamera SLR, kalender dan banyak dokumen) si mba petugas mempersilahkan gw untuk duduk lalu memeriksa dokumen dan menginstruksikan untuk merekam sidik jari gw di alat yang sudah tersedia di meja. Lalu gw diminta untuk membenarkan posisi duduk untuk diambil foto. Dari pagi make up gw udah on karena tau bakal difoto, gak mau kan kalau foto paspor nya gak bagus (ntar dikira imigran gelap terus ribet di imigrasi), hh tapi kayanya pas fotokerudung gw agak berantakan. Ah sudahlah.


Selanjutnya petugas mencetak satu lembar dokumen sambil berkata "silahkan diperiksa apakah sudah benar ejaaan dan keterangannya lalu tanda tangan di sini" sambil menyodorkan pulpen hitam. Gw baca, teliti, cermati (ah lebay) dan tanda tangan. Setelahnya gw diberikan secarik kertas untuk pembayaran melalui bank mana saja, gw pilih bank BCA karena gw punya rekening di sana, jadi gak perlu antri di teller. Lalu ada tulisan di kertas tersebut bahwa Paspor gw bisa diambil 4 hari setelah pembayaran. Sebenarnya sih tulisan aslinya tiga hari, tetapi angka tiga dicoret dan diganti menjadi angka empat menggunakan spidol.

Karena petugas hanya memberikan kertas tersebut sambil berkata 'silahkan melakukan pembayaran di bank mana saja." Jadilah gw banyak tanya lagi "ooh di bank mana aja bisa mba, no rekeningnya mana ya? cara ambil paspornya gimana ya mba" karena saat gw baca sekilas di kertas tersebut tidak ada penjelasan tata cara pengambilan paspor. Yang agak bikin bete sih petugas imigrasi yang di meja ini ngelayanin gw sambil ngobrol-ngobrol agak keras sama rekan di belakangnya, gak ngeh sih ngobrolin urusan pribadi apa kerjaan. Sayang banget aja sikap petugas ini seperti itu padahal lagi ada masyarakat di depannya yang sedang dilayani. Gak dilayani sepenuh hati deh gw. Gpp lah yang penting gw bisa punya paspor.

Lalu cuss-lah gw ke Bank BCA di samping Imigrasi dan cara mentransfer uangnya dipandu sedikit oleh security BCA yang baik hati. Ternyata kita melakukan pembayaran ke rekening Pajak Negara, ada pilihannya di menu Bayar.

Akhirnya 16 Januari tiba juga dan itu artinya sudah empat hari kerja berlalu dari tanggal pembayaran. Gw kembali ke kantor imigrasi dan berharap proses pengambilan cepat selesai karena gw harus kembali bekerja ke kantor. Kebetulan pada saat proses awal perpanjangan paspor, gw yang niatnya cuma izin setengah hari jadi terpaksa cuti satu hari, karena proses nya memakan waktu hampir seharian (baru selesai jam 14.00). Alhamdulillah sesuai harapan proses pengambilan paspor cepat sekali. Gw datang sesuai jam yang sudah ditentukan, menaruh resi bukti pengambilan paspor di loket dan menunggu nama gw dipanggil petugas. Tidak sampai 5 menit gw dipanggil dan voila jadilah paspor baru gw dengan foto yang kece! hehe.


Suasana Imigrasi saat gw mengambil paspor, ramai banget!

Pada saat tulisan ini dibuat gw belum tau mau pergi ke negara mana, cuma bikin-bikin aja, antisipasi agar kalau kapan mau melancong bisa langsung cuss. Jadi tunggu aja ya kelanjutan cerita gw akan traveling ke negara mana.
Share:

January 15, 2018

Cara Pengambilan E-KTP di Kantor Kelurahan

Cerita ini adalah cerita lanjutan dari pembuatan KTP gw yang hilang pada bulan Juni 2017. Click me to remind you :)

Proses pengambilan KTP ini sangat mudah, bukan gw sendiri yang mengambil, melainkan diwakilkan oleh papa (bukan papa setnov lhoooh) tapi papa asli gw. Cukup dengan membawa resi KTP sementara gw aja, tanpa perlu surat kuasa ataupun dokumen lainnya. sangat mudah kan. Hal ini setidaknya berlaku di Kantor Lurah gw di bendungan hilir, tepatnya di daerah Pejompongan.

KTP gw diambil sekitar bulan December 2017. Tercetak di KTP tersebut bahwa KTP gw sudah jadi pada bulan November 2017, jadi kira-kira butuh waktu sekitar 5 bulan untuk menerbitkan KTP DKI di kelurahan Bendungan Hilir. Mungkin gw cukup beruntung karena ada temen gw yang berkata kalau di kelurahannya dia, penggantian KTP yang hilang tidak mendapatkan prioritas, yang menjadi prioritas adalah yang membuat KTP baru.

Jadi, ya memang sangat mudah untuk mengambil E-KTP dan yang penting yay sudah berlaku seumur hidup tulisannya. Jadi gak perlu lagi deh ada drama-drama perpanjangan KTP tiap 5 tahun sekali. Hidup makin ke sini memang harus semakin simpel.

Ngomong-ngomong seperti yang sudah sebagian besar kalian ketahui, penyebab lama sekali waktu yang diperlukan untuk menerbitkan E-KTP ini karena tidak tersedianya blanko E-KTP. Katanya sih karena ada tindak kasus korupsi di penyediaan blanko E-KTP oleh papa Setnov. Drama ini pun belum berakhir sampai saat ini. Entah sudah berapa lama kasus ini berlangsung, gw sendiri juga tidak terlalu mengikuti perkembangan kasusnya.

Mungkin drama sang papa kepala bakpau sudah mengalahkan sinteron-sinetron Indonesia layaknya Tersanjung-7. Drama papa mungkin membuat penontonnya geram, terhibur dan hanya bisa geleng-geleng kepala sambil berdoa semoga kasus ini cepat selesai secara adil. Gw pribadi sempet kesel sm si papa, karena gara-gara doi kan selama hampir enam bulan KTP gw hanya terbuat dari secarik kertas. Rasanya malu bawa-bawa kertas HVS pengganti KTP gitu di dompet.

Semoga aja kasus ini cepet selesai, diadili seadil-adilnya, karena sejauh yang gw tau si papa udah pake baju oren sebagai tahanan KPK. Selanjutnya gw juga berharap agar gak semakin banyak koruptor berkeliaran di negara ini. Masih aja suka makan uang haram, itu semua kan hanya kenikmatan sesaat, jangan mau dibodoh-bodohi sama dunia dan isinya. 
Share:

January 9, 2018

Hidup dan Rasa di Dalamnya

Hanya melalui jari jemari ini kemurnian bisa disalurkan. Karena lidah ini terlalu luwes menari dan mencari celah untuk menutupi rasa asam dan pahit. Bibir ini juga terlalu terbiasa untuk menyunggingkan lukisan tipis akan sebuah keindahan yang didambakan setiap manusia.

Hidup telah memberikan gw aspartam, sampai gw nyaris dibuat buta karena efek samping dari manis yang semu dan menyisakan after taste yang pahit. 

Hidup selalu menyadarkan gw untuk jangan pernah menggantungkan harapan kepada manusia. Karena tidak ada hal yang nyata dari manusia, makhluk hidup yang paling tidak nyata dan paling tidak hidup.

Hidup mengajarkan gw untuk jangan pernah (atau jangan pernah lagi jika sudah mencicipinya) membuat ekspektasi terhadap manusia. Karena manusia dan segala keinginan serta impiannya itu adalah hal yang paling semu.

Hidup gw tidak pahit tetapi gw bisa memahami kepahitan yang sudah mengendap di masa lampau dan juga kebahagiaan yang menjadi pendamping di dalamnya.

Hidup memberikan gw pemahaman bahwa sumber kebahagian kita tidak berasal dari manusia lain, tetapi dari diri kita sendiri. Karena memang sudah terbukti kebenarannya bahwa kebahagiaan itu tidak bisa dicari melainkan hanya bisa diciptakan oleh kita, sebagai makhluk hidup yang berpikir dan beradab.

Hidup membuat gw selalu berpikir (yaiyalah mati dong gw kalo gak mikir) kenapa hidup ini harus kita jalani. Jika hidup ini bukanlah sebuah kehidupan yang lo inginkan ataupun lo pilih dan impikan, kenapa masih tetap harus dijalani? Karena gw percaya hidup ini adalah ujiannya. Gw tetap percaya akan ada setitik kebahagian semu lainnya di ujung sana. Istilah kerennya sih live the life to the fullestToh mau sebahagia atau semerana apapun semuanya akan berakhir pada waktunya kan. Jadi jalani saja. 

Hati manusia adalah hal yang paling rapuh di dunia ini. Lebih rapuh dari dedaunan kering yang sudah berguguran di pinggir jalan. 
Hati manusia juga yang paling kuat di dunia ini. Lebih kuat dari sebuah tiang pancang paku bumi dalam sebuah konstruksi jalan layang. Jadi, hati-hati dengan hati.

Jangan bermain api jika tidak mau terbakar dan jangan bermain angin jika hanya ingin merasakan kesejukan.

Sesantai-santai nya gw sebagai manusia, tetap saja gw bukanlah robot yang gak punya perasaan. Gw hidup ya pastinya pakai otak (yang kadang gak kepake) dan hati (yang selalu kepake). Setiap manusia ingin dihargai ataupun mendapatkan respect dari manusia lain. Jadi gimana kalau kita belajar untuk menghargai manusia lain dulu, baru manusia lain akan menghargai kita, karena itu semua adalah hukum alam. 

Kebahagian dan kesedihan itu semuanya berada di jalan yang sama dan dipisahkan hanya oleh sebuah garis ilusi yang sangat tipis. Jadi berhati-hatilah dalam menjaga ilusi tersebut.

Kalau kata 9gag sih, "If life give you a lemon, just make a lemon cake and throw it to their face."




...and if your gift is to make people feel something, do not cover that in apology. DO NOT LIE to accommodate others fear of feeling something
-Nayyirah Waheed-




I am not here to live a life where comfort takes precedence over complacency and ignorance.
-Shailene Woodley-




Share:

Happy New Year 2018



Happy New Year Universe!!

Akhirnya gw tau juga apa resolusi gw di tahun 2018, yaitu perbanyak menulis. 

Yes, gw mau lebih produktif menulis, tulisan apapun itu, se-sampah apapun, ya pokoknya dalam sebulan gw harus menulis.
 Karena menulis ini adalah salah satu meditasi terbaik agar gw tidak meledak.

Jadi, inilah tulisan pertama gw di tahun 2018!! 

Cheers,
Ai
Share:

August 26, 2017

July 15, 2017

I Will Never Let it Go

Kindness.
It is what we need to be a happiest person in this planet and insyaAllah in the afterlife as well. 

I am tryin, tryin really really hard to be a better human and muslimah. 

It is not that easy to wear this hijab, if you wear a hijab, everyone thinks you must be a good muslimah. But it is not as simple as that. We are just a human being, who have many sins, did many mistakes accidentally or intentionally.

If we did things wrongly is just because of ourself, it is not because of our religion. I wears hijab but it does not make me a perfect muslimah in an instance.  If I did a mistakes then don't blame my religon, don't point your finger to my religion. It is all because of me, a human being.

I always heard "seriously?? she wear a hijab but she did those sins? What kind of bi*ch". You know what? It is so mean to said and so cruel to heard. So don't blame my hijab nor my religion, just blame me.

As a person I have choosen many wrongs way, indeed. But I tried and I am still trying to be a better person and muslimah. Experiences make us wiser, mistakes make us learn and time will make a peace by itself. 

Have a peace with ourself is really a hardest thing to do. Accept what we are, accept yourself as you are.

Nowadays we see many signs of the end of the world or armageddon. We live on the edges. So what are we waiting for people? We live in this temporary dunya only for once, I always believe there are no such thing like a reincarnation. We live forever in jannah or in hell. 

Anyway, I don't really understand if hell is temporary or not, if I'm not wrong, in my religion I understand that sinners will burn or get punishment  in hell untill our sins is clear and then we can go to the heaven or jannah, but we don't know how much times we will spend in the hell. 

Back to topic, it would be better if we live together in harmonius sorroundings, lean on each others. Difference should makes us more bonded. Unity in diversity, appreciate the difference and others opinion. Don't just consume it rarely but proceed it first. 

Don't let ourself to be provocated by a bullshit(s). Just ignore mean words and spread the nice words, good gestures and spread the love!

I am still tryin to do all those things. It is so hard. But I am tryin for the sake of our live, our planet and our kindness. A human being. 

Happiness, kindness, helping, available ears to hear others opinions and hands to help.. 

I will always try to be a kinder and a happier person and trying really hard to have a peace with me. I will never let a pure kindness away from me, won't let it go even in the darkest place ever. Kindness will makes us happier and it is a good way to start and continue a live!





*saat insomnia menyerang saat itu juga ide berebutan ingin diketik*
Share:

June 15, 2017

Jakarta Chaos -Part 2-

Tulisan ini adalah sambungan dari cerita sebelumnya, refresh dulu yuk click me!


Seketika Ia terjerembab ke depan dan kepalanya membentur sesuatu yang keras. Tangannya meraba-raba dalam kegelapan mencari pegangan untuk berdiri. Di pelipis kirinya Ia merasakan cairan hangat mengalir perlahan sampai ke pipinya. Ia hanya berusaha untuk segera berdiri karena panik dengan apa yang baru terjadi. Ia masih belum tau benar apa sebenarnya yang sedang terjadi, tidak lama kemudian lampu darurat dalam bus menyala.

Penumpang lain yang terjatuh-pun banyak yang sudah bisa berdiri lagi. Keadaan panik mulai terjadi di dalam bus Trans, lalu Alinka mencoba membantu si bapak teman seperjalanannya untuk berdiri. Tak lama kemudian tercium bau asap dari bagian belakang Trans, penumpang pun semakin panik. Mereka takut mesin bus Trans terbakar, akhirnya para penumpang mulai berteriak. Mereka meminta pintu segera dibuka agar bisa keluar dari dalam Trans. Kondektur mencoba menenangkan penumpang yang panik dan lampu dalam bus kembali menyala normal, diiringi dengan suara mesin bus yang menyala kembali. 

Ternyata ledakan yang terdengar adalah suara dari ban Trans yang bocor dan sang supir tidak bisa mengendalikan bus karena kaget sehingga Ia menabrak pembatas jalan. Dan bau asap yang menyerupai bau karet terbakar adalah hasil dari letusan ban yang bocor. Kondektur pun memberitahu kepada penumpang bahwa mereka akan dipindahkan ke bus yang ada di belakang karena bus yang mereka tumpangi sudah jelas tidak bisa melanjutkan perjalanan. 

Alinka lalu berpikir “wah kalau dipindahkan pasti bakal lama karena Trans belakang pasti penuh jg.” Ia pun berpikir untuk turun saja dari bus dan naik kendaraan lain, karena dia sudah cukup lelah dan kepalanya sedikit pusing setelah membentur sesuatu tadi. Banyak penumpang lain minta diturunkan saja walau sebenarnya tidak diperbolehkan dengan peraturan TransJakarta tetapi karena keadaan sedang darurat akhirnya kondektur dan supir membolehkan penumpang untuk turun dari bus.

Saat sedang berpikir akan bagaimana cara agar Ia bisa segera pulang, ada seseorang menepuk pundak Alinka. “Mba, maaf itu kepalanya berdarah. Ini coba pakai ini, bersih kok.” Seorang pemuda sembari menyerahkan handuk kecil seukuran sapu tangan. “Hah? Masa?” tanya Alinka, lalu Ia meraba pelipis yang ditunjuk pemuda itu. Benar saja ada cairan merah di jari-jarinya yang meraba-raba pelipisnya. Ia sedikit panik. “Tapi kayanya sudah berhenti pendarahannya, tapi ambil aja ini mba buat bersihkan sementara.” Kata si pemuda sambil memberikan handuk kecil tersebut. Alinka masih bingung, Ia baru merasakan rasa sakit di luka tersebut serta denyutan keras di kepalanya karena sakit tersebut. Ia pun menerima pemberian pemuda tersebut lalu segera membersihkan noda darah di mukanya. “Mending kamu turun aja terus obatin lukanya ya.” Si bapak memberikan saran. Si pemuda pun mengiyakan saran si bapak.

Tanpa pikir panjang Alinka pun turun dari bus mengikuti penumpang lainnya setelah berterima kasih ke si bapak dan si pemuda. Ia turun melalui pintu depan lalu segera menyebrang ke trotoar. Jalanan saat itu sudah sangat macet parah sehingga dengan mudah Ia melangkah dari jalur TransJ ke trotoar. Hujan masih setia menemani malam yang melelahkan ini. Lalu kembali ada yang menepuk pundak Alinka lagi, ternyata pemuda yang tadi. “Mbak, saya punya plester luka nih kalau mau buat sementara, mau gak?” ujarnya. Alinka mengangguk saja lalu si pemuda merogoh tas ranselnya mencari plester luka. Lalu Ia memberikan kepada Alinka, dan ia bertanya “mau saya yang pasangin gak mba? Kan kalau pasang sendiri gak tahu letak lukanya dimana?” Alinka pun kembali hanya mengangguk saja. Dia hanya pasrah diberi bantuan oleh orang asing. Selesai memakaikan plester ke Alinka pemuda itu bertanya lagi “rumahnya dimana mbak?” “Di Ciputat, mas dimana?” Alinka balik bertanya sekedar basa basi. “wah searah dong, saya di Lebak Bulus mbak.” jawab pemuda itu cepat.”Terus sekarang pulangnya mau gimana mbak? Kata teman-teman saya macet dimana-mana soalnya ada pohon tumbang di banyak tempat terus ada yang kebanjiran juga.” lanjut si pemuda tsb. “Waduh, yang bener mas? Yah gimana dong? Mas sendiri pulangnya gimana?” tanya balik Alinka. “Nah saya juga msh bingung, ini lagi nunggu jawaban teman saya yang naik kereta, semoga aja kereta lancar ya. Kalau naik kereta saya niat turun di stasiun Pondok Ranji terus nginep di rumah kakak Saya dekat situ.” jawab si pemuda.

“Ooh naik kereta ya, boleh jg sih tapi saya ga ngerti naik kereta mas.” balas Alinka. “Kalau mau bareng saya aja mba, nanti dari Stasiun Pdk Ranji naik ojek aja ya, nih teman saya sudah balas katanya kereta aman. Nah sekarang Saya mau ke Stasiun T. Abang, tapi dari sini ke stasiunnya saya bingung naik apa?” si pemuda berkata. “Kalau naik ojek berapa lama mas?”tanya Alinka. “hhhmm sekitar 20 menitan mba kalau ga macet.” Sahut si pemuda. “Tuh ada minimarket mbak, mending bersihin lukanya dulu sembari mikir pulangnya gimana” lanjut si pemuda. Alinka hanya mengangguk saja, dia sedang bingung dan tidak bisa berpikir karena rasa sakit dan lelahnya. Alinka disuruh duduk di salah satu meja di luar minimarket sedangkan si pemuda masuk ke dalam minimarket tsb. 

Setelah beberapa menit si pemuda membawakan sebuah plastik berisi plester dan obat luka beserta dua paper cup berisikan hot chocolate. “nih mbak diminum dulu biar tenang sedikit.” Kata si pemuda. Lalu dia membuka kemasan obat luka dan menawarkan untuk membantu membersihkan luka Alinka, namun ia menolaknya tapi akhirnya mau karena merasa kesulitan mengobati luka sendiri tanpa menggunakan cermin. “Mas, makasih banyak lhoh, Saya sampai lupa bilang, sudah bantu saya dari pas di Trans sampai sekarang. Maaf ngerepotin banget, oya nama mas siapa ya?” tukas Alinka tiba-tiba. “iya gak apa-apa mbak, saya ikhlas kok, apalagi ceweknya cantik kaya mba, nama saya Sakhi mba, boleh tau nama mba?” balas Sakhi sembari tertawa pelan “oooh nama saya Alinka mas.” Jawab Alinka lugas.

Mereka mengobrol sembari mencari solusi agar bisa pulang ke rumah masing-masing. Mereka pun memutuskan pulang menggunakan taksi bersama, karena jika m
enggunakan kereta pasti padat penumpang jam segini. Mereka pun segera mencari taksi dan langsung dapat. Di perjalanan mereka saling berbicara mengenai kegiatan sehari-hari, Alinka tidak merasa canggung lagi karena dia percaya Sakhi pemuda yang baik. Di perjalanan Alinka beberapa kali tertidur karena kelelahan, Sakhi juga sebetulnya mengantuk tapi dia tetap terjaga agar supir taksinya tidak salah arah. Alinka sempat memberitahu dimana rumahnya lalu Sakhi memutuskan mengantarnya terlebih dahulu walau lokasi rumahnya mengharuskan dia untuk turun duluan dibanding lokasi rumah Alinka. Dia merasa Alinka sudah tidak ada tenaga buat menunjukkan arah jalan rumahnya. Walaupun pemuda ini juga tidak tahu persis lokasi rumah Alinka.

Ketika sampai di jalan rumah Alinka, Sakhi membangukan Alinka untuk menunjukkan dimana lokasi persis rumahnya. Akhirnya Alinka sampai di depan rumah itu, ia berkali-kali mengucapkan terima kasih ke Sakhi. Membuat pemuda itu jadi tidak enak hati takut niat baiknya disangka memanfaatkan keadaan. “lain kali boleh saya mampir ke sini mba? Celetuk Sakhi. Alinka hanya tersenyum tipis dan melambaikan tangannya serta berjalan menuju ke rumahnya tanpa pernah menoleh ke belakang. Sakhi pun merasa ini terkahir kalinya ia melihat rumah tersebut atau gadis itu. Padahal Ia berharap bisa ke rumah itu lagi suatu saat untuk menemui Alinka.

Perjalan malam ini menghabiskan waktu hampir tiga jam untuk tiba di rumah Alinka, sebuah perjalanan waktu yang luar biasa pada malam itu, Jakarta benar-benar chaos sekali. Alinka pun langsung tertidur lelap, berharap besok pagi Jakarta lebih bersahabat.

P








S:Penulis:
.:RR:.


Share:

Cerita Pembuatan e-KTP yang Hilang

Tanggal 01 Juni 2017 untuk pertama kalinya dalam hidup gw kehilangan sebuah benda, benda itu adalah benda berharga yang berisikan kartu-kartu penting, dompet! Alhamdulillah gw seumur-umur belum pernah kecopetan, dijambret, kehilangan handphone dsb. Tetapi di awal bulan Ramadhan gw harus ikhlas dapat cobaan seperti ini. Gak perlu gw ceritain kronologis kehilangan dompet nya ya, karena yang menjadi sorotan gw di sini adalah tentang e-KTP atau Kartu Tanda Penduduk-elektronik.


Setelah membuat Surat Keterangan Kehilangan di Polres Kelapa Gading, esoknya gw mulai berurusan dengan bank-bank terlebih dahulu untuk membuat kartu debit. Lalu minggu depannya baru berencana mengurus e-KTP. Gw agak malas urus e-KTP karena kelurahannya jauh, rumah gw di Tangsel tapi e-KTP gw terdaftar sebagai warga Jakpus, kebetulan di sana ada rumah almh. nenek. Akhirnya diputuskan Senin pagi sehabis sahur gw mau langsung jalan ke Bendungan Hilir. Lucky me! papa mau nganterin karena sekalian beliau mau check-up di RSAL Mintohardjo.

Pertama gw ke rumah ketua RT yang posisinya dekat banget dengan rumah nenek, dimana rumah nenek gw itu hanya bisa gw pandangi dari jauh. Ketemu lah dengan pak RT yang sebelumnya sudah gw hubungi untuk membuat janji dan maksud kedatangan. Pak RT nya ramah dan cukup membantu, Sebelumnya ada percakapan gw dengan papa mengenai memberikan tips sebagai rasa terima kasih ke pak RT. Gw sih tadinya gak mau karena gw pikir itu bagian dari pekerjannya, tetapi kata Papa, pak RT itu gak digaji. Hoo oke lah gw kasih kalau begitu, lagian juga gak seberapa. Beda kasusnya saat mengurus SKK di polres, gw udh mengingatkan temen gw untuk jangan memberikan uang tips sama sekali, karena itu adalah bagian dari pekerjaannya. Tetapi tetep lah temen gw memberikan tips, mana gede banget, gw jadi emosi seketika, secara itu ga etis buat gw pribadi. Tau sendiri kan kalo ngurus SKK polisi tuh suka lama (pengalaman gw-gatau kalau polisi lain) lama ngetiknya, nanya-nanya nya (oke lah kalau nanya-nanya lama gpp) tapi kan mereka suka banget salah-salah ketik gitu, Udah memberikan tips gede tapi cuma dikasih 1 SKK berlegalisir dan tampaknya gw harus balik lagi ke sana untuk meminta SKK legalisir guna keperluan mengurus kartu lain  yang hilang.


Setelah dari pak RT gw langsung ke Kelurahan, karena memang diinfokan tidak perlu tandatangan ketua RW lagi. Pak RT menginfokan kelurahan buka jam 08.00 tetapi ternyata dari jam 07.30 sudah buka dan sudah ada petugas yang bekerja, juga ada pasukan orange yang sedang apel pagi. Gw ditemui oleh seorang petugas pria dan langsung menanyakan kok gak ditandatangani ketua RW, gw jawab karena instruksi dari pak RT adalah langsung saja ke kelurahan. Lalu beliau membalas dengan 'lhoooh kok pak RT gak tau kalo harus ke RW dulu, nanti saya tegur deh". Gw timpali dengan "ya mungkin pak RW nya masih ngantuk pak abis sahur belum tidur. hehe" Jadilah bapak itu melihat Kartu Keluarga gw dan mulai deh nanya-nanya gak penting, seperti "lhoooh udh lulus kuliah saya pikir masih anak kuliahan" "lhoooh kok belum kawin, cakep2 gini, udah umurnya tuh" "hooo lahirnya jauh yaaa" zz gw tanggepin dengan cengar cengir kuda aja. Intinya si bapak itu menjelaskan gw harus ke rumah ketua RW dulu dan gw gatau rumahnya dimana, namun berkat kehebatan kang Uber Motor sampai lah gw di rumah RW.






Sampai di sana rumahnya sepi, ada nenek dengan rambut beruban keluar dan gak tau dimana pak RW, entah lagi tidur atau sedang keluar katanya. Kata nenek itu dititipin aja dokumen yang mau ditandatangan, gw menolak, yang ada dokumen gw bisa ilang nanti, gw tanya aja memangnya tidak bisa diwakilkan oleh yang lain. Beliau menyarankan kalau gw sebaiknya ke rumah sekretarisnya saja di gang sebelah, saat itu gw lagi puasa, udah lemes bgt sih sebenernya, tetapi untung cuaca tidak terlalu panas. Gw jalan ke rumah sekretaris dan langsung ketemu beliau dan kami kembali lagi ke rumah pak RW dan langsung dieksekusi surat gw. Dalem hati gw mendesah emang gak bisa ditelfon aja apa biar gw gak mondar mandir. Lelah bang lelah, ngurus ginian sendiri baru pertama kali, biasanya diurusin, seketika gw jadi merasa lebih dewasa bisa ngurus perintilan begini, secara bisa ditemenin mama kalo begini. haha. Bapak sekretaris itu cukup baik untuk mengingatkan gw agar mengcopy dulu semua berkas.





Kembali lagi gw ke kantor kelurahan, ketemu bapak yang tadi dan berkas gw diambil. Berkas-berkas itu terdiri dari:

1. SKK asli dari polres/polsek

2. Fotocopy Kartu Keluarga

3. Surat pengantar RT dan jangan lupa wajib ditandatangani RW

4. Fotocopy e-KTP lama


KTP lama gw sudah yang elektronik tetapi masih ada tulisan masa berlaku, walaupun secara sistem sudah tercatat dengan berlaku seumur hidup, jadi memang baiknya sekalian diganti kata petugas. Tetapi permasalahannya seperti yang sudah kita ketahui, ada kasus korupsi pada penyediaan blanko e-KTP yang sekarang tersangkanya masih dalam masa persidangan. Jadi akan memakan waktu untuk proses nya, untuk sementara akan dibuatkan resi e-KTP. Gw bertanya kapan jadinya e-KTP, apakah akhir tahun ini? kata petugas diusahakan bulan Agustus karena blanko nya sedang proses cetak. Heran masih aja ya ada koruptor udah tahun 2017, masih aja mau makan yang bukan hak-nya, akhirnya kepentingan bersama jadi terganggu. Dan KTP gw sekarang dari HVS -____-

Setelah berkas gw di bawa ke dalam, lalu menunggu beberapa saat dan gw dipanggil untuk tanda tangan, tidak perlu foto lagi, padahal gw ngarepnya bisa foto supaya update aja gitu. Ternyata yang mengecewakan resi nya itu tidak bisa langsung diambil, harus diambil besok jam 07.00. Gw udah khusus cuti kerja hari ini buat mengurus e-KTP, ya kali besok gw harus ke sini lagi buat ambil resi doang. Gw gak ngerti apa susahnya itu resi langsung dicetak. Gw putuskan untuk diwakili kakak gw aja mengenai pengambilan resi, karena kebetulan kantor kakak dekat daerah benhil.

Begitulah proses pembuatan e-KTP sudah tidak terlalu ribet seperti dulu, tapi apa gunanya elektronik-nya ya? elektronik itu bukannya untuk mempermudah warga dengan sistem data online dsb. Di sini kita masih harus mondar mandi menghadapi birokrasi.


INDONESIA AYO MAJU!!



Share:

January 27, 2017

Ujung Kulon

Di Ujung Kulon, Banten terdapat banyak pulau yang cantik dan juga pulau lainnya yang lokasinya agak tersembunyi serta memerlukan perjuangan ekstra untuk mengunjunginya. Jarak tempuh yang cukup jauh dan terpencil itulah yang mungkin masih menjadi faktor penjaga keindahan alami pantai tersebut.

Pada tanggal 23-25 Desember 2016 gw bersama kakak dan teman-teman mengikuti open trip dari travel yang tidak gw rekomendasikan ngetripmulu.com, nanti akan diceritakan alasannya. Kami berencana untuk snorkeling di Pulau Peucang dan Badul, lalu ke Padang Rumput Cidaon dan ke Pulau Handeleum untuk bersampan di Sungai Cigenter.

Travel yang kami gunakan saat itu memang tidak cukup memuaskan, karena dari awal perjalanan saja mereka sudah mengecewakan. Pertama, saat kumpul di meeting point Plaza Semanggi waktu keberangkatan sudah sangat terlambat. Direncanakan berangkat pukul 21.00 tetapi mundur sampai pukul 24.00 dikarenakan bus pariwisata kondisinya tidak prima, seharusnya kan sudah dicek jauh dari sebelum waktu keberangkatan. Akhirnya kami terlunta-lunta di pelataran Plaza Semanggi, sampai akhirnya diminta  dengan baik oleh security untuk menunggu di tempat lain karena hari sudah malam sekali. Selama perjalanan menuju desa Sumur gw habiskan dengan tidur dan yang gw sesalkan adalah kenapa tidak kepikiran untuk membeli obat anti mabok sebelumnya. akhirnya kami tiba sekitar pukul 07.00 di Desa Sumur.

Setelah mendaratkan kaki di rumah Captain Komodo, kapten kapal kami yang membuat perjalanan jadi menyenangkan, kami disuguhkan sarapan nasi uduk dan segera setelah selesai sarapan kami berjalan kaki ke pantai untuk menyeberang naik kapal ke Pulau Peucang. Ternyata waktu tempuhnya lama sekali sekitar 3-3.5 jam dan saat itu cuaca sedang tidak bersahabat dan ombak cukup tinggi, alhasil gw sukses jackpot dua kali. Di saat inilah gw sangat merindukan antimo dan mengutuk kebodohan gw karena gak kepikiran sama sekali untuk membelinya. Sepanjang perjalanan di kapal gw pusing parah dan bener-bener gak bisa menemukan posisi yang nyaman. Untung kantong plastik selalu tersedia.

Tepian pantai di Desa Sumur

Tempat menyeberang kapal di Desa Sumur


Akhirnya sekitar pukul 11.00 kami tiba di Peucang dan juga masih disambut dengan hujan deras, kami berlari menuju penginapan yang sangat jauh dari kata layak. Hal kedua yang membuat kami kecewa dengan travel ini. Kami heran kenapa diberikan fasilitas penginapan seperti ini, apakah memang biaya kami untuk paket yang sangat tidak layak ini. Setelah beberes dan beristirahat kami kembali menuju kapal, dan oleh Omen travel guide dari ngetripmulu.com kami diberikan pilihan untuk trekking di sekitar Honje atau langsung snorkeling, kami memilih pilihan yang kedua, entah karena memang kami pemalas semua untuk jalan kaki atau oh mungkin karena hujan, takut jalanan licin dan jadi berbahaya. Hal ketiga yang membuat kami paling kecewa dengan travel ini adalah tidak adanya inisiatif dari guide untuk membuat trip ini menjadi lebih menyenangkan dan nyaman.



Panorama Pulau Peucang


Tiba di snorkeling spot, kami langsung nyebur setelah diberikan beberapa pengarahan. Mungkin karena faktor cuaca yang tidak mendukung, pemandangan alam bawah laut tidak terlalu terlihat keindahannya dan sayang sekali banyak batu karang yang mati, mungkin sebagian besar juga karena snorkel amatir seperti kami yang tanpa sadar suka menginjaknya. Saat itu hujan masih turun dan kami terus snorkeling berharap akan menemukan ikan-ikan cantik dan coral reef yang menggoda mata. Tapi usaha kami tidak terlalu sukses, jadi setelah beberapa jam kami kembali ke kapal karena hari juga sudah mulai sore. 




Setelah bebersih di penginapan gw dan teman-teman kembali ke kapal, karena memang suasananya lebih nyaman di kapal daripada di penginapan dan kapten kapal juga cukup baik. Sesudah melahap bersih satu mie instan, ngobrol-ngobrol dan mendengarkan lagu gw pun langsung terlelap di kapal, emang dasar pelor. Ternyata yang lain pun juga ikut tertidur dan bangun-bangun gw kaget karena banyak kecoa kecil berkeliaran di badan kapal di atas kepala gw, dan  tas gw yang ternyata terbuka resletingnya dimasuki oleh kecoa-kecoa kecil. Panik dan langsung kabur dari kapal. Dari awal tidur ternyata gw sudah diketawain oleh mereka katanya bisa aja gw tidur banyak kecoa begitu, lah mana gw tau kalau ternyata kecoa aja mau deket-deket sm gw.

Makan malam pun siap dihidangkan, kami santap dengan sukarela dan hati yang berbahagia. Masakan karya captain  yang juga bisa beralih profesi menjadi chef ini cukup enak, namanya lelaki yang biasa hidup di atas kapal jadi ya harus terbiasa untuk bisa masak. Dua sampai tiga jam waktu sudah berlalu di kapal, lalu kami kembali ke penginapan dan gw sudah berencana untuk langsung tidur. Ternyata ada ajakan bermain kartu di penginapan dekat situ, gw iya-iyain aja tanpa ada niatan untuk benar-benar datang. 


Esok hari, pagi-pagi kami sudah beres packing dan menaikkan barang-barang ke kapal. Sambil sarapan di kapal, kami berangkat ke Cidaon untuk berkeliling di padang rumput yang konon katanya kami bisa melihat hewan-hewan liar secara dekat, seperti sapi, banteng, kerbau, bahkan terkadang ada badak bercula satu. Namun yang kami lihat hanya kotoran-kotoran hewan tersebut,, yaa mungkin sapi. Ternyata sudah lama kata penduduk sekitar hewan tersebut tidak terlihat, sangat susah ditemui saat ini. Akhirnya kami bermain-main dan berfoto-foto saja di Cidaon. 




Dilanjutkan dengan perjalanan ke Handeleum untuk bersampan di Sungai Ciganter. Sejujurnya bersampannya biasa-biasa saja, tidak ada pemandangan yang terlalu menarik, ya mungkin keindahan sudah tidak seperti dulu, seperti keindahan yang dulu pernaha ada.




Lanjut kami mampir di pulau Badul untuk snorkeling, tadinya gw dan teman-teman udah malas untuk basah-basahan lagi. Tetapi saat melihat birunya laut dan cuaca yang cerah gw langsung mengurungkan niat gw. Ternyata di Badul baru saja dilakukan coral reef recovery, jadi batu karang tersebut baru ditanam kembali untuk terus menjaga dan mengembangkan keindahan biota di bawah laut. Ikan-ikan di pulau tersebut juga lebih banyak dan lebih cantik. Di dekat Badul, ada pulau kecil yang gw kira bisa dicapai dengan berenang, ternyata belum ada separuh perjalanan gw udah ngos-ngsoan dan langsung balik kanan siap grak. Setelah puas, kami kembali naik ke kapal dan segera melanjutkan perjalanan pulau ke Desa Sumur. Di perjalanan pulang ini gw sukses nggak jackpot, mungkin karena banyak singgah di beberapa tempat, sehingga perjalanan jadi terasa lebih menyenangkan.




Perjalanan menuju Jakarta menggunakan bus pariwisata yang sama saat kami berangkat, lalu kami makan malam di restoran lokal pinggir jalan dan sudah tidak termasuk biaya dari travel ini. Sekitar pukul 24.00 kami tiba di Plaza Semanggi dan langsung kembali ke rumah masing-masing.




Share:

November 18, 2016

Pulau Harapan

25 Maret 2016 terjadilah piknik lainnya ke pulau seribu bersama sahabat gw dan teman-teman kantornya. Ya gw sih seperti biasa nebeng rombongan piknik orang lain dan diasikin aja. Seperti biasa kalau piknik ke Pulau seribu paling hanya memakan 2 hari 1 malam dan pilihan kali ini jatuh ke Pulau Harapan, dengan alasan karena peserta piknik rata-rata para jomblos yang tidak pernah putus harapan. haha

Malam sebelumnya tanggal 24 Maret,  gw memang sudah berencana setelah pulang dari kantor untuk menginap di kos Putri, agar perjalanan pagi hari ke Pelabuhan Muara Angke bisa dilakukan bersama-sama. Setelah shalat Subuh hari itu, tanpa mandi untuk efisiensi air dan waktu (alias malas) karena malamnya sebelum tidur sudah mandi, kami janjian dengan salah satu teman kantornya Putri di 711 daerah Benhil. Mereka saling memanggil nama de,ngan sebutan "Jon" yang samapai sekarang gw mash gak paham artinya apa. Lalu dengan menggunakan Uber kami menjemput teman lainnya di daerah Sarinah. Nah temannya yang satu lagi ini namanya Erick, seorang cowok ganteng yang merupakan teman dekatnya Putri, tetapi sayang kalau lagi makan bikin ilfeel karena gak bisa mingkem. Erick ini punya nama asli kalau gak salah Furqon, gw juga gak paham darimana panggilan Erick ini bisa muncul. Sejauh yang gw kenal dia sangat care dengan Putri (otomatis jadi care sama gw juga) baik dan bisa diandalkan untuk melindungi kita wanita-wanita yang rapuh (hatinya) hehe.

Kira-kira sekitar pukul 08.00 WIB kami sudah sampai di Angke dan menunggu rombongan lainnya serta kejelasan bisa naik kapal jam berapa. Kalau tidak salah saat itu kami totalnya lebih dari sepuluh orang  yang terdiri dari teman-teman kantornya Putri dan temannya itu membawa teman lagi. Karena anggota kita banyak jadi seingat gw jumlah biaya piknik ini tidak terlalu mahal dan relatif lebih murah. Kurang tahu saat itu kami menggunakan jasa trip darimana dan juga gw gak perlu mikirin karena gw hanya anggota piknik yang tinggal terima jadi.

Kebetulan gw baru pertama kali ke Pulau Seribu menggunakan Kapal Kelotok macam ini. Ternyata seru juga, terlalu seru malah. Untuk sampai ke kapal tujuan, kami harus menyeberang di antara kapal-kapal. Lompatan dari penyeberangan yang dilakukan juga cukup jauh, hal ini cukup sulit buat orang yang careless dan clumsy macam gw, apalagi gw sedikit takut dengan ketinggian. Jadilah si Eric yang rajin menolong kita, lebih banyak menolong Putri sebenarnya, karena walaupun begini-begini juga kan gw ingin terlihat strong.

Setelah sampai di kapal tujuan kami langsung mencari best spot untuk ngampar, karena kapal ini tidak menyediakan tempat duduk, kami semua lesehan di dalam kapal. Kapal ini dua tingkat, saat itu kami menempati deck yang atas.

Jadi Sarden Kaleng

TKI Siap Dikirim

Kami hanya tidur-tiduran, mendengarkan musik atau mengobrol dengan teman-teman selama perjalanan. Kurang lebih untuk sampai ke Pulau Harapan menggunakan kapal kelotok membutuhkan waktu sekitar 3-3.5 jam. Setibanya di Pulau kami langsung bahagia karena mendapatkan Vitamin Sea dan disuguhkan pemandangan yang memanjakan mata.

Disambut oleh Luasnya Laut



Selama di sana kami menginap di rumah penduduk yang dimana SIM card gw dari provider Halo tidak bisa mendapatkan signal 2G, 3G dan 4G sama sekali (masalah penting abad ini), harus ke pinggir laut atau saat snorkeling baru kami mendapatkan signal. Rumahnya cukup nyaman, terdiri dari dua kamar ber-AC, dua toilet dan satu ruang tamu serta ruang TV/ruang makan. Sesampainya di rumah penduduk (tentu saja pemilik rumah aslinya ngungsi dulu) kami langsung disajikan makanan yang sangat enak menurut gw. Ikan besar-besar yang dibumbu kuning, ikannya masih segar banget, lalu ada sayur-sayuran dan buah-buahan. Kami di sana juga tidak perlu repot mencuci piring, kalau sudah selesai cukup diletakkan di teras rumah dan akan diambil oleh yang bertugas. 

Setelah berisitirahat sejenak lalu mengatur pembagian kamar dan merapihkan barang-barang, kami langsung menuju laut untuk snorkeling di beberapa pulau. Walaupun ini pengalaman snorkeling pertama gw tidak merasa takut karena gw juga memang cinta pantai, laut dan air daripada harus ke pegunungan yang berada di dataran tinggi dan dingin. Gw punya satu tips jitu, kalau lagi snorkeling jauhilah tipe teman yang gampang panik di dalam air, kalau dekat-dekat niscaya snorkeling kita akan jauh dari kata damai. Gw gak paham apa yang harus dipanikin, karena kan kita sudah tahu kalau mau snorkeling dan itu pilihan kita sendiri bukan paksaan dari orang lain, jadi kita seharusnya sudah mempersiapkan mental dan tidak usah panik, juga tidak usah takut tenggelam karena menggunakan pelampung dan tabung oksigen, InsyaAllah semua aman kalau sebelumnya kita sudah berdoa dan mengecek keamanan peralatan. 

Begitu perahu berlayar, semilir angin yang menerpa muka terasa sejuk sekali, walaupun matahari sangat menyengat, tetapi gw sangat menikmati perjalanan di perahu saat itu. Lalu kami sampai di pulau pertama (yang gw lupa namanya) lalu kami langsung memakai peralatan snorkeling dan nyebuuuuur. Melihat pemandangan bawah laut, ikan-ikan yang cantik, terumbu karang yang indah serta mencicipi asinnya air laut. Wajar aja kakak ke-2 gw sangat kecanduan snorkeling. ternyata rasanya emang bikin candu. Laut itu candu. Gw langsung berenang agak menjauhi kawan-kawan lain agar bisa menikmati momen itu sebaik-baiknya. Sampai diteriakin anak ilang sama yang lain karena sendirian saja. Tetapi kalau ada momen foto-foto langsung join gak mau ketinggalan dong.





Setelah puas main di Pulau pertama kami menaiki perahu lagi dan melanjutkan perjalanan ke pulau berikutnya. Agenda di pulau ke-2 tidak berbeda jauh dengan di pulau pertama. Lalu di pulau ketiga, yang kalau tidak salah namanya Pulau Gosong, di sana kami boleh melepaskan pelampung karena lautnya cukup dangkal dan didasari oleh pasir putih yang halus. Cantik sekali.




Sangat disayangkan karena sampai saat ini gw belum menerima hasil dari foto-foto underwater. Maklum aja Putri sibuk banget sampai-sampai gak sempet cuma buat copy file foto dari teman-temanya. Seharusnya di sini bisa menampilkan hasil foto-foto dari terumbu karang dan gaya-gaya norak gw dari dalam air. hehe.

Setelah puas ber-snorkeling-ria kami melakukan pemberhentian di sebuah Pulau peristirahatan yang sudah ramai oleh wisatawan lainnya. Di Pulau tersebut kami disuguhkan aneka makanan yang bisa dibeli, seperti jagung bakar, aneka pop mie dan aneka gorengan yang mungkin karena kami capek dan lapar jadi semua rasanya enak di lidah. 

Landscape di Pulau Peristirahatan

Sekitar 1-1.5 jam di Pulau tersebut, yang sebagian besar waktunya kami habiskan untuk berfoto dan bermain ayunan, akhirnya kami kembali lagi ke perahu untuk segera pulang ke rumah penduduk. Malam itu ada agenda kami adalah makan malam fresh seafood di tepi pantai. Sesampainya di rumah kami langsung mandi secara bergiliran, karena kalau mandinya ramai-ramai niscaya tidak akan selesai-selesai mandinya. Lalu kami beristirahat di kamar dan menunggu hingga waktu makan malam tiba. Karena gw pelor parah waktu beristirahat di kamar itu gw jadikan waktu tidur juga, lalu gw dibangunin putri dan entah kenapa gw bangun dengan kaget dan akhirnya ditertawai hampir semua orang di rumah. Setelah menikmati makan malam gw dan Putri ingin kembali duluan ke rumah, tetapi di perjalanan pulang kami nyasar, mana cuma berdua dan suasana cukup gelap. Cukup lama kita mutar-mutar di pemukiman mencari jalan pulang, kembali lagi ke jalan awal, lalu masih saja nyasar, akhirnya setelah beberapa saat kami bertemu anggota piknik yang lain, jadilah kami selamat serta damai sentosa sampai rumah dalam keadaan utuh.

Esok paginya, 26 Maret, agenda kami setelah sarapan adalah ke penangkaran penyu di Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu. Cukup berjalan kaki selama 20 menit dari rumah dan sampai lah kami di sana.




Saat melihat penyu-penyu yang lucu ini tentu saja gw menjadi gemas dan ingin menggendong. Tetapi gw baru tahu setelahnya dari artikel di internet bahwa sebaiknya Penyu itu tidak tersentuh panas tangan dari manusia. Jadi maafin ya Penyu yang udh gw gendong jika merasa tidak nyaman.

Selesai bermain dan berfoto di Penangkaran Penyu kami kembali ke rumah penduduk dan segera mengambil barang-barang yang sudah dirapihkan sebelumnya lalu mengantri untuk menaiki kapal, dan pulang ke habitat masing-masing.

Saat itu gw sudah tidak sabar untuk segera pulang, karena malam harinya akan bertemu dengan orang yang selama itu sudah sangat ingin gw temui. 


Adios!









Share: